Pentingnya Pembelajaran Sejarah Bagi Generasi Muda

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Abdul Aziz berbincang dengan pihak BPCB Jawa Timur saat kunjungan kerja ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Jatim, Kamis (21/10/2020).

 

HALO SEMARANG – Pembelajaran sejarah dinilai sangat penting untuk dipahami generasi muda.

Maka untuk itu Komisi E DPRD Provinsi Jateng berharap, agar pembelajaran sejarah bagi generasi muda lebih ditekankan.

Mengingat animo generasi muda terhadap sejarah masih kurang, sehingga diperlukan terobosan untuk mengemas menyampaikan sejarah yang menarik. Sehingga menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui sejarah.

Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng, Abdul Hamid menyatakan, di era milenial ini para pemuda, remaja, dan pelajar di Provinsi Jateng banyak yang kurang tertarik mempelajari sejarah.

Untuk itu, menurutnya, pembelajaran sejarah bagi generasi muda perlu ditekankan agar mereka mengetahui budaya yang ada di Indonesia.

“Jika dikaitkan dengan sejarah, biasanya banyak dinikmati oleh kelompok tua. Maka diperlukan pengemasan yang tepat dalam menyampaikan sejarah kepada generasi muda, agar mereka lebih tertarik mempelajari sejarah budaya asli Indonesia. Tantangannya itu, bagaimana generasi muda di Jateng bisa memahami situs sejarah yang ada di Indonesia,” ujarnya saat kunjungan kerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Jatim, Kamis (21/10/2020).

Kunjungan kerja Komisi E DPRD Jateng ke BPCB Trowulan Mojokerto itu untuk meminta masukan tentang upaya pelestarian cagar budaya ke Provinsi Jatim, khususnya peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.

Abdul Aziz menambahkan, bahwa Jateng juga memiliki Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Sejumlah situs dan peninggalan sejarah masa lalu di wilayah Jateng juga telah dikelola dan dipelihara.

“Sampai saat ini, Jateng juga mempunyai beberapa candi dan situs sejarah yang sudah dilestarikan dan dipelihara dengan baik,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Endrianingsih menyatakan, penemuan benda bersejarah yang akhir-akhir sering terjadi di wilayah Indonesia memiliki nilai edukasi bagi generasi muda.

Selain itu, melalui penemuan benda bersejarah itu diharapkan generasi muda semakin cinta terhadap sejarah bangsanya.

“Hasil temuan benda bersejarah itu bisa menjadi tambahan koleksi yang nantinya bisa menjadi pembelajaran bagi generasi muda,” ujarnya.

Sementara, Kepala BPCB Jawa Timur, Andi Muhammad Said mengatakan, zonasi di situs Trowulan sudah dilakukan agar bisa menjadi batasan untuk masyarakat.

“Kendalanya, ada beberapa zona yang jadi satu dengan masyarakat, dan kami harus bernegosiasi dengan masyarakat terkait pemanfaatan lahan yang berlebihan di zonasi situs tersebut,” katanya.

Andi menambahkan, di wilayah Jawa Timur memiliki bermacam-macam situs yang hingga kini banyak dikunjungi masyarakat.

“Berdasarkan data jumlah wisatawan, situs yang menjadi objek wisata adalah Makam Sunang Bonang, Makam Sunan Giri, Makam Ibrahim Asmoro Qondi, Makam Sunan Drajat, Makam Air Mata Ibu, Makam Sentonogedong, Candi Penataran I, Candi Jolotundo, Candi Bajang Ratu, dan Candi Tikus,” ujarnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.