in

Petugas Gabungan di Boyolali Temukan Rokok Ilegal di Simo

Satpol PP Boyolali bersama TNI, Polri dan petugas dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Surakarta, mengadakan operasi mendadak rokok tanpa cukai, di Pasar Simo, Kecamatan Simo. Kamis (19/8) (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI  – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Boyolali, bersama TNI, Polri serta petugas dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Surakarta, mengadakan operasi mendadak (sidak) rokok tanpa cukai di Pasar Simo, Kecamatan Simo, Kamis (19/8).

Kepala Satpol PP Kabupaten Boyolali, Sunarno mengatakan pada sidak kali ini tim menemukan sembilan slop rokok ilegal, dengan bermacam-macam merk, dari dua toko yang telah diperiksa.

Contoh merek yang beredar, yaitu LAris dan Mildboro. Sebenarnya masih terdapat beberapa toko lagi, tetapi pihak toko tidak mau mengaku.

“Dijual satu slop Rp 50 ribu. Itu produk dari, Tulungagung, Jawa Timur,” kata dia, seperti dirilis Boyolali.go.id.

Atas temuan itu, menurut dia, pemilik toko bisa dikenai sanksi pidana, setelah kasus itu dikembangkan oleh tim dari KPPBC dan Polri. Pemilik toko bisa disebut sebagai pengedar dan melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Boyolali adalah salah satu daerah yang masih marak peredaran rokok ilegal.

“Di Boyolali sementara merebak, kemarin memang belum ada penindakan,” ungkap Sunarno.

Beredarnya rokok ilegal, menjadi penyebab kerugian negara dan menghambat berkembangnya industri rokok nasional. Para pelaku industri dan petani, mengalami ketidakadilan persaingan di pasar.

Hal itu karena dengan adanya rokok ilegal tersebut, negara tidak mendapatkan penghasilan dari cukai. Pemkab Boyolali sebagai penerima Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT), juga turut dirugikan.

“Dari hasil cukai tembakau, daerah itu kan juga diberikan dana. Kalau Satpol sendiri juga diberikan dana untuk operasional,” imbuhnya.

Adanya peredaran rokok ilegal ini, masyarakat pun terancam dengan efek buruknya. Rokok ilegal berpotensi untuk meningkatkan jumlah perokok dan perokok pemula karena murahnya harga rokok di pasaran. Selain itu, rokok ilegal juga tidak mematuhi peraturan pemerintah terkait pemasangan Peringatan Kesehatan Bergambar sehingga informasi bahaya merokok tidak tersampaikan kepada masyarakat.

Jika peredaran rokok ilegal dapat dicegah, pendapatan negara melalui cukai dapat meningkat sehingga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan program kesehatan yang bersifat promotif dan preventif untuk mengatasi dampak akibat merokok.

“Untuk pemasok, kita akan selidiki terus,” tandasnya. (HS-08)

Share This

SKB Klaten Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru Program Kesetaraan Pendidikan Paket A, B, dan C

Solo Bantu 100 Konsentrator Oksigen Untuk Boyolali