Peralihan Musim, BMKG Sampaikan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Waterspout pada 20 Januari 2021 jam 16.00 WIB, di atas perairan Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. (Foto : BMKG.go.id)

 

HALO SEMARANG – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan, selama masa peralihan musim tahun ini.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin selama memasuki masa pancaroba tahun ini,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, seperti dirilis, Setkab.go.id, Jumat (12/3).

Dia mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, mulai akhir Maret 2021.

Salah satu ciri umum kejadian cuaca pada saat-saat semacam itu adalah adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat. Pada pagi hingga siang, umumnya cuaca cerah berawan, dengan kondisi panas cukup terik.

Namun dari siang hingga sore, dapat terbentuk awan tebal dan hujan deras dalam durasi singkat. “Selama periode peralihan musim, ada beberapa fenomena cuaca ekstrem yang harus diwaspadai, yaitu hujan deras dalam durasi singkat, yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, puting beliung, waterspout, dan hujan es,” kata dia.

Penting untuk diketahui, waterspout adalah angin puting beliung di atas permukaan air. Pusaran angin berbentuk corong vertikal ini, terbentuk di bawah awan seperti Cumulus congestus dan Cumulonimbus. Dibanding puting beliung di daratan, daya waterspout lebih kecil dan lemah.

Peristiwa munculnya waterspout ini, antara lain terjadi pada 20 Januari 2021 jam 16.00 WIB, di atas perairan Waduk Gajah Mungkur – Wonogiri.

Guswanto mengatakan, hujan es juga merupakan fenomena yang umum selama peralihan musim. Hal tersebut dipicu oleh pola konvektifitas massa udara dalam skala lokal-regional yang lebih signifikan selama periode peralihan musim.

Dalam sepekan ke depan, imbuhnya, juga diidentifikasi juga dinamika atmosfer yang  masih dapat berkontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

“Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi,” ujarnya.

Salah satu wilayah tersebut adalah Jawa Tengah. Selain itu juga dapat terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Banten Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

Juga berpotensi terjadi di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.