in

Pendangkalan Sungai Tinggi, Warga Terdampak Banjir Minta Pemkot Semarang Lakukan Normalisasi Kali Plumbon

HALO SEMARANG – Warga terdampak banjir, terutama di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Plumbon wilayah Mangunharjo, Kecamatan Tugu meminta kepada pemerintah kota Semarang untuk melakukan normalisasi atau pengerukan sedimen yang saat ini cukup tinggi di sungai tersebut.

Selain faktor hujan deras selama beberapa jam pada Minggu (6/11), limpasan banjir di permukiman warga diperparah dengan luapan air dari aliran Sungai Plumbon akibat talud sungai jebol karena tidak kuat menahan debit air yang tinggi.

Ada sekira 30 rumah atau 85 Kepala Keluarga (KK) terendam banjir sampai setinggi lutut orang dewasa.
Ketua RT 4 Kelurahan Mangunharjo, Muhsin mengatakan, pihaknya meminta ada perhatian dari pemerintah untuk melakukan normalisasi Sungai Plumbon.

“Usulan warga minta dinormalisasi karena pendangkalan atau sedimentasi tinggi, sehingga aliran sungai tidak langsung lurus tapi belok- belok. Jadi kalau tiap kali hujan deras talud disini rawan jebol,” ujarnya, saat ditemui di rumahnya.

Normalisasi Sungai Plumbon, kata dia, cukup mendesak. Dikhawatirkan akan ada banjir susulan mengingat sudah masuk musim hujan.

“Selama ini perbaikan hanya dilakukan tambal sulam,” ungkapnya.

Dikatakan dia, ratusan warga saat banjir tidak sampai mengungsi, karena masih bisa ditangani sendiri.

“Kronologi banjir sekira pukul 16.30 WIB, karena luapan air sungai, lalu beberapa saat kemudian ada tanggul yang jebol pukul 16.45 WIB, dan imbas air masuk ke perumahan dengan derasnya,” paparnya.

Bahkan, air cukup tinggi juga masuk ke musala.

“Berkat penanganan langsung dari pihak kecamatan, kelurahan, DPU, Babinsa, Babinkamtibmas, pemadam dan BBWS yang membantu, tanggul yang jebol dan pembersihan lumpur di lingkungan bisa ditangani,” katanya.

Sementara, peringatan dini cuaca ekstrem dikeluarkan oleh BMKG pada 7-9 November 2022.

Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno, Senin (7/11/2022).
Sutikno menjelaskan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terdapat daerah belokan dan pertemuan angin di wilayah Jawa Tengah, aktifnya gelombang Rossby dan anomali suhu muka laut positif di Laut Jawa dan Samudera Hindia selatan Jawa memicu adanya peningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.

Kelembaban udara yang relatif cukup tinggi dan labilitas lokal yang cukup kuat turut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Termasuk di antaranya di Kabupaten/Kota Semarang, Kendal, Demak dan sekitarnya.

“BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode 7-9 November mendatang yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Seperti berupa banjir, banjir bandang, hujan es, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung, terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” pungkasnya. (HS-06)

Dampak Cuaca Ekstrem, Nelayan di Kendal Enggan Melaut

Sat-set! Ganjar Minta BBWS Bikin Tanggul Sementara Cegah Banjir Mangkang Wetan