Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Pernah Ditemukan Kemuncak Candi di Lokasi Sendang Stoom Semarang, Diduga Ada Struktur Bangunan Candi Subuh

Sendang Stoom di wilayah RW 03 Kampung Tegalsari Stoom, Kelurahan Wonotingal yang berbatasan dengan RW 11, kampung Candi Stoom, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.

 

SENDANG Stoom, di wilayah RW 03 Kampung Tegalsari Stoom, Kelurahan Wonotingal yang berbatasan dengan RW 11, kampung Candi Stoom, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, hingga kini masih mengalir air jernih dan dimanfaatkan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Tiap hari banyak warga dengan membawa derigen dan ember guna menampung air, mengantre mendapatkan sumber air bersih di sendang itu. Ada yang untuk dikonsumsi sendiri, namun tak sedikit pula yang dimanfaatkan sebagai sumber mengais rejeki, dengan menjual air tersebut ke warga yang membutuhkannya.

Namun tak banyak yang mengetahui, di depat sumber air tersebut diduga terdapat sebuah bangunan candi tua peninggalan massa kerajaan Hindu-Buddha, yaitu Candi Subuh. Candi tersebut diperkirakan peninggalan pada abad 8-10 masehi, atau awal perkembangan Agama Hindu-Buddha di Semarang.

Karena mengingat, tidak jauh lokasi tersebut juga pernah diketemukan beberapa temuan batu candi. Seperti kemuncak candi, penthirtaan kuno yang masih digunakan masyarakat sampai sekarang, dan diperkuat dengan nama daerah dengan topomini nama Candi.

Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Rukardi mengatakan, memang di dekat lokasi Sendang Stoom Semarang, diduga merupakan lokasi Candi Subuh. Karena merujuk dari dokumen lama Belanda, yang juga menyebutkan adanya struktur Candi Subuh yang ada di Desa Candisari.

“Sehingga kami menduga di sini lokasinya. Hal ini diperkuat lagi karena ada nama candi di Semarang, dan dugaan nama kawasan candi berasal dari candi Subuh. Untuk lokasi pastinya belum tahu di mana. Tapi setelah Pecinta Blusukan Dewa Siwa Semarang, pernah menyusuri daerah itu ditemukan kemuncak candi,” terangnya, Minggu (6/10/2019), di sela-sela acara Jelajah Sejarah Semarang era Hindu-Buddha di lokasi.

Ditambahkan, dengan ditemukannya kemuncak candi, bisa menunjukkan terdapat sebuah struktur bangunan candi. Apalagi lokasinya dekat dengan sumber air.

“Adanya penthirtaan kuno, yang saat ini masih mengalir jernih, masih dipakai tiap hari oleh warga sekitar, dan bahkan pada puncak musim kemarau sekalipun airnya tidak pernah kering. Konon, mata airnya berasal dari sungai bawah tanah, sumbernya di Ungaran. Hingga kini sumbernya belum terlacak, karena di atas sendang kini sudah menjadi permukiman padat penduduk,” imbuhnya.

Dikatakan Rukardi, Sendang Stoom sudah lama ada, pernah dijadikan sumber air alami oleh Pemerintah Belanda yang memanfaatkan air itu pada tahun 1930/1940. Air dari sumber tersebut oleh Belanda digunakan untuk mengalirkan kolam renang di depan stadion Diponegoro, Jalan Ki Mangunsarkoro, yang sekarang kini telah menjadi Taman Kuliner Ventura.

“Padahal dulunya tempat itu merupakan kolam renang tua di Semarang. Air kolam ini mengambil air dari sendang Stoom yang dialirkan dari pipa. Dan jaraknya tidak terlalu jauh, kalau ditarik garis lurus dari lokasi Sendang Stoom,” katanya.
Sedangkan untuk penyebutan Sendang Stoom sendiri, lanjut Rukardi, memiliki arti dalam bahasa Belanda, yakni uap.

“Apakah memang dulunya ada sumber air panasnya, kita belum tahu juga. Pertanyaan itu masih belum terjawab sampai sekarang,” paparnya.

Arkeolog asal Semarang, Tri Subekso menambahkan, kebanyakan situs maupun bangunan candi di Semarang merupakan peninggalan era masa Klasik, abad 8-10 masehi. Biasanya pendirinya, mencari lokasi di tempat tinggi, dan dekat sumber air. Karena tempat tinggi atau bukit dan gunung, dipercaya masyarakat masa lampau sebagai tempat bersemayam para dewa. Sedangkan penthirtaan, berfungsi untuk kebutuhan domestik maupun spiritual.

“Dan Semarang menjadi salah satu pintu masuk ke pusat pemerintahan di tanah Jawa pada masa itu. Yaitu dari pantai utara ke pusat ibu kota menuju jantung dengan kemegahan Borobudur dan Prambanan di Magelang-Yogyakarta. Sehingga di titik tertentu ada situs pada masa klasik. Seperti di pinggir pantai di wilayah Kecamatan Tugu dengan Watu Tugu, maupun temuan di Bergota (dulunya merupakan pelabuhan Mataram Kuno), pernah ditemukan juga nekara (gendang/gong perunggu berbentuk seperti dandang) hasil kebudayaan Dongson, lalu ada arca Majusri. Dan situs Pleburan, Sendangguwo, sampai naik ke atas di lembah Ungaran, di mana menjadi pusat persebaran situs,” jelasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang