Persoalan Bahasa dan Budaya Masih Jadi Kendala Pekerja Migran Indonesia

Dialog Prime Topic DPRD Jateng dengan tema Menakar Peluang Bekerja di Manca Negara, di Semarang, Jumat (23/10/2020).

 

HALO SEMARANG – Sejumlah kendala masih dihadapi bagi pekerja migran Indonesia, di antaranya terkait faktor sumber daya manusia (SDM).

Untuk itu, pemerintah dan pihak terkait untuk menyiapkan SDM yang berkaulitas sebelum pekerja migran diberangkatkan ke negara tujuan.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Endro Dwi Cahyono menyatakan, peluang untuk bekerja di luar negeri masih cukup besar.
Menurutnya, sejumlah negara di kawasan Asia seperti Jepang, Taiwan, Hongkong dan negara lainnya masih membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia.

“Peluangnya luas, seperti yang di Jepang itu juga untuk semua sektor. Dari satu sektor saja permintaan kebutuhan juga banyak macamnya. Tinggal pemerintah bisa menjembatani masyarakat tidak, seperti kemampuan bahasa,” katanya saat dialog Prime Topic dengan tema Menakar Peluang Bekerja di Manca Negara, di Semarang, Jumat (23/10/2020).

Endro menyoroti sumber daya manusia yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Hal ini terlihat kendala yang dihadapi para pekerja migran, yaitu terkait dengan kemampuan komunikasi dalam hal ini penguasaan bahasa di negara yang dituju.

“Berkaitan dengan komunikasi adalah kemampuan bahasa. Tidak sedikit permasalahan yang muncul dalam kasus pekerja luar negeri, karena minimnya kemampuan bahasa. Pemerintah maupun stakeholder terkait perlu membuka pelatihan bahasa serta dibekali pemahaman budaya negara yang akan dituju,” tuturnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jateng, Sakina menyatakan, bagi calon pekerja migran yang akan ditempatkan ke luar negeri harus memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditentukan.

Selain itu, menurutnya, sebelum diberangkatkan, para calon pekerja migran harus mempersiapkan  kemampuan dan persyaratan lainnya.

“Untuk menjadi pekerja migran harus siap fisik, harus siap semua dokumen yang telah ditentukan, mempelajari bahasa, kemampuan atau skill, dan siap memahami budaya negara yang akan dituju,” ujarnya.

Sakina berharap bagi masyarakat yang berminat menjadi pekerja migran untuk mematuhi segala aturan yang telah ditentukan pemerintah.

Hal itu perlu menjadi perhatian serius mengingat banyak kasus yang terjadi terkait sejumlah persoalan para pekerja migran yang tidak prosedural.

“Harus prosedural, ini untuk menjamin keamanan dan perlindungan warga negara yang bekerja di luar negeri. Kalau tidak pasti akan ada masalah. Hampir sebagian besar kasus permasalahan yang ada saat ini karena tidak prosedural saat berangkat,” katanya.

Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Jateng, AB Rachman mengatakan, sejumlah negara masih membutuhkan tenaga kerja asal Indonesia.

“Persaratannya pun ketat, mulai kepemilikan paspor, sertifikasi kompetensi, kemampuan berbahasa asing seperti Inggris, Hongkong atau Mandarin. Dan ini yang masih menjadi kendala bagi pekerja migran Indonesia,” tuturnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.