in

Pemkot Luncurkan Program Si Bening Peringati Harganas, Ini Tanggapan Dewan

Suasana lounching SI BENING yang digelar Pemkot Semarang di Balai kelurahan Salaman Mloyo, Selasa (12/7/2022).

HALO SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang melaunching program Semua Ikut Bergerak Bersama Menangani Stunting (SI BENING), untuk memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2022, yang diperingati secara nasional pada 7 Juli dengan mengambil tema “Percepatan Penurunan Stunting”.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti mengatakan, program SI BENING tersebut merupakan gerakan yang luar biasa sekaligus upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang merespon persoalan di masyarakat. Terutama dalam hal pencegahan stunting.

“Di mana dalam program itu bisa memberikan solusi yang sebaiknya ditempuh melalui masukan dari para ahli, kemudian program ini dijalankan oleh tim penggerak PKK, kader-kader di tingkat darwis. Sehingga program bisa diaplikasikan secara massif di masyarakat,” terang Dety, sapaan akrabnya, saat dihubungi Halosemarang.id, Rabu (13/7/2022).

Salah- satu kegiatannya, kata Dety, terlihat adanya pendataan semua calon pengantin, jumlah baduta dan balita yang ada di lingkungan RT/RW.

“Ini menurut saya sebagai langkah awal untuk pencegahan stunting, dan tentunya kami akan mengawal sampai masa 1000 hari. Yang mana pada masa itu, sangat menentukan generasi kita selanjutnya, bahkan sejak dalam kandungan hingga setelah kelahiran anak,” ujarnya.

Dikatakan Dety, pentingnya masa 1000 hari bagi anak, karena nantinya akan mempengaruhi tumbuh dan berkembang anak.

“Baik itu untuk tumbuh kembang anak dari segi psikis maupun fisik. Sehingga sangat mempengaruhi generasi kita,” lanjutnya.

Ditambahkan Dety, persoalan stunting tidak hanya disebabkan faktor ekonomi keluarga semata. Tetapi, ada faktor lain yang juga ikut memunculkan kasus stunting pada anak.

“Memang kasus meledaknya angka stunting di Semarang awalnya imbas dari pandemi Covid-19. Ini dampak pandemi karena pada saat itu, angka kasus stunting tinggi sekitar 3 ribu anak. Sebab, banyak orangtua yang tidak bisa bekerja karena dampak Pandemi yang cukup berimbas pada ekonomi keluarga,” ujarnya.

Namun, saat ini menurutnya data anak stunting jumlahnya mulai berkurang, apalagi Walikota Semarang bertekad untuk bisa mengatasi stunting semuanya pada tahun depan.

“Tahun depan masalah stunting di Kota Semarang juga kami dorong bisa beres semuanya. Kami pun apresiasi upaya Pemkot dengan massif melakukan upaya dengan menggerakkan semua kader- kader untuk terlibat semuanya, didukung dengan program pusat,” kata Politisi PDI Perjuangan ini.

Dilanjutkan Dety, persoalan stunting tidak melulu faktor utamanya adalah ekonomi keluarga yang tidak mampu. Menurutnya, stunting bisa saja terjadi pada keluarga mampu secara finansial.

“Ada juga stunting terjadi pada keluarga yang mampu, namun karena pengetahuan orangtua kurang tentang asupan nilai makanan yang bergizi dan cara mengolah makanan agar nilai gizinya terjaga. Ada juga karena kesibukan kedua orangtua bekerja di luar rumah, sehingga terpaksa anaknya dititipkan kepada keluarga lain atau saudaranya dan membuat asupan gizi anak tidak terpenuhi,” paparnya.

Pihaknya juga mengimbau, kepada masyarakat bahwa asupan gizi bagi anak terutama sejak dini penting diberikan. Pasalnya, bisa menentukan generasi selanjutnya yang kuat dan berkualitas.
“Makanan yang bergizi tidak harus membeli mahal, dan bagaimana cara kita untuk menarik si anak tertarik dengan makan sayuran dan buah yang sarat akan nilai gizinya. Kan ada anak yang tidak suka makan sayur, padahal banyak mengandung vitamin dan kaya akan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” katanya.

Sementara, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, dirinya optimis jika SI BENING akan efektif menekan angka stunting di Kota Semarang.

“Konsep SI BENING ini pada dasarnya adalah gotong royong. Sama seperti saat kita peluncuran SI CENTIK yang pada dasarnya penerapan bergerak bersama dalam pemberantasan DBD. Alhamdulillah angka DBD di Kota Semarang terbukti bisa ditekan. Insya Allah jika semua bergerak bersama persoalan di Kota Semarang dapat diselesaikan dengan cepat, termasuk stunting,” terang Hendi, saat melounching SI BENING di Balai Kelurahan Salaman Mloyo, Kecamatan Semarang Barat, Selasa (12/7/2022).

SI BENING adalah salah satu bukti keseriusan Pemkot Semarang dalam mengatasi masalah stunting. Dari catatan yang ada, terdapat dua versi terkait angka stunting di Kota Semarang. Versi pertama, yaitu menurut operasi timbang, angka stunting di Kota Semarang adalah 3,10 persen atau 1.367 dari 44.058 anak.

Lalu versi kedua adalah menurut hasil survei SSGI yaitu 21,3 persen atau 65 dari 306 anak. Hendi pun menargetkan angka tersebut dapat turun menjadi 14 persen di tahun 2024, sesuai dengan target nasional yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

Sementara itu, Ketua Forum Kota Sehat Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi berharap bantuan yang telah diberikan Pemkot Semarang bisa diteruskan oleh stakeholder yang lain dalam rangka bersama-sama mengatasi persoalan stunting di Kota Semarang.

“Pemerintah Kota Semarang melalui DKK telah memberikan bantuan kepada anak-anak stunting dengan memberikan makan 3 kali sehari selama 2 bulan. Namun hal tersebut tidak mungkin akan berlanjut terus mengingat biaya yang dibutuhkan sangat besar. Harapan saya, pemberian bantuan ini akan diteruskan oleh lurah maupun Muspida-muspida sebagai orang tua asuh,” kata Tia Hendi, sapaan akrabnya.

Dirinya juga menjelaskan, selain mengupayakan penurunan angka stunting, Pemkot Semarang melalui dinas terkait lainnya seperti Disdalduk dan KUA juga melakukan tindakan preventif dengan cara mendampingi dan mengedukasi Catin (calon pengantin) maupun ibu hamil mengenai stunting. Harapannya, hal ini dapat memutus mata rantai stunting di Kota Semarang. (HS-06)

Dilapisi Pembalut Wanita, Irisan Daun Ganja 5,06 Gram Berhasil Diamankan Satresnarkoba Kendal

Purbalingga Targetkan 10 Besar Dalam Evaluasi SPBE 2022