Pemkot Tambah Jumlah Embung dan Kolam Retensi, Kurangi Dampak Banjir dan Kekeringan

 

Salah satu embung di wilayah Patemon, Gunungpati ramai dijadikan tempat bersantai warga.

 

HALO SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terus melakukan langkah antisipasi bencana seperti banjir. Salah satunya adalah membangun embung ataupun kolam retensi di beberapa wilayah.

Kasi Pengendalian dan Pemanfaatan Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) DPU Kota Semarang, Dani Dwi Tjahjono mengatakan, selain bisa menampung air saat banjir, tentunya dengan adanya embung ini bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah lahan pertanian. Ataupun bisa dimanfaatkan masyarakat ketika musim kemarau tiba.

“Ke depannya selain fungsi mengurangi banjir, tempat resapan, serta untuk sistem pengairan, embung juga bisa digunakan sebagai salah satu objek wisata,” katanya, baru-baru ini.

Ia mencontohkan, daerah yang kerap digenangi banjir seperti Muktiharjo Kidul tahun 2021 ini dibangun beberapa embung ataupun kolam retensi, dari detail engineering design (DED) ada delapan embung di wilayah tersebut.

Serta dilakukan pemeliharaan agar cakupan dan tampungan air lebih besar saat musim hujan nantinya.

“Saat ini, dua embung sudah dibangun lengkap dengan pagar di sekelilingnya serta pompa pengurasan. Dua embung ini menjadi embung utama. Sedangkan, enam embung lainnya akan dibangun berupa embung resapan,” jelasnya.

Di wilayah Pedurungan juga dilakukan pembangunan dua embung pada tahun 2021 ini. Letaknya di belakang atau di sekitar Horison Nindya. Selain itu juga pengerukan embung di kawasan Penerbad.

“Musim kemarau ini kita kebut agar saat musim hujan bisa dimanfaatkan,” tambahnya.

Sementara untuk wilayah Semarang atas seperti Mijen, Gunungpati dan lainnya embung yang ada juga memiliki fungsi tambahan, yakni untuk pengairan lahan pertanian serta penanganan banjir.

Menurut Dani pada tahun depan, di wilayah Wates juga akan dibangun tiga embung besar fungsinya sama untuk resapan serta pertanian. Sementara dari sisi kendala, membuat embung ataupun kolam retensi tidaklah mudah. Kendala utama, menurut di adalah pengadaan lahan seperti di wilayah Meteseh dan Klipang.

“Fungsi lainnya adalah juga sebagai tempat wisata, seperti yang ada di Wonolopo Mijen jadi perekonomian warga juga bisa terdongkrak. Bisa juga untuk perikanan, dengan menyebar benih ikan,” terangnya.

Dari pantauan di Embung Patemon, Gunungpati, embung yang dibangun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana ini nampak ramai dikunjungi masyarakat untuk memancing. Beberapa waktu lalu sebelum pandemi, kawasan embung digunakan sebagai tempat wisata.

“Selain untuk fungsi resapan embung ini juga untuk mengaliri pertanian yang ada di wilayah Patemon dan sekitarnya,” kata salah satu warga sekitar, Ari.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono mengatakan, memasuki musim kemarau ini Pemkot harus melakukan pemetaan wilayah paska banjir beberapa waktu lalu.

“Karena saat inilah ada kesempatan melakuman normalisasi sungai, saluran bahkan embung,” jelasnya.

Termasuk, kata dia, antisipasi wilayah yang berpotensi kesulitan air atau kekeringan, pemkot harus menyiapkan air baku untuk kepentingan masyarakat sembari menunggu proyek SPAM Semarang Barat rampung dan bisa digunakan.

“Nah wilayah yang sulit air baku dan pertanian ini harus dihitung oleh Pemkot dan diprediksi berapa kebutuhannya seperti di Gunungpati, Tembalang dan lainnya,” katanya.

Jika sudah dilakukan pementaan serta langkah antisipasi terkait titik dan kebutuhan, alokasi saat terjadi kekeringan ini bisa dipenuhi melalui PDAM, Pemadam Kebakaran, Disperkrim, DPU dan BPBD untuk menyalurkan air kepada masyarakat.

“Dari sisi pertanian di Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Banyumanik dan Tembalang bisa disiapkan melalui embung untuk mengairi persawahan agar tidak kesulitan air,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.