in

Persoalan Pembagian Lapak Pasar Johar Belum Juga Selesai

Bangunan Johar Cagar Budaya pada September 2021 akan mulai ditempati pedagang.

 

HALO SEMARANG – Puluhan pedagang Pasar Johar Utara (bangunan Cagar Budaya) yang belum mendapat kepastian penempatan lapak mendatangi Dinas Perdagangan Kota Semarang untuk menanyakan kepastian hak-haknya. Kedatangan pedagang secara mendadak pada Rabu (6/10/2021) tersebut ditemui langsung oleh Sekretaris Dinasi Pasar Semarang, Murjoko.

Luki Hakim (32) pedagang konveksi yang dulu berdagang di Johar Utara memprotes sistem pengundian yang dinilainya tidak sesuai dengan harapan para pedagang.

“Sistem undiannya tidak sesuai dengan harapan pedagang. Pada awalnya kami mendengar bahwa undian digelar sesuai zonasi, kalau sesuai zonasi seharusnya para pedagang bisa kembali berdagang di tempatnya semula, karena Johar Utara bawah dulu sebagian besar memang konveksi. Alasannya pedagang konveksi yang tidak boleh berdagang di Johar Utara karena katanya kompleks, makanya kami dipindah,” ujar Luki memprotes.

Sementara itu, di lantai dua Johar Utara dikosongkan oleh Dinas. Para pedagang meminta agar tempat kosong tersebut dipergunakan oleh para pedagang yang tidak mendapat tempat tersebut.

“Kami juga menanyakan ke Dinas itu lantai dua (Johar Utara) masih kosong, harapannya kita lantai dua itu bisa ditempati. Tapi ternyata Dinas menetapkan lantai dua memang dikosongkan. Lah karena lantai dua dikosongkan, banyak pedagang yang turun akhirnya,” ungkapnya.

Data yang ditunjukkan Luki ada sekitar 70 pedagang Johar Utara yang terlempar dari lapak asalnya dan ada 11 lainnya yang belum mendapatkan notifikasi undian dari aplikasi E-Pandawa.

“Masalahnya sekarang banyak pedagang yang terlempar dari Johar Utara, ada sekitar 70 pedagang yang tidak mendapat tempat dan 11 orang yang tidak mendapat notifikasi di aplikasi undian E-Pandawa. Itupun masih banyak orang yang senasib dengan kami tidak masuk di dalam grup WA kami,” papar Luki.

“Dinas Perdagangan bilang lapak sudah habis, Dinas Pasar juga sudah ditemui oleh pengurus PPJP (Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar) Pasar Johar, tapi tidak pernah mau buka-bukaan data,” tandas Luki.

Para pedagang tersebut menuntut ditempatkan sesuai dengan tempat asal lapak mereka sesuai zonasi masing-masing.

“Karena sejak awal juga dari Dinas Perdagangan mengatakan menggunakan sistem zonasi, sementara di Johar Utara Bawah zonasinya konfeksi, lalu yang atas lantai dua itu asesori. Tapi sekarang malah banyak pedagang kuliner masuk di situ (Johar Utara bawah). Belakangan malah kami dengar sistem pembagiannya disebut ‘Multi Kompleks’, berubah lagi sekarang. Semua bisa menempati sekarang,” beber Luki.

Ketika ditanya sudah berapa lama Luki berdagang di Pasar Johar, dia menjawab bahwa lapaknya adalah warisan orang tuanya. Artinya lapak yang dimiliki Luki sudah puluhan tahun.

“Saya sendiri mewarisi lapak dagangan dari orang tua, artinya sudah puluhan tahun berdagang di sana,” imbuhnya.

Sementara itu, Mujoko selaku sekretaris Dinas Perdagangan Kota Semarang menjelaskan, bahwa sekarang ini kapasitas Johar utara hanya untuk 419 pedagang.

“Dulu (sebelum kebaran) kan ada dagangan terbuka (DT) di pinggir jalan, sehingga dulu ada kurang lebih ada 1000-an pedagang. Nah saat ini, jalan-jalan itu kami bersihkan, kemudian di lantai dua gedung Pasar Johar kami kosongkan mengingat kekuatan bangunan sesuai dengan aturan kementerian, makanya kapasitas berkurang hingga 419,” ujar Mujoko mencoba menjelaskan.

Akibatnya, lanjut Mujoko, ada pedagang yang harus keluar dari zonasi tersebut dan ditempatkan di tempat lain. Undian pun dilakukan menyesuaikan dengan kapasitas lapak yang tersedia.

“Karena pengurangan yang sangat banyak itu, otomatis ada pedagang yang keluar, dan di situlah kami berlakukan zonasi dan ketersediaan lapak saat undian. Ada konveksi, asesori, dan lainnya. Sehingga setelah diundi jatuhnya sekarang yang dapet ya seperti itu,” papar Mujoko.

Alasan Pasar Johar meniadakan DT dan mengosongkan lantai dua Johar Utara, adalah untuk menertibkan kawasan. Sementara para pedagang dialihkan ke Pasar Kanjengan, Johar Selatan, dan SCJ (Shoping Centre Johar).

“Permasalahannya, untuk menertibkan kawasan, kami meniadakan DT dan kami alihkan ke Pasar Kanjengan, Johar Selatan, dan SCJ. Sehingga Johar Tengah dan Utara berkurang sangat banyak,” imbuhnya.

Namun permasalahannya adalah, ada sebagian pedagang DT yang mendapatkan undian dan ditempatkan di kios-kios Johar Utara. Namun setelah mendapat protes, Mujoko mengatakan akan dilakukan undian ulang.

“Untuk pedagang DT, yang sebagian sudah dapat kios, kita cut di berita acara dan akan kita undi ulang,” ujarnya.

Sejatinya kawasan Johar Utara akan dikonsep sebagai pasar wisata, sehingga penertiban dan perapian kawasan terus dilakukan. Drainase terus diperbaiki dan kapasitas dikurangi untuk meminimalisir beban bangunan. Namun para pedagang protes karena ada perubahan fungsi zonasi. Mujoko juga mengatakan, pihaknya belum tahu apakah 70 pedagang tersebut akan mendapatkan tempatnya semula atau tidak.

“Nah, untuk Johar Utara sendiri kami konsep sebagai pasar wisata, sehingga kami adakan kios-kios kuliner di situ, yang awalnya dagangan kuliner belum diperbolehkan. Untuk 70 pedagang yang dulu berdagang di Johar Utrara dan terlempar, apakah akan mendapat kios di Johar Utara lagi? Kami belum tahu,” ujarnya.

“Puas dan tidak puas pasti ada, nanti para pedagang bisa mengadu ke PPJP Pasa Johar,” tukasnya.(HS)

Share This

Masih Ada Kendala, Posko Pengaduan Pedagang Johar Dibuka Sampai Perpindahan Pedagang

Habib Luthfi Minta Para Tokoh Edukasi Masyarakat Agar Tak Phobia Pada Covid-19