in

Pemkot Surakarta Targetkan 0 Persen Stunting pada 2022

Penandatanganan nota kesepahaman penanganan stunting oleh Pemkot Surakarta dan TP PKK, di Ruang Prambanan Hotel Indah Palace Surakarta, Kamis (7/10). (Foto : Surakarta.go.id)

 

HALO SURAKARTA – Jajaran Pemerintah Kota Surakarta dan Tim Penggerak PKK Surakarta, menyepakati upaya bersama penanganan stunting di wilayah tersebut. Diharapkan dengan penanganan secara komprehensif tersebut, pada 2022 nanti sudah tidak ada lagi kasus stunting di Kota Surakarta.

Nota kesepahaman penanganan stunting stunting tersebut, ditandatangani oleh Wali Kota Surakarta, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah, Kepala OPD, para camat, serta Ketua TP PKK, di Ruang Prambanan Hotel Indah Palace Surakarta, Kamis (7/10).

Kesepakatan bersama tersebut, merupakan upaya untuk mengintervensi penurunan dan pencegahan stunting, dengan aksi bersama melalui posyandu “Sigrak Cetingan” di Kota Surakarta.

“Pendekatan komprehensif harus dilakukan, tentunya dengan aksi nyata semua jajaran Pemerintah Kota Surakarta, dengan gerak di lapangan TP PKK dan Posyandu dan peran serta masyarakat yang aktif melaporkan bila menjumpai kasus stunting,” kata Wakil Wali Kota Teguh Prakosa, seperti dirilis Surakarta.go.id.

Perhatian Pemerintah Kota Surakarta pada gizi buruk pada warga masyarakatnya bertujuan supaya tumbuh generasi sehat ( pertumbuhan fisik dan mental normal ) dan cerdas dan  maka semua OPD memiliki kepentingan yang sama dan kerja yang sama.

Tanggung jawab sebagai pemerintah kota bagaimana menjadi leading sektor bersama Tim Penggerak PKK sampai ke seluruh wilayah RT atau kampung. Fasilitas infrastruktur, CSR  dan dukungan lainnya untuk mendorong 0 stunting pada tahun berikutnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Wardani mengatakan kasus stunting dapat dimulai ketika anak masih dalam kandungan dan terutama sampai anak berusia 2 tahun. Sangat penting untuk dipahami bahwa kerusakan fisik dan kognitif akibat anak stunting tidak dapat diperbaiki setelah usia anak 2 tahun.

“Oleh karena itu, perilaku hidup sehat dari ibu hamil sampai anak usia 2 tahun merupakan periode penting untuk pencegahan stunting pada anak-anak,” terangnya.

Penanganan dan pencegahan stunting di Kota Surakarta didukung dengan kolaborasi dan sinergi dari semua pemangku kepentingan termasuk jajaran Pemkot Surakarta. Dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman tersebut, tindakan nyata segera dilakukan selepas MoU ditandatangani.

Sebagai informasi, Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi khususnya protein dan sumber energi dalam waktu lama ditambah dengan terganggunya metabolisme tubuh yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pendidikan pengasuh, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan. Stunting terkait erat dengan gangguan perkembangan kognitif dan produktivitas.

Pada usia dewasa, anak yang stunting seringkali mengalami keterbatasan fisik, mudah terserang penyakit menular dan tidak menular dan rendahnya kemampuan kognitif yang menyebabkan hilangnya kemampuan kerja. (HS-08)

Share This

Bupati Demak Minta Dekranasda Untuk Perluas Pemasaran

Pemerintah Kota Solo Minta Pelaku Usaha Memanfaatkan Pemasaran Digital