in

Penurunan Muka Tanah di Semarang Kian Mengkhawatirkan

Foto ilustrasi: Rob yang menggenangi wilayah sekitar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

 

HALO SEMARANG – Kondisi penurunan muka tanah di Kota Semarang terus terjadi. Sebab, masih banyaknya eksploitasi pengambilan air bawah tanah (ABT), serta kondisi alam membuat beberapa wilayah di pesisir Semarang terendam air. Bahkan, sejumlah lahan tambak, permukiman, pemakaman, dan lapangan banyak yang sudah hilang akibat rob.

RW 15, Kelurahan Tanjungmas contohnya, menjadi salah satu wilayah yang mencoba bertahan dari naiknya air laut. Warga daerah yang dikenal dengan Tambak Lorok ini harus menguruk tempat tinggalnya agar tidak terendam air rob. Bagi yang punya budget/dana terbatas, tentu harus menanggul rumah agar air tidak masuk.

Salah-satu warga Slamet Riyanto yang juga ketua RW 15 Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara ini rumahnya nyaris tenggelam karena jalan perkampungan ditinggikan.

Lantai dua rumahnya hanya berjarak kurang lebih 1,5 meter dari jalan. Sementara lantai pertama ternit sudah nyaris menyentuh kepala.

“Ini rumah mertua saya, dulu lantai satu ya hampir dua meter. Sekarang hampir satu kepala, memang ada penurunan tanah di sini,” kata istri Slamet, Sri Wahyuni, Senin (9/8/2021).

Tanggul di teras rumah sengaja dipasang agar air rob tidak masuk saat pagi hari. Selain itu meteran listrik sudah beberapa kali ditinggikan agar tidak terkena air.

“Kalau yang uangnya banyak ya ditinggikan, namun paling setahun kembali terendam rob. Jalan depan rumah juga sudah ditinggikan, nggak lama juga terendam,” jelasnya sambil menunjukkan ketinggian air sekitar selutut di sekitar rumahnya.

Namun tidak dipungkiri jika warga enggan pindah. Menurut dia, suaminya yang asli warga Tambaklorok mencoba beradaptasi dengan keadaan itu. Termasuk warga lainnya yang bernasib sama dengan dirinya, menurutnya ada sekitar 500 keluarga yang ada di wilayah ini juga merasakan hal yang sama.

“Dulu Pemkot Semarang pernah akan membangun sabuk pantai biar robnya tidak masuk. Katanya ada wacana juga tol atau tanggul laut, harapan saya bisa terealisasi sehingga warga bisa hidup tenang,” pungkasnya.

Abdul Wachid (50), warga lainnya mengaku, saat kecil masih ada makam dan lapangan di sebelah utara perkampungan. Namun saat ini makam tersebut sudah tenggelam. Kondisi rumahnya pun hampir sama dengan rumah milik Slamet yang makin pendek karena penurunan tanah.

“Sudah tenggelam semua, agar tidak kena rob ya harus meninggikan rumah,” ujarnya.

10 Cm/Tahun

Area pemakaman sendiri kini hilang tak berbekas, kadang hanya terlibat batu nisan di atas permukaan air. Ada pula yang diberi tanda dengan kayu agar mudah menemukan makam keluarga yang sudah meninggal.

“Nggak sempat dipindah, kalau ziarah ya pakai perahu atau dekat makam yang kering kalau robnya turun,” ugkapnya.

Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin menjelaskan, pemerintah Kota Semarang sebenarnya sudah melakukan langkah antisipasi. Menurut mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang ini, penurunan tanah pertahun sekitar 10 sentimeter.

“Soal penurunan tanah atau land subsidence itu, penelitiannya memang sudah lama. Ada penurunan setiap tahun sekitar 10 sentimeter. Menurut penelitian pula, land subsidence mulai terjadi 20-30 tahun lalu,” katanya.

Faktor penyebab penurunan tanah sendiri, bukan hanya dari pengambilan air bawah tanah saja. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut. Namun penelitian yang sudah ada, juga digunakan sebagai referensi untuk melakukan langkah antisipasi.

“Misalnya pembangunan SPAM Semarang Barat untuk penyediaan air bersih di kawasan Barat Kota Semarang, juga sebagai upaya meminimalisir pengambilan air bawah tanah. Beberapa daerah yang belum menggunakan PDAM bisa teraliri, kawasan industri pun sudah berkurang pengambilan air tanahnya,” terangnya.

Selain Pemkot Semarang, Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemerintah Pusat juga melakukan upaya agar wilayah pesisir Kota Semarang ini tidak terus tenggelam. Misalnya dengan adanya perda larangan pengambilan air bawah tanah.

Selain itu juga adanya dua proyek jalan tol, yaitu Tol Semarang-Demak yang sudah berjalan di sesi 2 dan juga ada Tol Pelabuhan atau Harbour To Road. Tol tersebut lanjut Iswar, memiliki fungsi sebagai tanggul laut.(HS)

Share This

Vespa Club Semarang, Panutan Tertib Di Jalan

Jelang Pemilihan Ketua PWI Kendal, Perwakilan PWI Jateng Berikan Pemahaman Tentang Tata Cara