in

Pengamat Transportasi: Kelompok Usia Pelajar Paling Dominasi Jadi Korban Kecelakaan Lalu Lintas

Foto ilustrasi kecelakaan. (Dok/freepik.com)

 

HALO SEMARANG – Dari catatan Kementerian Perhubungan yang didapat dari Korlantas Polri pada tahun 2020, korban kecelakaan lalu lintas paling banyak adalah kelompok pelajar.

Di mana jumlah korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas tersebut termasuk mahasiswa, dan pekerja muda atau milenial, yakni sebesar 56.187 jiwa atau 43,06 persen. Sehingga di Indonesia setiap satu jam ada dua sampai tiga orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Sedangkan, jenis kendaraan yang sering terlibat kecelakaan lalu lintas selama tahun 2016-2020 adalah sepeda motor, yaitu sebesar 74,54 persen. Menurut usia, angka kecelakaan lalu lintas berdasarkan usia terbanyak pada usia 20-24 tahun dan peringkat kedua pada usia 15-19 tahun.

Usia korban yang terlibat kecelakaan lalu lintas tertinggi pada rentang tahun 2016-2020 adalah usia 15-24 tahun, yaitu usia muda produktif. Di kisaran 18 persen-26 persen.

Di tahun 2016 ada 49.084 korban (18,97 persen), tahun 2017 ada 36.104 korban (21,64 persen), tahun 2018 ada 41.928 korban (24,19 persen), tahun 2019 ada 54.809 korban (22,41 persen), dan tahun 2020 ada 38.124 korban ( 35,79 persen).

“Data kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun bervariasi. Dalam lima tahun terakhir kecelakaan lalu lintas terendah tahun 2020, yakni 100.028 kejadian. Dapat dipahami, karena di masa pandemi Covid-19 mobilitas orang menurun drastis. Otomatis angka kecelakaan lalu lintas akan menurun. Sebelumnya sejak tahun 2016 hingga tahun 2020, tertinggi di tahun 2019, yaitu 116.411 kejadian,” terang Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, Minggu (26/9/2021).

Dari total 56.187 jiwa (43,06 persen) korban kecelakaan kelompok pelajar, mahasiswa dan pekerja muda, kata dia, mereka memiliki rentang usia 10 – 19 tahun sebesar 26.906 jiwa (20,62 persen) dan usia 20 -29 tahun sebesar 29.281 jiwa (22,44 persen).

“Kemudian diikuti kelompok usia 50 tahun ke atas 31.740 kejadian (24,32 persen), kelompok usia 10 tahun-19 tahun ada 26.906 korban jiwa (20,62 persen), kelompok usia 40 tahun-49 tahun ada 17.980 korban jiwa (13,78 persen), dan terendah di usia 0 – 9 tahun ada 6.027 korban jiwa (94,62 persen),” terangnya.

Sekarang ini, lanjut Djoko, kecelakaan lalu lintas sudah menjadi salah satu aspek terkemuka di dunia. Korbannya paling tinggi generasi muda yang akhirnya mempengaruhi produktivitas individu terhadap bangsa.

“Saat ini ada lebih dari 1,25 juta kasus kecelakaan setiap tahun di dunia. Sementara di Indonesia, setiap hari 60-80 orang meninggal seketika karena kecelakaan lalu lintas. Namun jika ditelusuri dari sejumlah korban yang luka berat, bisa jadi yang meninggal setiap hari lebih dari 100 jiwa. Ini bukan pertanyaan angka, namun akan sangat bernilai dan bermakna jika ada upaya untuk menguranginya,” ujarnya.

Melihat prosentase kecelakaan lalu lintas pada kaum muda, kata dia, pemerintah setempat harus fokus memperhatikan cara-cara menguranginya di kalangan kelompok usia poduktif ini. Pemda/Pemkot harus peduli keselamatan program kecelamatan tidak hanya dilakukan pemerintah pusat, namun pemda juga wajib menganggarkan.

“Sekarang ini, Dinas Perhubungan di kabupaten/kota konsentrasi membantu menaikkan PAD melalui aktivitas, parkir, kir dan terminal. Sesungguhnya, Dinas Perhubungan itu fokus pada program keselamatan dan pelayanan. Keselamatan transportasi untuk semua usia di semua sektor. Kemudian memberikan pelayanan penyediaan transportasi umum, jalur sepeda dan pejalan kaki yang humanis,” paparnya.

Misalnya, kata dia, Pemda/Pemkot bisa memberikan subsidi angkutan umum, sehingga tarifnya murah dan akan banyak pelajar menggunakan angkutan umum adalah bagian program keselamatan. Artinya, pelajar didorong menggunakan angkutan umum dan meninggalkan sepeda motor ke sekolah.

“Banyaknya angkutan pedesaan yang punah dan jika masih beroperasi tidak lebih dari 10 persen, hal ini menandakan kurang pedulinya kepala daerah pada layanan angkutan umum di daerahnya. Dampaknya, sekarang ini kebanyakan pelajar menggunakan sepeda motor atau angkutan barang bak terbuka berangkat dan pulang sekolah,” pungkasnya.(HS)

Share This

Festival Kopi Magelang Digelar 2 Oktober, Sejuta Cangkir Kopi Dibagi Gratis

Manjakan Lidah Pecinta Kuliner, Restoran Metro Park Hotel Sajikan “Nasi Goreng Kota Lama”