in

Perjuangan Penyandang Disabilitas, Memilih Membengkel Untuk Hidup Mandiri 

Suwanto pria disabilitas saat sedang melakukan perbaikan sepeda motor di bengkelnya di Jalan Jangli RT 8 RW 2, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Semarang.

 

HALO SEMARANG – Suwanto, pria asal Semarang ini sejak lahir memiliki keterbatasan. Dia berbeda dengan manusia pada umumnya, karena kedua kakinya tak dapat digunakan untuk berdiri dengan normal.

Namun, semua itu tak menjadi alasan Suwanto untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan. Dia memilih mengelola bengkel dari Komunitas Motor Penyandang Cacat (Compac) untuk hidup mandiri dan berkarya.

Pria berusia 42 tahun itu sudah menjadi montir selama belasan tahun. Bengkel yang terletak di Jalan Jangli RT 8 RW 2, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang itu menjadi penyelamat bagi kaum disabilitas lainya.

“Karena keluhan dari hati kami (penyandang disabilitas) pemakai roda tiga, maka saya menekuni profesi ini. Alasannya, saat kami ingin membuat kendaraan roda tiga, banyak dari bengkel agak kurang enak melayani, karena faktor kesulitan secara teknis,” ujar Suwanto saat ditemui Senin (31/5/2021).

Dari situlah bengkel khusus sepeda motor bagi penyandang disabilitas dibentuk.

Dibantu dengan Dinas Sosial Kabupaten Semarang, kemudian lahirlah bengkel Compac Motorcycle sejak tahun 2004 yang masih berjalan hingga saat ini.

“Saat itu, ada bantuan yang langsung cair Rp 20 juta kemudian kita beli alat-alat dan kebutuhan lainya, hingga terbentuklah bengkel Compac Motorcycle,” bebernya.

Dia mengaku pengelolaan bengkel tersebut awalnya tak berjalan dengan lancar. Hingga pernah berpindah sebanyak empat kali, dan sampai pengelola bengkel sebelumnya banyak yang menyerah.

“Sebelumnya bukan saya yang mengelola karena zaman dulu media sosial (medsos) belum ramai, jadi bengkel sepi. Sampai pernah pindah empat tempat. Dan sekarang sudah mulai berkibar saat saya pegang sejak tahun 2012,” ujarnya.

Suwanto menambahkan, bengkel yang berdiri sejak tahun 2004 itu dikhususkan untuk pembuatan dan perbaikan motor roda tiga atau bagi penyandang disabilitas. Tapi tidak menutup kemungkinan, untuk kendaraan roda dua bisa service di bengkel yang dikelolanya.

“Dulu memang khusus buat roda tiga. Kemudian sekalian bengkel kecil-kecilan membuka jasa service motor roda dua,” katanya sambil tersenyum.

Suwanto mengaku keahlian yang ia miliki didapat secara otodidak. Dia menggunakan motor tua miliknya untuk praktik secara langsung, dengan cara bongkar pasang sendiri.

“Dulu belum ramai Youtube, terus saya praktik sendiri menggunakan motor tua, saya tidak pernah mendapat pelatihan montir,” ujarnya.

“Cuma main praktik-praktik aja, banyak gagalnya tapi saya jadi tau ternyata begini,” tuturnya.

Dia menjelaskan, motivasi ia sampai sekarang bertahan hidup adalah tidak ingin merepotkan orang lain dan memilih hidup mandiri.

“Saya ingin mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Bahkan kalau bisa saya bisa berguna untuk orang lain,” pungkasnya.(HS)

Disdik Siapkan PPDB Tahun Ajaran Baru Akhir Juni 2021

Kapolres Kendal Serahkan Raport Kenaikan Pangkat Pengabdian Bagi Anggota