in

Pemeriksaan 40 WNA Ilegal di Semarang Terkendala Bahasa

Puluhan tersangka kejahatan cyber berhasil ditangkap petugas gabungan yang merupakan WNA saat konferensi pers di Rudenim Semarang, Senin (22/4/2019).

 

 

HALO SEMARANG – Tim penyidik Polda Jateng mengaku ada kendala bahasa dalam menggali keterangan dari 40 WNA asal Tiongkok dan Taiwan yang diamankan dari rumah mewah di Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomer 11 Semarang Barat, Kamis (18/4/2019).

Direktur Resese Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Moh Hendra mengatakan, pihaknya memang akan memburu sponsor pemasok para WNA tersebut. Hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap orang yang menempatkan atau menampung 40 WNA Tiongkok dan Taiwan ini di Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomer 11 Semarang Barat.

“Ini masih kami dalami, siapa saja yang berperan dalam menampung 40 WNA itu di Semarang,” imbuhnya

Hendra juga menyinggung tentang kendala bahasa yang menjadi masalah dalam penyidikan. Akibatnya hingga saat ini belum bisa mengklarifikasi secara detail tentang alasan mereka mau menerima pekerjaan dan berapa imbalannya.

“Masih terkendala bahasa, mungkin lebih detail kalau trasletternya sudah ada,” katanya saat merilis penangkapan 40 WNA di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang di Jalan Sugriwo Raya No 2, Krapyak, Semarang Barat, Senin (22/4/2019).

Sebagai informasi, sebanyak 40 warga negara asing (WNA) berhasil diamankan dari rumah mewah di Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomer 11 Semarang Barat.

Kepala Divisi Keimigrasian (Kadivim) Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah, Ramli HS mengatakan, dari hasil pemeriksaan, 40 WNA ini terdiri atas 12 orang dari Taiwan dan sisanya dari Tiongkok. Sedangkan yang mempunyai dokumen keimigrasian hanya 11 orang, dan satu orang mengaku paspor-nya hilang.

“Di negaranya, mereka adalah orang yang dicari karena melakukan kejahatan. Diperoleh informasi juga, mereka masuk ke wilayah Indonesia dari Jepang dengan menggunakan dokumen bebas visa. Di Jepang mereka mengaku bekerja dan diperintah oleh seseorang yang bernama Mr Sing,” katanya saat konfrensi pers di Rudenim Semarang, Senin (22/4/2019).

Dijelaskan, karena di Jepang mereka sudah dijejak petugas, atas perintah Mr Sing tadi, 40 WNA ini disuruh untuk mengamankan diri di Indonesia, lewat Bandara Soekarno Hatta. Namun mereka tidak langsung menginap di Jakarta, tapi menuju ke Bali.

“Dan ketika di Bali berpindah-pindah alamat. Lalu akhirnya sampai ke Semarang melalui Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang,” jelasnya.

Namun, sesampai di Semarang ada kecurigaan oleh petugas terhadap kedatangan WNA tersebut. Lalu dari pengembangan lebih lanjut, WNA ini diketahui tinggal di sebuah rumah di Jalan Puri Anjasmoro Semarang.

“Di rumah tersebut berhasil diamankan juga berupa peralatan untuk melakukan kejahatan berupa sejumlah ponsel, dan telepon wareles, tablet, dan lainnya,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Agus Tri Atmaja mengatakan, bahwa 40 WNA tersebut dari pemeriksaan pernah melakukan kejahatan jenis cyber crime.

“Biasanya meminta uang terhadap calon korban yang dihubungi lewat telpon. Seringnya mengatakan keluarga calon korban mengalami kecelakaan ataupun sedang berurusan dengan aparat kepolisian. Mereka melakukan pemerasan dari target yang didapat, dengan menggunakan barang bukti di antaranya perangkat telepon dan jaringan komputer yang berhasil diamankan di tempat kejadian perkara (TKP) di rumah Puri Anjasmoro Semarang, ” paparnya.(HS)

Gelorakan Semangat Kartini, Ganjar dan Atikoh Gowes Bareng Ibu-ibu Keliling Semarang

Sistem Informasi Perencanaan Terpadu jadi Terobosan Baru Pemkot Semarang