Pernah Mengalami Kebakaran Hebat, Jadi Cikal Bakal Nama Kampung Geni

Kampung Geni Semarang.

HALO SEMARANG – Semarang merupakan salah satu kota yang cukup tua usianya yaitu telah mencapai 472 tahun. Kota Semarang sebagai kota yang telah mengalami masa-masa perkembangan dari mulai munculnya sebagai kota tradisional, kota kolonial, hingga kota modern, menunjukkan ciri spesifik terutama pada perkembangan permukiman kota atau kampung kota.

Pada perkembangannya, sejarah Kota Semarang, tercatat memiliki banyak kampung-kampung kuno, yang merupakan embrio perkembangan kota.

Nama kampung-kampung kuno ini disesuaikan dengan kelompok etnis, pekerjaan atau kondisi dan situasi yang pernah terjadi di kampung tersebut, seperti Kampung Pecinan, Kampung Melayu, Kampung Kauman, Kampung Batik, Kampung Kulitan, dan lain sebagainya.

Salah satunya, Kampung Geni atau Kampung Api Semarang, yang berada di Kelurahan Dadapsasi, Kecamatan Semarang Utara. Nama yang cukup unij dan aneh bagi nama sebuah kampung. Diberi nama menjadi Kampung Geni, karena dulunya mengalami peristiwa kebakaran hebat yang menimpa kampung tersebut, sehingga melalap sekitar 20 bangunan rumah warga saat itu.

Bahkan, menurut berbagai sumber yang diperoleh, Api yang membakar 200 meter persegi lahan pemukiman milik warga itu terjadi dua kali. Rumah kayu bertingkat yang banyaj dihuni para pedagang berlian kala itu, kini hampir tak menyisakan sisa.

Api yang melalap Kampung Banjar, demikian warga menyebut, itupun kini lebih dikenal dengan nama Kampung Geni (api).

Gang kampung dengan lebar tidak lebih dari dua meter dengan konstruksi jalan dari paving blok, suatu siang terlihat sepi. Patok besi yang ditanam di mulut gang, menjadi tanda larangan bagi pemilik mobil tidak diperbolehkan masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk berpapasan sepeda motor itu. Sebuah bangunan kayu bertingkat yang nyaris roboh dan tak berpenghuni itu menjadi saksi bisu besarnya kobaran api yang membakar perkampungan itu pada 1945 dan 1975.

”Biarlah menjadi saksi sejarah bahwa kampung Banjar pernah ada di wilayah ini,” kata Supri, warga Jalan Cerbonan Besar saat ditemui belum lama ini.

Menurut cerita masyarakat, peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.00 pada 1945 itu, titik api berawal dari rumah milik Haji Usman yang ada di Jalan Geni Besar. Api kemudian menjalar ke permukiman lain, sehingga meluluh lantakkan rumah-rumah yang ada di kampung tersebut.

”Istrinya, Mak Yati, saat itu sedang memasak, kemungkinan kompornya terbalik. Dan kobaran api pun membesar dan membakar rumah di sekitarnya,” imbuhnya.

”Sejak itu, Kampung Banjar ini lebih sering disebut sebagai Kampung Geni. Belum hilang kesedihan yang menimpa, sekitar 1974, kembali terjadi kebakaran di kampung ini,” ujar Rifki, warga kampung Layur.

Yang manarik di kampung ini, terdapat model rumah panggung ciri khas rumah Banjar, milik salah satu saudagar atau pedagang berlian yang saat itu tinggal di kampung tersebut. Adapun toponimik lorong-lorong di kampung Melayu ini merupakan satu bentuk kearifan lokal, bagaimana pemberian nama-nama pada sub kawasan ataupun koridor tersebut sangat erat terkait dengan fenomena kesejarahan yang menjadi sangat unik dan kental dengan nuansa setempat.

Hartono pengamat sejarah Kota Semarang, belum lama ini mengatakan, satu per satu kampung lama di Kota Semarang mulai hilang terdesak kemajuan zaman.

Setelah beberapa kampung lama hilang, seperti Kampung Jayenggaten di Jalan Gajahmada, Kampung Basahan di Jalan Pemuda, serta Kampung Morojayan, Petroos, dan Mijen di Jalan Gendingan.

Menurutnya, Semarang memiliki kampung-kampung lama bersejarah yang harus dipertahankan. Kampung sejarah itu ada di sepanjang Kali Semarang dan Jalan Mataram (Jalan MT Haryono-red). Meski banyak yang sudah hilang, dia berharap Pemkot Semarang melakukan revitalisasi kampung-kampung bersejarah ini. Apalagi beberapa kampung memiliki peran dalam terbentuknya kota ini.

“Banyak kelurahan lama yang memiliki sejarah panjang sudah hilang dari peta Kota Semarang. Seperti Kelurahan Bergota kini sudah jadi Kelurahan Randusari, Lemahgempal jadi Kelurahan Barusari. Bahkan Kelurahan Melayudarat yang di sana dulu ada sosok terkenal Kiai Sholeh Darat, kini berubah nama jadi Kelurahan Dadapsari,” imbuhnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.