in

Pembuat Selongsong Ketupat di Weleri Panen Jelang Lebaran Ditengah Pandemi

Sumaris, pedagang selongsong asal Gringsing Batang yang berjualan di area sekitar Pasar Weleri, Rabu (12/5/2021).

 

HALO KENDAL – Memasuki H-1 Lebaran Idul Fitri 1442 H, para pembuat selongsong ketupat datang dari beberapa daerah sekitar Kabupaten Kendal dan mencoba mengadu nasib di sekitaran Pasar Weleri.

Momen ini menjadi berkah bagi para perajin selongsong ketupat menjelang Lebaran, karena warga selalu menyiapkan makanan ketupat lengkap dengan lauk pauknya.
Selongsong ketupat sendiri terbuat dari daun kelapa muda yang dirangkai menjadi anyaman berbentuk persegi. Di dalamnya kosong, karena nantinya akan diisi beras lalu direbus menjadi ketupat.

Dari pantauan halosemarang.id di Kendal dan sekitarnya, dua hari jelang Lebaran (H-2) atau sejak Selasa (11/5/2021), pedagang selongsong ketupat sudah banyak yang menggelar dagangannya.

Sebagian besar di pasar-pasar tradisional baik di dalam pasar, maupun dengan menggelar lapak darurat di tepi jalan.

Seperti di Pasar Weleri, ada puluhan perajin dan pedagang selongsong ketupat yang lokasinya tersebar. Mereka kebanyakan datang dari daerah sekitar Kendal terutama Batang.

Salah satu pedagang, Sumaris asal Gringsing Batang mengaku setiap tahun pasti ke Pasar Weleri untuk menjual selongsong ketupat.

“Setiap tahun saya pasti ke sini, jualannya selongsong ketupat kadang juga saya jualan tutus (tali dari sayatan bambu). Kalau jualan ketupat itu kan dimulai di hari ke 20 hingga sehari jelang lebaran,” ungkapnya.

Dalam sehari Sumaris mengaku bisa menjual 60 ikat, untuk satu ikat berisi 10 selongsong ketupat.

“Satu ikat isinya sepuluh dengan harga Rp 10.000. Alhamdulillah, kalau laku 60 ikat berarti dapat 600 ribu per hari,” ungkapnya sambil menganyam janur membuat selongsong ketupat.

Namun, lanjut Sumaris, pendapatan sebanyak itu masih pendapatan kotor. Bersihnya, setelah dikurangi biaya beli janur, ongkos transportasi, dan makan selama berjualan.
Sementara itu, pembeli selongsong ketupat, Anik warga Weleri mengaku, hanya memborong selongsong ketupat yang sudah jadi. Menurutnya ribet kalau membeli janur yang masih lembaran dan masih menganyam sendiri di rumah.

“Sebenarnya lebih murah sih kalau beli janurnya. Karena per ikat isi 10 tangkai itu cuma Rp 5.000. Tapi saya gak mau ribet karena banyak juga yang harus saya disiapkan menyambut Lebaran,” ungkapnya.

Setiap tahunnya di depan Pasar Weleri memang ramai dipadati warga yang membeli ketupat dan bunga/kembang dalam menyambut Idul Fitri.

Sayangnya di tengah pandemi ini warga banyak yang tidak mengindahkan protokol kesehatan.(HS)

Share This

Terungkap! Ini Penyebab Meninggalnya Pemandu Karaoke di Kamar Kos Di Pusponjolo

Makanan Hingga Kebiasaan, 5 Hal Ini Bisa Bantu Sesuaikan Pola Tidur Pasca Ramadan