Pertengahan Ramadan, Penjualan Parcel Sembako dan Kurma Mulai Menggeliat

Penjual musiman kurma, Niken di Jalan KH Agus Salim Kota Semarang.

 

HALO SEMARANG – Geliat bisnis parcel Lebaran di Kota Semarang mulai mencuat, setelah sepi peminat pada Ramadan pandemi tahun lalu. Keriangan pelaku terlihat dari ekspresi bicara yang disampaikan Ramadhan Aziz, pelaku bisnis parcel di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Ramadhan, sapaan akrabnya mengungkapkan, dalam satu Minggu ini dirinya telah menjual 130 paket parcel Lebaran. Rata-rata pembelinya dari berbagai instansi, dan sebagian keluarga.

“Omzet naik sampai 70% dari tahun lalu. Satu pekan ini kurma sudah banyak yang laku, kalau kacang mete tembus dua kwintal,” ujar Ramadhan kepada halosemarang.id, Senin (26/4/2021).

Akan tetapi, tren penjualan kue Lebaran yang biasanya menjadi primadona suguhan di Hari Raya Idul Fitri justru sedikit menurun peminat tahun ini.

Terbukti, pemesan kepada Ramadhan lebih pada parcel sembako, kurma, dan kacang mete menjadi suguhan yang banyak diburu.

Selain untuk ditambahkan dalam paket sembako, kurma banyak diminati untuk konsumsi pribadi selama bulan puasa ini.

Ramadhan menyediakan berbagai jenis kurma untuk konsumsi selama bulan suci ini, di antaranya Kurma Tunisia, Madinah, Mesir. Namun, lanjutnya, jenis kurma paling diburu pembeli ialah Kurma Tunisia.

“Kurma yang paling laku jenis Tunisia. Seminggu lalu sudah 150 box terjual. Kurma jenis Mesir juga banyak peminatnya, sudah laku 60 kilogram,” imbuhnya.

Penjualan pada Kacang Mede dijelaskan Ramadhan, juga menjulang keuntungan. Kacang Mede yang dia datangkan dari Kabupaten Wonogiri ini, selama bulan Ramadan sudah terjual 200 kwintal.

“Untuk kacang mete sudah 200 kwintal selama ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ramadhan mengatakan ada kenaikan harga dari produk-produk dagangannya. Dia mengungkapkan meskipun baru dua pekan puasa terlaksana, lonjakan harga kurma telah terasa. Selain kurma, kacang mete dan minyak goreng juga mengalami kenaikan harga.

“Kurma yang 10 kg normalnya Rp 200.000 sekarang jadi Rp 260.000, kacang mete biasanya Rp 125.000 sekarang naik jadi Rp 140.000, minyak goreng juga naik biasanya Rp 27.500 sekarang kisaran 30.000,” kata Ramadhan.

Dikatakan, untuk parcel Lebaran dia tidak menyediakan dalam bentuk paket. Dia lebih menuruti kebutuhan yang diinginkan oleh pembeli atau pesanan datang baru dia bentuk parcel.

“Kalau parcel hanya berdasarkan pesanan,” terangnya.
Ramadhan memanfaatkan media sosial untuk menjual dagangannya. Dari media sosial saja, dia meraub keuntungan lebih dari biasanya, bahkan kewalahan dia alami.

“Saya juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan, ya di grup-grup,” tutup pria yang berdomisili di Banyumanik ini.

Terpisah, disampaikan oleh Niken penjual kurma di Jalan KH Agus Salim Kota Semarang. Dia mengungkapkan, pada bulan puasa ini penjualannya menunjukkan penurunan.

Berbeda dengan Ramadhan, Niken hanya menjual kurma saja. Dia tidak memanfaatkan media sosial untuk memasarkan kurma.

“Menurut saya agak menurun puasa kali ini dibandingkan sebelum-sebelumnya,” ungkap Niken.

Namun, pada pertengahan puasa kali ini sudah menunjukkan peningkatan penjualan. Niken hanya menjual kurma selama bulan Ramadan hingga Idul Adha 2021. Hal itu dilakukan olehnya karena tradisi jualan turun temurun oleh ibunya.

“Tidak setiap hari saya jual kurma, saya jual kurma hanya pada bulan puasa sampai Idul Adha. Ini sudah tradisi jadi ya begini dijalani,” katanya.

Kurma yang dia jual terdiri dari empat jenis, yaitu Kurma Tunisia, Madinah, Mesir, dan Palfruit. Kurma Tunisia lanjut Niken, lebih diminati pembeli dibandingkan kurma jenis lainnya.

“Banyak yang suka Kurma Tunisia, karena rasanya seperti madu,” jelas Niken.

Dikatakan Niken, masyarakat yang akan membeli kurma diharapkan untuk mencicipi terlebih dulu. Hal ini dilakukan, sebab untuk mendapati kurma asli atau palsu.

“Kurma palsu itu teksturnya seperti ada pasirnya jika dikunyah,” tandasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.