in

Pengrajin Topeng dan Jaran Kepang Banting Setir Rangkai Miniatur Truk Oleng

Sutur saat merangkai miniatur truk oleng yang sedang naik daun.

 

HALO SEMARANG – Berawal dari sepinya pesanan pembuatan topeng dan jaran kepang, membuat Sutur warga Dusun Gading Kidul, RT III RW V, Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal banting setir menjadi pengrajin miniatur truk.

Ia nampak serius merangkai bagian-bagian dari miniatur truk, mulai menggabung sasis dan roda, kabin dan bak hingga memasang pernak-pernik miniatur truk oleng yang sedang naik daun itu.

Berulang-ulang hingga jumlah pesanan ia penuhi. Di sela kegiatan merangkai, ia juga memproduksi untuk stok dan sampel bagi pembeli yang akan memesan. Saat pesanan ramai, ia mampu mengajak temannya untuk bergabung membuat truk mini.

“Ada sekitar enam orang dulu yang ikut dengan saya. Karena keadaan awal pandemi banyak yang nganggur, saya ajak saja. Tapi sekarang semuanya sudah mendapat kerja masing-masing, jadi saya produksi sendiri,” kata Sutur, Minggu (5/9/2021).

Penyesuaian semakin ia lalui seiring lamanya pandemi yang belum usai. Mau tak mau, ia dituntut menjala rupiah demi terus mengepulkan asap dapurnya.

Sebelum membelot dari kerajinan topeng dan jaran kepang dan menggeluti kerajinan miniatur truk, ia lebih dulu singgah pada jasa mural foto dinding. Dari jasa melukis foto di atas media dinding itu ia kumpulkan sebagai modal usahanya saat ini.

Sutur masih teringat awal Agustus tahun lalu. Ia memanfaatkan peluang maraknya tayangan di YouTube yang sedang digandrungi anak-anak, kemudian terbesitlah ide pembuatan miniatur truk.
Meski sekarang produksi sendirian, Sutur mengaku setiap harinya mampu membuat lima miniatur truk yang dibagi menjadi empat ukuran. Dari ukuran kecil, sedang, besar dan jumbo.

Miniatur truk ukuran kecil, dengan dimensi panjang 30 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 12 cm dan tebal tripleks 3 ml. Ukuran sedang, panjang 37 cm, lebar 13 cm, tinggi 16 cm, tebal tripleks 4 ml. Ukuran besar, panjang 45, lebar 15 cm, tinggi 20 cm, tebal tripleks 4 ml. Ukuran jumbo, panjang 60 cm, lebar 21cm, tinggi 25 cm, tebal tripleks 6 ml.

“Harga mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 600 ribu tergantung ukuran dan kelengkapan seperti custom desain, tambah lampu, atau musik,” jelasnya sambil menunjuk miniatur truk buatannya.

Dalam sehari, ia mampu menjual minimal tiga buah miniatur truk. Saat ramai, bisa sampai sepuluh miniatur truk terjual dalam satu hari.
Pelanggannya tidak hanya sekitaran Kendal dan Kota Semarang, namun sudah merambah hingga luar Pulau Jawa. Ia menyebut dari Kalimantan hingga Papua telah banyak yang memesan.

“Saya biasa memanfaatkan media sosial untuk memasarkan. Tapi kalau bisa saya sarankan pelanggan datang ke sini, tapi kalau luar Pulau Jawa tidak,” tutur pria kelahiran Banjarnegara ini.

Sutur optimistis masa depan bisnis pembuatan miniatur truk akan tetap eksis. Namun, sesuai perkembangan zaman ia akan beradaptasi dengan situasi dan kondisi.

“Kalau serius, saya yakin miniatur truk buatan para pengrajin lokal mampu bersaing dengan produk pabrikan. Sebab pengrajin lokal, itu lebih kreatif. Dilihat saja, dari realitas tampilan truk kemudian dibuat miniatur, lengkap ada lampu, musik, custom desain. Berbeda dengan produk pabrik yang bersifat monoton, yang hanya dari gambar truk jadi miniatur,” papar ayah dua anak ini.(HS)

Share This

Sekolah Alam Pringgodani Sukorejo, Mengajak Peserta Belajar Sambil Mencintai Alam

Antisipasi Balapan Liar, Polres Kendal Gelar Patroli Di Area Pelabuhan dan KIK