in

Pengamat Kesehatan: Cegah PTM Jadi Klaster Baru, Sekolah dan Ponpes Harus Antisipasi Aktivitas Berisiko

Ilustrasi corona.

 

HALO SEMARANG – Banyaknya kasus siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 setelah diselenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah, membuat Dinas Pendidikan Kota Semarang menunda selama sepekan dari semua aktivitas di sekolah.

Di sisi lain, kebijakan memulai PTM terbatas harus tetap dilakukan karena pandemi sampai sekarang belum selesai. Sejumlah kalangan lainnya seperti dewan dan pengamat juga ikut menganggapi terkait kasus siswa sekolah di Kota Semarang banyak yang terpapar Covid-19, agar Dinas Pendidikan melakukan evaluasi.

Menurut Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Enny Rachmani, SKM, MKom, PhD, kegiatan PTM terbatas memang bagaimapun harus dibuka kembali meski di tengah suasana pandemi yang belum berakhir. Mengingat, nantinya akan berpengaruh pada kualitas pendidikan pada anak didik, sehingga mau tidak mau sekarang ini harus hidup berdampingan dengan Covid-19 yang menyesuaikan tatanan hidup baru atau New Normal.

“Sebenarnya di masing-masing satuan pendidikan seperti sekolah-sekolah maupun pondok pesantren sudah menyiapkan seperangkat aturan SOP di lingkungannya dan sudah sesuai serta diterapkan. Namun dari pengamatan saya titik yang rawan terjadi penyebaran virus Covid-19 justru pada pelaksanaan keseharian PTM di luar kelas,” terangnya, Selasa (2/11/2021).

Untuk itu, kata Enny, jika tidak diantisipasi, dikhawatirkan akan terjadi klaster baru di PTM.

“Terutama pada proses saat anak didik yang mendapatkan jatah masuk ke sekolah untuk benar-benar diperhatikan, karena risiko terpapar penularan Covid-19 besar. Sehingga sebisa mungkin tetap bisa dilacak kontak erat, jangan sampai terjadi lost contact tracing, dengan di antar-jemput oleh orang tua. Kalau naik dengan angkutan umum akan sulit melacak kontak eratnya dengan siapa,” ujarnya.

Memang, lanjut Enny, keputusan ini kembali lagi sesuai dengan kondisi perekonomian masing-masing, karena tidak semua memiliki kendaraan pribadi dan bisa diantar jemput orang tuanya.

“Ada yang naik angkot dan bus umum. Bisa jadi siswa tertular saat terjadi kontak dengan orang lain saat akan pergi dan pulang ke sekolah,” paparnya.

Prinsipnya, kata Enny, yang perlu diwaspadai terjadi penularan Covid-19, yakni setelah pulang sekolah atau saat pergi ke sekolah.

“Kalau siswa SD sih masih aman, biasanya ke sekolah diantar orang tua, tapi untuk siswa SMA/SMK biasanya pergi ke sekolah naik angkutan umum. Kalau bisa siswa naik kendaraan pribadi atau diantar orang tua ke sekolahnya,” harapnya.

Belum lagi, ditambahkan Enny, karena saat ini umumnya orang mulai ada perasaan jenuh, untuk mematuhi protokol kesehatan secara ketat.

“Mungkin untuk menjaga prokes mulai kendor, terutama anak didik yang terlalu lama hanya belajar daring di rumah, setelah masuk sekolah, masih sering berkumpul dengan teman-teman di sekolah. Ngobrol di luar kelas dengan masker terbuka, ini risiko penyebaran virus Covid-19, adanya kumpul-kumpul, ngobrol bahkan makan,” imbuhnya.

Kalau di kelas, menurut Enny masih bisa diawasi prokesnya, karena mudah dalam pengawasan gurunya.

“Tapi di luar jam sekolah misalnya, agak kesulitan dari sisi pengawasannya jika siswa berkerumun, harusnya sekolah atau satgas Covid-19 mengambil tindakan tegas membubarkan, terkadang sekolah kecolongan di sini,” katanya.

Enny memberikan solusi agar PTM terbatas ini ke depan tidak terjadi klaster baru penyebaran virus corona, agar Satgas Covid-19 dibentuk di lingkungan sekolah harus berani menegakkan peraturan dan selalu rutin melakukan pengecekan rutin di lingkungan sekolah.

“Dan berani menegur ketika ada siswa dan guru yang tidak patuh prokes, sehingga terjaga dari terpapar Covid-19. Memang harus ada petugas yang patroli untuk mengawasi prokes di sekolah yang ketat. Lalu, apabila ada ditemukan positif Covid-19, langkah yang dilakukan tracking dan sementara proses belajar di sekolah dihentikan dulu,” pintanya.

Tak kalah pentingnya, dijadwalkan tes Covid-19 dengan rutin bagi guru dan siswa untuk mengantisipasi terjadi penularan Covid-19 di sekolah. Dikatakan Enny, untuk kasus siswa Pondok Pesantren yang juga terkonfirmasi positif Covid-19, bisa terjadi juga.

“Karena, jenis Ponpes yang siswanya pulang pergi tidak tinggal di Ponpes justru punya risiko besar terpapar Covid-19. Karena, banyak orang baru yang keluar masuk Ponpes dari luar lingkungannya, sehingga bisa menyebar makin banyak. Berbeda dengan yang menetap di Ponpes, karena dari awal sudah dipastikan bebas Covid-19 dan tidak ada yang di luar lingkungan keluar masuk Ponpes,” terangnya.

Enny berharap kepada pemerintah, terkait prokes masyarakat yang mulai kendor untuk terus dimonitor.

“Tidak hanya prokes di sekolah tetapi mal, restoran, dan tempat lainnya. Apabila menemukan masyarakat tidak prokes bisa menegur dan mengimbau serta jika terpaksa diberikan sanksi tegas. Karena kita saat ini hanya bisa terhindar dari virus dengan melakukan prokes dan vaksin, yang sampai sekarang pandemi belum musnah,” pungkasnya.(HS)

Share This

USM Ajarkan Pembuatan Sabun Deterjen Cair Ramah Lingkungan Kepada Warga Ungaran

Ungkap Kasus Pelemparan Narkotika Ke Lapas Kedungpane, Polisi: Sekali Lempar Rp 500 Ribu