Penganiayaan di Temanggung Murni Karena Dendam Pribadi

Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi, SIK MSi, Sabtu (20/3), dalam konferensi pers, berkaitan dengan kasus penganiayaan di Desa Kemiri Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. (Foto : Tribratanews.jateng.polri.go.id)

 

HALO TEMANGGUNG – Kasus penganiyaan di Desa Kemiri Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung, Minggu (14/3), hingga menyebabkan korbannya meninggal, murni karena dendam pribadi, dan tak berhubungan dengan suku agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Karena tindakan tersebut sudah direncanakan, pelaku, yaitu M (59) warga Desa Kemiri, Kecamatan Kaloran Temanggung, dapat dikenai hukuman mati, seumur hidup, atau 20 tahun penjara.

Dua hal itu, diungkapkan Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi, SIK MSi, Sabtu (20/3), dalam konferensi pers, berkaitan dengan kasus penganiayaan tersebut.

Seperti dirilis Tribratanews.jateng.polri.go.id, Kapolres menjelaskan pada kejadian tersebut, pelaku membacok korban yang tak lain adalah tetangganya, yaitu Muh Dhori (69), ketika korban memimpin Salat Subuh dan istri-nya Trimah (55) sebagai makmum yang berupaya menghalangi pelaku.

Dalam kasus ini, istri korban meninggal dunia di RSUD Temanggung akibat luka serius. Adapun Muh Dhori mengalami luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Tindak pidana menghilangkan nyawa orang lain dengan direncanakan terlebih dahulu dan atau penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu mengakibatkan kematian orangnya, maka terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara 20 tahun,” kata Kapolres.

Dia menyampaikan dalam kasus ini, pihaknya telah memeriksa lima saksi, terdiri atas empat orang jamaah shalat subuh dan satu orang yang merupakan istri pelaku.

Kapolres menyebutkan pelaku melakukan pembacokan kepada korban pertama dengan alat arit hingga mengenai kepala dua kali, punggung satu kali dan lengan satu kali.

Setelah itu melakukan pembacokan kepada korban kedua yang mencoba melindungi suaminya, mengenai bagian kepala korban sebanyak satu kali. Kemudian pelaku pergi meninggalkan masjid dan menuju ke Polsek Kaloran untuk menyerahkan diri.

Menurut Benny, motif pelaku menganiaya korban karena tidak suka atau membenci dan sakit hati kepada kedua korban.

“Perbuatan tersangka sudah direncanakan dengan mempersiapkan senjata tajam dua hari sebelum kejadian dengan mengasah bendo arit dan membuat gagang kayu 70 centimeter yang ujungnya ada pisaunya,” tuturnya.

Sementara itu, saat dilakukan pemeriksaan bahwa tersangka melakukan penganiayaan di waktu subuh karena sepi dan masih gelap, sehingga mudah untuk melarikan diri.

Dari kejadian tersebut petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa satu buah bendo arit, satu buah pisau dengan ganggang kayu 70 cm, satu buah asahan (wungkal), satu stel pakaian tersangka, dua stel baju dan alat sholat milik kedua korban

Kapolres menegaskan bahwa perbuatan pelaku murni dendam pribadi kepada korban, dan tidak ada sangkut paut dengan masalah Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan.

“Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHPidana dan atau Pasal 355 ayat 2 KUHPidana dan Pasal 355 ayat 1 KUHPidana tentang menghilangkan nyawa orang lain dengan direncanakan terlebih dahulu dan penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu mengakibatkan kematian orangnya. Tersangka terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama 20 tahun,” tegas Kapolres. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.