Petani Kendal Kelimpungan, Pupuk Bersubsidi Pemerintah Mulai Langka

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kendal, Tardi.

 

HALO KENDAL – Saat ini pupuk bersubsidi menjadi barang langka di Kabupaten Kendal. Kondisi tersebut menyebabkan puluhan ribu petani kelimpungan dan mereka terancam mengalami gagal panen.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kendal, Tardi mengatakan, gejolak itu terjadi karena antara kebutuhan petani dengan alokasi pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah jomplang.

Menurutnya tak hanya langka, bahkan pasokan pupuk bersubsidi bagi petani di Kendal sudah habis dan menyebabkan petani kesulitan mencari pupuk.

“Lebih banyak kebutuhan pupuk bila dibanding dengan pasokannya. Ada pupuk non subsidi, namun harganya lebih mahal,” katanya, Rabu (8/7/2020).

Tardi mencontohkan pupuk urea, kebutuhan berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) 33.189 ton. Namun pada 2020 hanya dipasok 20.700 ton.

“Jumlah tersebut bila dibanding 2019 mengalami penurunan 4.050 ton. Demikian pula pupuk jenis SP-36 dari kebutuhan 13.218 ton hanya terdapat 3.013 ton,” kata Tardi yang juga anggota DPRD Kabupaten Kendal ini.

Sementara pupuk ZA dari kebutuhan 12.654 ton disediakan oleh pemerintah hanya 4.929 ton, pupuk organik dari 17.792 ton dipasok 5.300 ton, dan NPK dari 28.172 ton dipasok 14.590 ton.

“Pemerintah pusat harus ikut memikirkan nasib petani. Jangan hanya memikirkan soal corona. Sehingga gara-gara pupuk langka program ketahanan pangan jadi terhambat,” ungkapnya.

Menurut Tardi, jika petani kesulitan mendapatkan pupuk, program pemerintah untuk meningkatkan produksi hasil pertanian terancam tidak sesuai harapan. Untuk menuju swasembada pangan, tentunya sulit tercapai.

“Luas lahan pertanian di Kendal mencapai 121.126,12 hektare dengan jumlah petani penerima pupuk bersubsidi 73.293 petani,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengatakan, penggunaan pupuk dilihat dari berbagai sektor, salah satunya pola tanam.

“Pemerintah tentu telah mempertimbangkan kebutuhan petani akan pupuk. Namun, praktiknya di lapangan, petani kerap menambah standar pupuknya,” katanya.

Ditambahkan oleh Pandu, kondisi tersebut kerap menyebabkan pasokan pupuk menipis. Pihaknya sudah mengajukan tambahan alokasi pupuk kepada Kementerian Pertanian.

“Tambahan alokasi itu yaitu, pupuk urea 4.500 ton, kemudian SP-36 2.050 ton, ada juga ZA 1925 ton, dan NPK 500 ton,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.