in

PIP Semarang Perlu Kolaborasikan Sistem Pembelajaran-Pengasuhan

Anggota Komisi V DPR RI, Sudewo. (Foto : DPR.go.id)

 

HALO SEMARANG – Anggota Komisi V DPR RI, Sudewo, menilai kolaborasi sistem pembelajaran dan sistem pengasuhan, merupakan poin penting yang perlu diterapkan sekolah kedinasan, seperti Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, untuk menghindari kekerasan siswa.

Menurutnya, pengajar tidak boleh berfokus pada proses belajar mengajar saja, melainkan juga pengasuhan, di mana proses ini berperan dalam membentuk kepribadian dan karakter siswa didik.

Hal tersebut disampaikan Sudewo, dalam pertemuan Komisi V DPR RI dengan jajaran Kementerian Perhubungan dan Direktur Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, dalam rangkaian kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI ke PIP Semarang, Jumat (17/9).

Saat ini, Sudewo menganggap kolaborasi sistem tersebut belum diterapkan sebagaimana semestinya oleh PIP Semarang, sehingga hal ini dianggap menjadi salah satu penyebab kekerasan yang terjadi hingga menimbulkan korban nyawa.

“Jadi selain recruitment, proses ini menjadi sesuatu yang penting. Tadi dikatakan pengasuh hanya 30 orang (pengasuh), berbanding dengan 1.619 taruna. Itu saya anggap belum proporsional. Ini perlu diteliti semua. Satu pengasuh, harus mengasuh sekian orang. Kalau memang itu masih kewalahan, ya perlu ditambah. Tidak hanya masalah jumlah pengasuhnya, tetapi juga pola-pola pengasuhannya. Cara-cara pengasuhan adalah sesuatu yang penting,” jelasnya.

Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI ini pun, berharap kejadian kekerasan yang hingga menimbulkan korban nyawa, tidak terulang pada seluruh kampus di bawah naungan BPSDM Kemenhub.

“Ini mudah-mudahan kejadian yang terakhir di lingkungan kementerian perhubungan, tidak hanya di sini, tapi seluruh kampus di bawah naungan BPSDM Kemenhub jangan sampai terjadi kembali,” terangnya.

Sudewo pun menjelaskan bahwa ia memiliki harapan tinggi agar seluruh kampus di bawah naungan BPSDM Kemenhub dapat merebut pasar-pasar internasional. Sehingga, ia meminta Kemenhub untuk melakukan peningkatan terhadap siswa dalam hal skill dan ability. Ia juga mengingatkan kembali keinginan Presiden Jokowi dimana pemerintah akan fokus terhadap kemampuan sumber daya manusia.

“Kalau memang sampai sekarang belum siap, saya ingin dibuka anatominya secara menyeluruh. Faktor-faktor yang menghambat harus didiskusikan, entah sarana prasarananya, atau proses belajar mengajarnya, atau SDM para pengajarnya, laboratorium penelitian, atau juga karena akses yang belum terbuka. Semua harus dilihat. Dan manakala ada kekurangan di sana sini, saya tidak segan untuk berjuang membantu mengalokasikan anggaran,” tandas legislator daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah III tersebut.

Pemukulan

Seperti pernah diberitakan, Senin (6/9) silam telah terjadi pemukulan yang berakibat kematian, kepada taruna PIP Semarang, Zidan Muhammad Faza (21) warga Jalan Imam Bonjol, Kabupaten Jepara, oleh seniornya Caesar Richardo Bintang Samudra Tampubolon (23).

Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Donny Lumbantoruan mengatakan pihaknya langsung menangkap dan menahan pelaku pemukulan tersebut. Akibat perbuatannya, pelaku terancam hukuman lima tahun penjara.

Diketahui, peristiwa ini terjadi di sebuah Jalan Tegalsari Barat Raya RT 2 RW 13, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari, Senin (6/9) sekitar pukul 23.00.

Peristiwa tersebut bermula setelah terjadi insiden senggolan sepeda motor antara korban dengan tersangka.

“Pelaku sebenarnya tidak ada tujuan membunuh, hanya mengingatkan. Tapi dia tidak menduga akibatnya seperti itu,” kata Kasatreskrim. (HS-08)

Share This

BPN Perlu Cek Implementasi HGU ke Investor Sesuai Aturan Tata Ruang

Jokowi Ikuti MEF 2021, Indonesia Berkontribusi Hadapi Darurat Energi dan Iklim