in

Petilasan Jatiombo Semarang, Dipercaya Tempat Sunan Kalijaga Menemukan Pohon Jati untuk Pembangunan Masjid Agung Demak

Bangunan berbentuk joglo yang berada di tengah kolam terdapat situs Jatiombo, di Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

MASYARAKAT Kota Semarang sangat familiar dengan cerita legenda Gua Kreo di Desa Wisata Kandri, Gunungpati sebagai salah satu tempat histori yang memiliki kaitan dengan perjalanan Sunan Kalijaga dalam penyebaran agama Islam, maupun proses pembangunan Masjid Agung Demak. Yang tiap sepekan setelah Lebaran Idul Fitri di tempat itu digelar tradisi sesaji Rewanda, yakni ritual yang dilakukan masyarakat untuk memberi makan kera ekor panjang. Tradisi berupa perayaan ini menggambarkan perjalanan Sunan Kalijaga ke beberapa tempat persinggahan dalam mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak di masa lampau.

Salah satu tempat yang juga penting dalam dalam cerita ini yaitu Petilasan Jatiombo, di Dusun Sodong, Desa Purwosari, Mijen. Sebab, di tempat inilah menurut cerita masyarakat, pernah menjadi salah satu tempat yang disinggahi Sunan Kalijaga, saat dirinya mencari soko guru atau tiang untuk membangun Masjid Agung Demak. Dan di tempat inilah Sunan Kalijaga menemukan pohon jati yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan Masjid Agung Demak.

“Di sini memang kayu jati berhasil ditebang, lalu Kanjeng Sunan Kalijaga mengadakan syukuran. Dan bekas pohon jati yang ditebang atau diameter tunggaknya konon berubah menjadi besar. Sehingga dinamai tempat tersebut dengan nama Jatiombo, karena sebelumnya wilayah tersebut belum punya nama. Bahkan perjalanan legenda Sunan Kalijaga ini, sampai saat ini tetap dilestarikan di Kandri,” jelas Saeful Anshori, Ketua Pokdarwis Pandanaran, Jumat (28/4/2023).

Di Kota Semarang, memang ada beberapa nama wilayah yang menggunakan kata “jati”. Seperti Jatiombo, Jatibarang, dan Jatingaleh. Menurut Saeful Anshori, kesamaan nama itu memang memiliki legenda dalam rangkaian cerita perjalanan Sunan Kalijaga.

“Sebenarnya pohon jati yang akan ditebang adalah di wilayah Jatingaleh. Namun saat dicari oleh rombongan, ternyata Kanjeng Sunan Kalijaga sudah “ngaleh” atau pindah, sehingga sekarang wilayah ini dinamai Jatingaleh. Lalu rombongan mencari sampai di wilayah yang kini dinamakan Jatibarang. Tapi pohon jati di sana tidak jadi ditebang oleh rombongan Sunan Kalijaga, karena di sana banyak orang yang sedang ngamen (mbarang-red). Kemudian perjalanan dilanjutkan di wilayah yang kini bernama Jatikalangan, dinamakan Jatikalangan karena di tempat itu ada pohon jati yang besar dengan dikelilingi oleh pohon jati kecil-kecil. Baru di Jatiombo inilah rombongan Sunan Kalijaga menemukan pohon jati yang bisa ditebang. Tapi setelah ditebang jatinya dan diadakan syukuran, tunggak jatinya berubah menjadi luas atau ombo (bahasa Jawa-red). Sehingga muat diduduki oleh banyak orang,” imbuh Saeful.

Potensi Wisata

Sedangkan, dari rangkaian cerita legenda Gua Kreo, ceritanya dulu, kata dia, untuk membawa pohon jati sampai ke Demak belum ada transportasi modern seperti sekarang, sehingga menggunakan aliran sungai dengan cara dihanyutkan ke sungai. Namun karena aliran Kali Kreo berkelok kelok, kayu jati pun terhenti karena nyangkut. Setelah beberapa hari belum sampai, kemudian dicari dan ternyata kayu jati tersebut nyangkut di kelokan. Setelah Kanjeng Sunan Kalijaga bersemedi, melakukan ritual, pohon jati yang nyangkut ini dialirkan kembali oleh kera-kera, sehingga pohon jati akhirnya sampai ke Demak.

Sebenarnya, setelah menolong menghanyutkan kembali kayu jati, kera-kera tersebut ingin ikut ke Demak, namun Sunan Kalijaga memberi titah kepada kera untuk tetap berada di tempat tersebut guna menjaga Gua Kreo. Karena menurut Sunan Kalijaga, nanti tempat itu akan menjadi tempat yang terkenal dan bisa memberi mata pencaharian masyarakat sekitar.

“Sebenarnya, potensi wisata yang berada di sekitar Desa Kandri sangat besar karane memiliki cerita berkaitan dengan legenda. Namun karena masyarakat sendiri yang belum menguri-uri budaya dan melestarikan kearifan lokalnya terkait legenda Sunan Kalijaga, jadi kurang maksimal. Padahal bisa diangkat budaya setempat atau ritual untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” paparnya.

Menurut masyarakat sekitar, di lokasi situs Jatiombo dulunya merupakan sumber mata air dan dimanfaatkan warga sekitar. Namun karena perkembangan pembangunan di sekitarnya, sehingga mata airnya mati. Tempat itu pun kini kurang begitu terawat, dan menyisakan bangunan berbentuk joglo yang berada di tengah kolam.

“Dulu kolam selalu terisi air karena sumber air melimpah karena masih berupa hutan jati, tapi sekarang airnya mati. Kolam baru terisi air kalau musim hujan dan menjadi kering kerontang kalau datang musim kemarau,” kata Andi, warga sekitar.(HS)

Libur Lebaran Diperpanjang, Tingkat Okupansi Hotel Ciputra Semarang Penuh

Misi Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan