Persoalan Abrasi Jadi Ancaman Serius Pesisir Demak

 

Salah satu wilayah yang terendam banjir rob di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah/dok Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

 

HALO SEMARANG – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) mendesak pemerintah Indonesia untuk segera memulihkan desa-desa pesisir di Indonesia yang telah dan tengah tenggelam.

Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati, saat berkunjung dan menemui masyarakat yang terdampak oleh tenggelamnya desa pesisir di sejumlah desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.

- Advertisement -

Susan menjelaskan, sejumlah temuan penting yang terjadi di desa tenggelam. Pertama, di Desa Tambaksari terdapat sepuluh keluarga yang masih bertahan. Sebelumnya, tercatat sebanyak 70 keluarga mendiami desa ini.

“Dukuh Tambaksari merupakan yang pertama tenggelam pada tahun 1997,” tutur Susan melalui siaran pers yang diterima halosemarang.id, Senin (22/2/2021).

Kedua, di Dukuh Senik masih ada satu keluarga yang bertahan tinggal. Desa ini dihantam abrasi sejak tahun 2000. Meskipun proyek bedol desa mulai berjalan dari periode 2000-2005, di mana 300 keluarga keluar dari desa ini, ada sebagian masyarakat menerima ganti rugi hanya sebesar Rp 1 juta per keluarga.

Kemudian yang ketiga, di Dukuh Bedono, terdapat 220 keluarga yang pernah tinggal dan sekarang hanya tinggal 48 Kepala Keluarga (KK) yang masih bertahan. Abrasi mulai menghantam desa ini pada 2005.

Sementara itu, di Dukuh Mondoliko tercatat sebanyak 65 keluarga yang bertahan di daerah yang tergenang air. Sebelumnya, tercatat ada sebanyak 95 keluarga yang menempati wilayah ini.

Abrasi mulai menghantam pada tahun 2010. Di Desa Timbulsloko, abrasi mulai terjadi pada tahun 2017 hingga sekarang.

“Seluruh kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan ini sangat memprihatinkan karena setiap hari terancam abrasi yang berasal dari perairan utara Jawa,” ungkap Susan.

Dalam identifikasinya, Susan menyebutkan sejumlah penyebab tenggelamnya desa-desa pesisir di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Di antaranya abrasi terjadi karena pengurukkan Pelabuhan Tanjung Emas di Kota Semarang yang lokasinya tidak jauh dari desa-desa ini.

Temuan ini berasal dari pengakuan masyarakat yang melihat dan merasakan langsung dampak abrasi yang menengelamkan desa mereka.

“Pengakuan masyarakat tersebut mendapatkan afirmasi dari temuan ahli yang menyatakan hal serupa, di mana keberadaan pelabuhan Tanjung Emas yang menjorok hingga 1,8 km ke laut menjadi salah satu penyebab abrasi. Pelabuhan ini dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dan merupakan satu-satunya pelabuhan di Kota Semarang,” beber Susan.

Selanjutnya, abrasi dan tenggelamnya sejumlah desa, disebabkan oleh krisis iklim yang mendorong permukaan air laut naik begitu cepat.

“Sejumlah ahli menyebut kenaikan air laut rata-rata sekitar 7,8 milimeter setiap tahun. Faktanya, bisa jadi lebih tinggi dari angka tersebut,” jelas Susan.

Masnuah, Sekretaris Jenderal Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) menyatakan dengan tegas, bahwa krisis iklim telah lama memperburuk kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir di Indonesia, sebagaimana yang terjadi di desa-desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak ini.

 

“Bahkan tak sedikit nelayan yang meninggal di laut saat menangkap ikan akibat cuaca buruk yang disebabkan oleh krisis iklim ini,” imbuh Masnuah kepada halosemarang.id, Senin (22/2/2021).

Lebih jauh, ia mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera menyusun langkah-langkah pemulihan desa pesisir yang terkena abrasi dan terancam tenggelam secara terukur dan berkelanjutan.

“Langkah pemulihan dapat dimulai dengan menghentikan proyek-proyek yang akan memperburuk kualitas lingkungan hidup dan mengancam kehidupan masyarakat. Selanjutnya, kami menuntut pemerintah untuk serius menangani dampak buruk krisis iklim dengan cara melibatkan masyarakat terdampak abrasi dalam skema mitigasi dan adaptasi krisis iklim,” pungkas Masnuah.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.