in

Pemuda Yordania Ini Berinovasi Perkuat Ketahanan Pangan Negerinya

Aya Kraik, peserta dalam proyek inovasi pemuda WFP/UNICEF di Yordania. (Foto : news.un.org)

 

HALO SEMARANG – Upaya sekelompok pemuda Yordania, untuk membantu negara dan masyarakatnya memperkuat ketahanan pangan, bisa menjadi inspirasi bagi pemuda di negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia.

Dengan dukungan dari Program Inovasi PBB, para pemuda itu membuat beragam inovasi dalam bidang pertanian, lingkungan, dan air bersih.

Saat ini orang Yordania menghadapi berbagai tantangan yang tumpang tindih, termasuk pertumbuhan ekonomi yang lambat, pengangguran kaum muda yang tinggi, kelangkaan air, dan peningkatan biaya hidup.

Dengan 63 persen penduduknya di bawah usia 30 tahun, Yordania menjadi negara dengan populasi orang muda yang besar. Karena keterlibatan serta mobilisasi pemuda sangat penting untuk menemukan solusi atas kerawanan pangan menjadi sangat penting di negeri itu.

Hal itu pula yang mendasari Dana Anak-anak PBB (UNICEF) dan Program Pangan Dunia ( WFP ), meluncurkan Program Inovasi Ketahanan Pangan Pemuda. Dalam program tersebut, anak-anak muda berusia 18 hingga 26 tahun, mempresentasikan berbagai ide, mulai dari penanganan sampah, hingga daur ulang kulit buah, dan sayur.

Aya Kreik, mahasiswa arsitektur di Amman adalah salah satu inovator muda itu. Dia bersama timnya berhasil mengubah limbah pertanian, menjadi pupuk organik yang kaya nutrisi.

Pupuk organik itu pula yang kemudian digunakan untuk menghidupkan kembali tanah dan mendorong petani, untuk menghindari penggunaan pupuk kimia.

“Ide inovasi saya bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tanaman terhadap penyakit dan membantu tanah menahan air dalam proporsi yang besar, sehingga mengurangi jumlah air irigasi yang dibutuhkan. Metode modern untuk mengolah limbah dan tidak menghasilkan gas rumah kaca,” kata dia seperti dirilis news.un.org.

Dia menuturkan mengawali proyek itu pada awal pandemi Covid-19. Ketika lockdown diberlakukan, mereka mulai memikirkan ide tentang kemandirian pangan.

Namun permasalahan yang mereka hadapi, adalah Ibu Kota Yordania, Amman merupakan kota yang sangat padat penduduk dan tidak ada tempat untuk bertani.

Selain itu tidak semua orang tertarik dengan makanan sehat dan organik, karena kurangnya kesadaran dan harga yang tinggi. Karena itu Aya Kreik bersama timnya, bertekad untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya dan manfaat makanan organik.

“Saya bangga dengan apa yang saya dapatkan hari ini. Kami akan memulai pertanian multi-output pertama, yang dipimpin perempuan di Yordania. Kita anak muda perlu berpikir out of the box dan memunculkan ide-ide baru terkait kelestarian lingkungan,” kata Kreik.

Otomatisasi Pertanian

Tak hanya Aya Kreik, ada pula lulusan Perbankan dan Keuangan, Alaa Al-Hijazeen dan mahasiswa Business Intelligence Nourhan, Al Gharabli yang meluncurkan startup untuk membantu pengelolaan pertanian.

Hasil karyanya memungkinkan sebuah lahan pertanian siraman air dan makanan secara otomatis sesuai kebutuhan. Selain itu alat tersebut mampu mengubah kelembaban udara menjadi air murni.

“Tujuan kami bukan untuk menghasilkan uang, tetapi untuk meninggalkan dampak dan mengubah kehidupan orang. Perubahan iklim berdampak langsung pada ketahanan pangan, udara yang kita hirup, dan air yang kita minum. Kita semua harus mengambil tindakan,” kata Alaa

Saat ini dia sedang mempertimbangkan untuk mengeksplorasi lebih lanjut bisnis lingkungan. “Lingkungan kita adalah sumber daya yang hebat, dan kita dapat menggunakannya secara berkelanjutan,” tambahnya.

Ada pula insinyur pertanian, Alaa Thalji yang berpartisipasi dalam pelatihan inovasi.

Dia mengembangkan proyek mendaur ulang kulit buah dan sayuran, untuk menghasilkan polimer kimia. Dengan polimer ini, dia dapat menghilangkan 99 persen logam berat dari air.

Insinyur pertanian itu mengatakan dia memang mengkhususkan diri dalam pengolahan air.

Dia mendapat ide itu pada tahun kedua di universitas, ketika mengambil kelas yang disebut Polutan Kimia Lingkungan.

Dalam kuliah yang ditekuninya, dia memperoleh pengetahuan, mengenai bahaya polutan terhadap kesehatan manusia. Di kelas lain, dia juga mempelajari pengelolaan air minum, di mana profesornya terus memberi tahu bahwsa air yang tercemar logam berat, berbahaya untuk dikonsumsi manusia.

“Jadi, saya memikirkan banyak sumber air, yang sayangnya tidak dapat kami manfaatkan, dan saya mulai mengerjakan polimer kimia yang organik dan aman,” kata Thalji. (HS-08)

82,60 Persen Irigasi Jateng Jateng Kondisi Baik

Bupati Klaten Sebut Wayang Kulit Tak Akan Pernah Kehilangan Penonton