in

Penggusuran Puluhan Rumah Liar Di Ngaliyan Diwarnai Perlawanan Warga

Petugas Satpol PP menggunakan alat berat merobohkan rumah warga di Kampung Karangsari, Jalan Kamajaya Raya, Kecamatan Ngaliyan pada Rabu (7/7/2021).

 

HALO SEMARANG – Satpol PP Kota Semarang merobohkan 20 rumah di Kampung Karangsari, Jalan Kamajaya Raya, Kecamatan Ngaliyan pada Rabu (7/7/2021).

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, penindakan tersebut lantaran puluhan rumah yang berdiri di atas tanah seluas 9000 meter persegi itu, berada di tanah milik orang lain dan tak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

Saat dilakukan penertiban dan penggusurusan, beberapa warga sempat melakukan perlawanan. Mereka beranggapan bahwa sengketa lahan ini masih belum tuntas.
Namun akhirnya warga tak dapat berbuat apa-apa karena dua alat berat digunakan untuk merobohkan tempat tinggalnya.

“Perobohan ini mengacu keputusan PTUN nomor 12/B/2021 PTUN. Ini sengketanya sudah sejak setahunan yang lalu,” kata Fajar Purwoto di lokasi.

Fajar menambahkan, penindakan sudah didahului dengan surat pemberitahuan pada Februari 2021. Saat itu, pihak dari Komnas HAM juga sudah membantu mediasi antara warga, Pemerintah Kota, dan pemilik tanah yang sah.

“PTUN sendiri menyatakan tanah ini milik Ryan Wibowo. Makanya 7 hari sebelum ini sudah kita lakukam somasi. Kemudian hari ini kita bongkar. Warga juga tidak punya sertifikat apapun,” jelasnya.

Pemilik tanah yang sah, kata dia, sudah berpuluh puluh tahun kesulitan menempati tanahnya karena ditempati oleh warga.

“Dari dulu pemilik tanah tidak bisa menempati. Polemik polemik terus,” terang dia.

Sebagian warga, kata dia, sudah ada yang menerima tali asih. Namun ada juga yang menolak tali asih.

“Yang terima tali asih berkisar 10 sampai 20 jutaan. Kalau yang menolak ini karena mereka beranggapan bakal menang di PTUN,” pungkasnya.

Dari pantauan dalam pelaksanaan penggusuran, kericuhan sudah terjadi sejak di pintu masuk kampung tersebut. Sejumlah warga berteriak mempertanyakan surat perintah perobohan dan bukti kepemilikan tanah.

Warga juga menghalangi petugas dengan membentuk pagar betis dan memasang tumpukan ban bekas di jalan akses masuk, agar petugas Satpol PP tak bisa melakukan penggusuran. Namun usaha itu sia-sia lantaran petugas membubarkan blokade warga dengan menggunakan dua anjing pelacak.

Sementara itu, salah seorang warga, Mustakim (42) mengaku tak terima adanya pembongkaran ini. Dia mengklaim pengadilan belum menjatuhkan keputusan akhir.

“Pengadilan belum menyatakan keputusannya, tapi kenyataannya kok kayak gini, rumah warga langsung dihancurkan. Keadilan dari mana. Ndak punya kemanusiaan,” imbuhnya.(HS)

Share This

Sosiolog: Aksi Berlebihan Penanganan Pelanggaran PPKM, Bentuk Komunikasi Tak Tuntas

Satwa Langka, dari Burung Kasuari hingga Kakatua Dikembalikan ke Habitatnya