Pengurus NU Harus Tingkatkan Ideologi Organisasi

Jajaran Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu saat dilantik di PP Aris, Kaliwungu, Minggu (4/4/2021).

 

HALO KENDAL – Para pengurus NU harus mulai sadar untuk meningkatkan ideologi organisasi. Sebab di antara ormas Islam yang ada, NU memiliki indeks ideologi sangat rendah, bahkan cenderung indeks ideologi ini tidak dimiliki para pengurus.

Baik di tingkat tanfidziah, kemudian Gerakan Pemuda Ansor, maupun badan otonom (banom) lainnya di Nahdlatul Ulama (NU).

Demikian disampaikan Rois Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jateng, Ubaidillah Shodaqoh saat memberikan tausiah pada Pelantikan dan Rapat Kerja MWC NU Kaliwungu, di Pondok Pesantren Aris, Kaliwungu, Minggu (4/4/2021).

Ditambahkan, dengan indeks ideologi rendah, tentu menurutnya menjadi persoalan. Sebab NU ini memiliki bassis massa atau jamaah yang secara jumlah terbesar di Indonesia.

“Justru di NU, kader yang memiliki indeks ideologi tinggi adalah pada Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Mereka tidak dibayar, tapi siap berkorban untuk berjuang di NU dan membela kiai dan ulama NU,” imbuh Ubaidillah.

Bahkan jika bicara jumlah, kader Banser ini jumlahnya sangat banyak. Yakni tercatat lebih dari delapan juta personel.

“Jumlah tersebut melebihi jumlah personel yang dimiliki oleh TNI dan Polri. Bahkan jika keduanya digabungkan, masih kalah banyak dengan personel Banser,” jelasnya.

Makanya, lanjut Ubaidillah, menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus NU untuk meningkatkan Ideologi Organisasi NU. Yakni dengan Pendidikan Kader Penggerak (PKPNU).

“Dalam hal ini, ulama harus berada di depan sebagai pencerah ideologi NU. Para kader harus diberikan pemahaman tentang organisasi lain di luar NU,” tandasnya.

Peningkatan ideologi ini menurutnya penting untuk menjaga tradisi dan ajaran NU yang selama ini ada di masyarakat. Terlebih dengan UU Omnibus Law yang telah disahkan.

“Dengan UU tersebut nantinya pendidikan dari luar negeri bisa masuk ke Indonesia sebagai bagian dari investasi. Sebab, pendidikan sudah dianggap investasi ekonomi,” ujarnya.

Selain itu pendidikan dari luar negeri juga harus diantisipasi. Sebab tentu membawa pengaruh budaya asli dari negeri asalnya.

“Padahal NU selama ini mengajarkan pendidikan sebagai sebuah investasi masa depan. Yakni untuk mendalami ilmu agama dan kebaikan akhlak. Bahkan guru-gurunya rela tidak mendapatkan gaji,” ungkapnya.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Kaliwungu, KH Mohamad Abbas mengatakan, salah satu program kerja yang akan dilakukan NU Kaliwungu adalah peningkatan ideologi Ahli Sunnah Waljamaah.

Menurutnya, peningkatan ideologi tersebut yakni melalui Lembaga Dakwah (LD) NU dan Forum Bahtsul Masail.

“Kami akan adakan kajian-kajian ke-NU-an seperti kajian Kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, Imam Syafi’i dan sebagainya. Selain itu membentengi masyarakat dari gerakan radikal dengan pengajian dan aksi sosial,” terangnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.