in

Penutupan Ruas Jalan di Kota Semarang Dianggap Tidak Efektif Oleh Sejumlah Masyarakat

Jalan Prof Sudharto salah satu ruas jalan yang ditutup Pemerintah Kota Semarang untuk menekan mobilitas masyarakat.

 

HALO SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang terus berupaya melakukan pencegahan untuk menekan angka kasus Covid-19. Salah satunya dengan membatasi mobilitas masyarakat dengan menutup delapan ruas jalan di Kota Semarang selama dua pekan sejak Jumat (18/6/2021) hingga Jumat (2/7/2021).

Penutupan sejumlah ruas jalan tersebut diakui berdampak pada terbatasnya aktivitas masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Fauzi salah satu pekerja di kawasan Siranda. Menurutnya, adanya penutupan ruas jalan tidak efektif menekan angka kasus Covid-19.

“Agak menyusahkan dengan ditutupnya delapan ruas jalan selama dua pekan ini. Bagi orang yang kerjanya mobile dapat membuat waktu kerjanya tidak efisien karena harus mencari ruas jalan yang lain atau mencari jalan alternatif,” ungkap Fauzi kepada halosemarang.id, Selasa (22/6/2021).

Ia berujar, pengalihan arus lalu lintas kendaraan itu juga akan menimbulkan peningkatan jumlah kendaraan di ruas-ruas jalan yang tidak ditutup.

“Jatuhnya pun sama saja ketika jalan ditutup mereka mencari jalan lain, jalan lain itu bakal ramai,” imbuh pria asal Wonogiri ini.

Ditemui di tempat yang berbeda, Hesty, salah satu karyawan swasta mengatakan, dia sepakat dengan keputusan pemerintah untuk menekan laju kasus Covid-19.

Namun, dengan adanya penutupan ruas jalan, ia menganggap, aktivitas dirinya dan beberapa warga yang harus berangkat kerja menjadi terganggu. Sebab, ia terpaksa menempuh jarak yang lebih lama untuk sampai ke tempat kerjanya.

“Saya kerjanya lumayan jauh dari rumah dan melewati jalan yang ditutup, jadi agak susah karena saya harus cari jalan lain yang muter dan berangkat lebih pagi,” ujar Hesty, Selasa (22/6/2021).

Terpisah, salah satu warga Kota Semarang, Tamimi mengatakan, penutupan beberapa ruas jalan tersebut menyulitkan dirinya menuju tempat kerja. Ia mengaku berangkat lebih awal karena terpaksa melalui jalan lainnya dengan jarak yang ditempuh membutuhkan waktu lebih lama.

“Sedikit menyulitkan, karena saya harus mencari jalan lain untuk mengakses ke tujuan. Biasanya sih kayak jalan tikus jadi harus lebih awal berangkat kerja biar tidak telat,” tutur Tamimi.

Ia berpandangan, untuk menekan meluasnya kasus Covid-19, pemerintah tegas menerapkan aturan bekerja dari rumah. Hal itu dianggapnya lebih efektif dibanding menutup ruas jalan.

“Untuk menekan penyebaran Covid-19 pekerja bisa diwajibkan untuk WFH lalu jalan yang disekat benar-benar ditutup,” ujarnya.(HS)

Share This

Anggotanya Ada Yang Positif, Ketua PWI Jateng Ajak Wartawan Patuhi Prokes

Pria Ini Pakai Nama Pacarnya Untuk Penerimaan Paket Narkoba