Penyebaran Meluas, Pemkot Terus Tracking Penularan Virus Corona dari Pedagang Pasar Kobong

Petugas Denpom IV/5 Semarang melakukan penyekatan di area Pasar Kobong Semarang yang telah terpasang police line setelah resmi ditutup sementara aktivitasnya mulai Sabtu,  (23/5/2020) hingga enam hari ke depan.

 

HALO SEMARANG – Pemkot Semarang, melalui Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Semarang telah melakukan rapid test maupun swab test di sejumlah fasilitas publik.

Di antaranya pusat perbelanjaan, pasar tradisional, masjid, kafe, dan tempat publik lainnya.

Hal itu karena munculnya klaster baru penyebaran virus corona, khususnya melalui pasar dan tempat keramaian lain.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, hasil dari rapid test maupun swab test yang telah dilakukan di sejumlah tempat, ada dua orang reaktif di Pasar Peterongan dan Pasar Karanganyu saat dilakukan rapid test.

Kemudian, dua orang tersebut langsung dilakukan swab test dan dinyatakan negatif.

Sementara, di Pasar Kobong, ada 8 orang reaktif saat dilakukan rapid test awal. Mereka pun langsung ditindaklanjuti dengan swab test dengan hasil positif.

“Kemudian, petugas melakukan tracking atau penelusuran terhadap keluarga orang yang dinyatakan positif dari klaster Pasar Kobong,” katanya.

Terakhir, 28 orang dinyatakan dengan rincian 11 orang merupakan warga luar Semarang dan 17 orang merupakan warga Semarang.

“Yang lebih ironis, ada dua keluarga di Pedurungan. Bapaknya ini pedagang di Pasar Kobong. Setelah kami tracking, istrinya ternyata juga positif, anaknya positif, beberapa tetangganya positif. Ini perlu kesadaran masyarakat meski nampak sehat, harus menerapkan SOP Kesehatan. Takutnya, kita merasa sehat, keluarga kena,” ungkap Hendi, sapaannya, Kamis (28/5/2020).

Hendi melanjutkan, pihaknya belum menganalisis secara pasti penyebab penularan yang terjadi di pasar.

Namun, menurutnya, pasar adalah pertemuan pembeli dan penjual yang mana penjual memasok barang dari berbagai daerah, semisal sayur dari Bandungan.

Ikan dari Tuban, Rembang, Pemalang, Tegal, dan lainnya. Hal ini sangat berpotensi terjadi penularan. Transaksi melalui uang tunai juga bisa saja menjadi media penularan.

“Di pasar ada transaksi uang, bisa juga. Seseorang yang menderita Covid-19, tangan tidak terjaga, membawa uang untuk transaski bisa menyebar. Diharapkan, tangan harus selalu bersih. Setelah pegang uang harus cuci tangan,” imbaunya.

Hendi melanjutkan, belum lama ini pihaknya juga menjumpai dua orang reaktif di masjid wilayah Semarang Barat. Setelah ditindaklanjuti dengan swab test, hasilnya negatif.

Sedangkan rapid dan swab test yang dilakukan di mal, swalayan, dan kafe, hasilnya masih negatif. Hingga saat ini, Tim Gugus Tugas telah melakukan hampir 10 ribu rapid test.

“Kami berangkat dari angka 47 kasus positif. Setelah penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM), sekarang ada 86 yang posituf. Jadi, kenaikannya ada 39 kasus. Ini jumlahnya banyak. Perlu kami sampaikan untuk tetap menjalankan SOP Kesehatan,” papar Hendi.

Dia mengaku prihatin terhadap masyarakat yang masih tidak menetapkan SOP kesehatan. Bahkan, saat diingatkan oleh tim patroli masih ada saja masyarakat yang membantah bahkan marah.

Sanksi tegas pun tetap diberlakukan. Unit usaha yang melanggar batas operasional akan ditutup, sementara bagi masyarakat yang bandel tidak memakai masker hukuman berat sementara ini diminta untuk push-up.

“Sampai tadi malam teman-teman patroli menemukan rombongan yang nongkrong di luar tanpa masker, diingatkan marah-marah. Saya rasa ini perlu gerakan bersama untuk menerapkan SOP kesehatan,” tambahnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.