in

Perkuat Sinergitas, Bupati Sukoharjo Gowes Bersama Dandim dan Kapolres

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, Dandim 0726 Letkol Czi Slamet Riyadi, dan Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, bersepeda bersama memperkuat sinergitas Forkompimda. (Foto : Humas.polri.go.id)

 

HALO SUKOHARJO – Waktu baru menunjukkan pukul pukul 06.00 WIB, ketika rombongan Forkopimda Sukoharjo, berkumpul di Pendopo Kecamatan Tawangsari, Jumat (4/11/2022), untuk bersiap bersepeda bersama.

Olahraga gowes yang digandrungi masyarakat tersebut dipilih Forkopimda Sukoharjo, untuk mempererat sinergitas antarinstansi di Kabupaten Sukoharjo.

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, dan Dandim 0726 Letkol Czi Slamet Riyadi, tampak antusias mendampingi Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, dalam mengikuti gowes tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, mengatakan, tujuan gowes kali ini bukan hanya menjaga kebugaran, tetapi juga memperkuat sinergi Forkopimda Sukoharjo, yang telah lama terbangun.

Dikatakannya, sinergi sangat dibutuhkan dalam membangun Kabupaten Sukoharjo. Tanpa sinergi, pembangunan Sukoharjo tidak dapat berjalan baik.

Pada gowesnya, Kapolres juga menyapa dan berdialog kepada warga mengenai keamanan di wilayah lingkungannya. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui keluhan dari masyarakat mengenai keamanan lingkungan.

“Ini juga merupakan wujud dari Program Polisi Hadir Polres Sukoharjo, yaitu Sipagi (Polisi Hadir Pelayanan Pagi hari), Simanis (Polisi Patroli Humanis), Silogis (Polisi Patroli Dialogis), Sikamling (Polisi Patroli Pos Kamling), dan Sibangga (Polisi Sambang Warga),” kata Kapolres, seperti dirilis humas.polri.go.id.

Siaga Bencana

Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, Kapolres, dan Dandim, sehari sebelumnya juga hadir dalam Apel Siaga Bencana yang diselenggarakan BPBD Sukoharjo, di halaman Setda Sukoharjo.

Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, menyampaikan bahwa Kabupaten Sukoharjo merupakan daerah rawan bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.

“Kabupaten Sukoharjo merupakan daerah yang rawan bencana seperti banjir hingga tanah longsor,” kata dia.

Menurutnya, bencana alam bukanlah suatu hal yang dapat diduga kapan akan terjadi.

Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk mewaspadai agar bisa meminimalisasi dampak kerugian yang disebabkan oleh bencana alam.

Terlebih lagi, BMKG memprediksi bahwa bulan November 2022 sudah mulai memasuki musim hujan.

Sedangkan untuk puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada bulan Januari 2023 dengan kemungkinan akan terjadi hujan lebat dan berpotensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

Terkait apel siaga bencana tersebut, dikatakan Bupati sebagai bentuk kesiapsiagaan Pemkab Sukoharjo akan terjadinya bencana alam.

Pemkab bersinergi dengan TNI dan Polri dan instansi terkait lainnya untuk memimimalisasi munculnya korban jiwa.

“Apel ini dalam upaya mengantisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan, termasuk kesiapan dapur umum. Kepada seluruh komponen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan membersihkan saluran air, memangkas ranting, dan mengadakan siskamling,” tambahnya.

Untuk diketahui, bencana alam yang melanda Kabupaten Sukoharjo mengalami tren kenaikan di tahun 2022 ini.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, hingga Oktober 2022 tercatat terjadi 34 kali angin puting beliung, tujuh kali banjir, dan empat kali bencana tanah longsor dengan kerugian Rp 189 juta.

Terkait data bencana tahun 2022 tersebut mengalami kenaikan dibanding bencana alam yang terjadi tahun 2021.

Tercatat di tahun 2021 bencana angin kencang sebanyak 36 kali, banjir dua kali, dan tanah longsor satu kali.

Jika dibandingkan dengan kerugian pada tahun 2021, maka tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan. (HS-08)

Pengamanan KTT G20, Polri Gunakan Face Recognition

Jumat Berkah, Polres Jepara Kembali Bagikan Nasi Kotak Ke Warga