Pemkab Kudus Minta Semua Kades Petakan Daerah Rawan Bencana

 

Ilustrasi Pergerakan Tanah

 

HALO KUDUS – Semua kepala desa (kades) dan camat di Kabupaten Kudus, diminta untuk segera memetakan daerah rawan bencana alam, termasuk banjir, longsor, dan angin puting beliung.

Permintaan itu disampaikan pelaksana tugas Bupati Kudus, M Hartopo, berkaitan dengan longsor yang terjadi di RT 03 RW 01 Desa Soco, Kecamatan Dawe, Kudus, Senin (12/10). Dengan pemetaan itu, upaya untuk mengantisipasi korban bencana dapat dilakukan.

“Kepala desa dan camat wajib memetakan daerah rawan bencana alam di wilayah masing-masing dan pengawasan di lapangan harus ditingkatkan,” kata dia.

Hasil pemetaan tersebut digunakan untuk mengawasi daerah-daerah rawan tersebut. Jika setiap pemangku kepentingan di tingkat desa dan kecamatan melakukan hal itu, maka diharapkan timbulnya korban jiwa akibat bencana bisa dihindarkan.

Hartopo tak memungkiri, bahwa saat ini banyak warga yang terpaksa  tinggal di daerah-daerah rawan bencana. Pihaknya juga sudah terus menerus mengingatkan akan risiko yang bakal dihadapi.

Namun masyarakat juga kesulitan untuk pindah, lantaran tidak punya lahan lain yang bisa digunakan untuk membangun tempat tinggal.

“Tetapi kalau pemerintah yang harus mengupayakan relokasi, tentunya membutuhkan anggaran yang besar,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Desa Soco, Lilik Ekowati mengatakan tanah longsor di wilayahnya itu mengakibatkan dua pekerja bangunan yang tengah membangun fondasi rumah warga, tewas karena tertimpa material longsor dari tebing setinggi 10 meter. Para korban, bernama Riyan (19) dan M Najib (20), semua adalah warga Desa Soco

Akibat peristiwa tersebut, pemilik tanah yang hendak membangun rumah diminta menghentikan pembangunan rumah dan mencari tempat lain yang lebih aman.

Menurut laporan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, bencana tersebut memakan dua korban jiwa.

Adapun kronologi kejadian, sebelumnya terdapat empat pekerja yang sedang membuat fondasi untuk terasiring. Sebelum kejadian, salah satu pekerja merasakan adanya getaran tanah dari bagian atas. Selang beberapa saat, tanah dari ketinggian lebih kurang 10 meter longsor.

Setelah peristiwa itu, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan polisi, bersama masyarakat segera melakukan evakuasi. Tim juga mendatangkan alat berat berupa loader, untuk mempercepat pengerukan.

Setelah beberapa jam melakukan penggalian, kedua korban akhirnya ditemukan dalam keadaan sudah meninggal. Keduanya langsung diserahkan kepada keluarganya masing-masing untuk segera dimakamkan. (Dari berbagai sumber,HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.