Pengungkapan Kasus Narkoba Di Wilayah Hukum Polda Jateng Meningkat

Direktur Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jateng, Kombes Pol IG Agung Prasetyoko.

 

HALO SEMARANG – Pengungkapan kasus narkoba di wilayah hukum Polda Jawa Tengah selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Ditresnarkoba Polda Jateng, pada tahun 2018 jumlah kasus yang ditangani sebanyak 1.305 kasus, dengan 1.649 tersangka, pada tahun 2019 jumlah kasus mencapai 1.340 dengan jumlah tersangka 1.714 orang.

Sementara, periode Januari hingga Oktober 2020, berhasil mengungkap penyalahgunaan narkoba sebanyak 1.588 kasus, dengan tersangka sebanyak 1.951 orang.

Direktur Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jateng, Kombes Pol IG Agung Prasetyoko menyatakan, banyaknya kasus yang dapat diungkap merupakan hasil dari kerja keras para anggotanya.

“Karena pengungkapan kasus penyalahgunaan narkotika tergantung pada etos kerja anggota kepolisian, bukan seperti kasus umum di mana ada yang melaporkan,” ujarnya.

Menurutnya, upaya mengungkap kasus penyalahgunaan narkotika memiliki tingkat kesulitan yang luar biasa. Di mana para anggota harus mencari sendiri mulai dari pemakai, kurir, bandar, hingga produsen.

“Mengukur etos kerja anggota reserse narkoba itu dari jumlah kasus yang dapat diungkap, jika kasusnya banyak maka kinerjanya bagus. Tetapi jika kasusnya sedikit maka kebalikannya. Indikasi suatu wilayah ada penyalahgunaan narkotika, yakni ketika di daerah itu ada pemakai maka pasti ada pengedarnya. Yang kami tangkap bukan pemakai akan tetapi pengedarnya,” paparnya.

Lebih lanjut Agung Prasetyono menjelaskan, saat ini banyak tantangan dalam pengungkapan kasus penyalahgunaan narkotika seperti narkoba mudah masuk melalui jalur darat, laut, dan sungai.

Selain itu, lanjutnya, masih rendahnya niat para pelaku penyalahgunaan narkoba untuk pulih, serta tingginya angka coba pakai dan teratur pakai menjadi problem sendiri dalam memutus mata rantai peredaran narkoba.

“Tidak cukup sampai di situ saat ini juga marak peredaran narkoba dari lapas dengan leluasanya para bandar beroperasi dari dalam lapas,” tuturnya.

Dia menegaskan, bahwa Direktorat Reserse Narkoba Polda Jateng tidak dapat bekerja sendiri dalam memutus rantai peredaran gelap narkotika.

Namun harus ada sinergitas antar-instansi terkait bahkan perlu adanya peran aktif dari masyarakat.

“Tindak pidana penyalahgunaan narkotika merupakan kejahatan kemanusiaan dan tidak mengenal batas wilayah, sehingga dinamakan extra ordinary. Untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan adanya sinergitas berupa komunikasi, koordinasi dan kolaborasi antar lembaga dan organisasi,” paparnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.