Pembuat Kue Asal Semarang Ini Bayar Cicilan Motor Pegadaian dengan Delapan Biji Kue Nastar

Pembuat kue Maya Kartika Sari (50) menunjukkan kue kering nastar piring buatannya. Kue jenis ini diminati terutama di moment menjelang Lebaran, untuk parcel dan suguhan untuk tamu. (Halosemarang.id/Yulianto)

 

SEBAGAI pelaku usaha, Maya Kartika Sari (50) memiliki seluruh kebutuhan yang harus dipenuhi agar usaha kue keringnya terus hidup. Ketersediaan tenaga, peralatan, bahan baku dan sasaran pasar tidaklah jadi soal.

Dari dapur rumahnya di kawasan Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Semarang Timur ini, usaha kecilnya terus berdenyut. Satu masalah yang ia punya, mobilisasi.

Ketika peminat kue-kuenya makin banyak, maka kebiasaannya mengandalkan tetangga sebagai pengantar pesanan tak lagi jadi langkah yang efektif. Kenyataan ini cukup jadi persoalan yang menghambat distribusi dagangannya.

Persoalan itu kemudian menemukan titik terang ketika seseorang dari Pegadaian mendatangi rumahnya.

“Ada mbak-mbak Pegadaian menawarkan pinjaman buat tambah modal usaha, saya bilang saya enggak usah dimodalin, saya cuma butuh motor. Terus mbaknya bilang bisa. Saya tertarik dan saya pelajari. Saya jadi tahu ternyata bisa kredit dari Pegadaian,” ungkap ibu empat anak ini.

Maya lantas jadi tahu kalau Pegadaian ternyata tidak hanya memberi layanan pinjaman uang dengan sistem gadai, melainkan bisa pula untuk pembiayaan kendaraan. Maya lantas melakukan pengajuan.

Seluruh persyaratan administrasi ia penuhi lalu tim Pegadaian melakukan survei ke rumahnya. Tidak butuh waktu lama, beberapa waktu setelah itu satu unit Honda Vario seharga Rp 21 juta akhirnya dimiliki Maya.

Besaran uang muka adalah Rp 5 juta. Angsurannya flat sebesar Rp 594 per bulan dengan tenor 36 bulan.

“Tahun 2019 lalu motornya datang. Tiap bulan saya bayar angsuran ke Pegadaian dan tahu-tahu tahun ini sudah tahun ketiga. Benar-benar enggak terasa sudah mau selesai,” terang perempuan asli Solo itu.

Menurut hitung-hitungannya berdasarkan survei yang dilakukan sebelum melakukan pengajuan, jumlah uang keseluruhan yang ia keluarkan untuk memiliki satu unit motor lewat Pegadaian jauh lebih kecil dibanding jika mengangsur lewat leasing.

Dengan adanya motor, kini kue-kue kering Maya terdistribusi ke sasaran dengan lebih mudah. Anak laki-lakinya bersedia membantu mengantar kue-kue tersebut.

Setidaknya ada 10 titik lokasi yang menjadi sasaran Maya menitipkan barang dagangannya. Lokasi tersebut terdiri dari toko kelontong, rumah sakit, sekolah, toko oleh-oleh di pusat Kota Semarang.

Produk unggulannya adalah nastar daun yang dijual Rp 2.500 per biji. Bentuknya yang unik dan ukuran yang tidak besar namun tidak pula kecil sangat diminati.

Belum lagi rasanya yang manis dan gurih. Tiap satu titik lokasi, Maya biasa menitipkan 40 biji. Nastar daun bisa tahan sampai seminggu. Itu sebabnya, barang diantar seminggu sekali hanya di hari Senin. Frekuensi ini terbilang berkurang, dulu sebelum pandemi Covid-19, distribusi kuenya bisa dua kali dalam seminggu, yaitu Senin dan Jumat.

Meski berkurang, Maya tetap bersyukur. Kue-kue hasil kreasinya sering habis, kalaupun bersisa hanya tiga atau empat biji. Artinya bila ludes, pendapatan Maya rata-rata Rp 1 juta perpekan.

Itu pun masih pendapatan kotor, belum dikurangi belanja bahan baku, bensin dan upah satu orang tetangga yang ia berdayakan untuk membantunya dalam proses produksi.

Supaya cicilan motor tak alami macet, Maya yang mengaku tak pandai mengatur keuangan ini punya trik jitu.

“Tiap hari wajib nyisihkan Rp 20 ribu. Nilainya sama dengan delapan biji nastar saya. Kalo sebulan kan genap Rp 600 ribu. Pas buat bayar cicilan motor. Ya saya anggap, sederhananya, kayak bayar ke Pegadaian pakai delapan biji nastar begitu,” katanya saat ditemui di rumahnya, Senin (26/4/2021).

Di hari-hari menjelang Lebaran seperti sekarang, dia mengaku pesanan kue keringnya mengalami peningkatan. Permintaan pun tidak hanya nastar daun, tapi juga kue kering lain seperti nastar rasa almon crispi, greentea, hingga nastar piring.

Nastar piring sendiri adalah berupa kue nastar berbentuk piring yang resepnya ia warisi dari sang mertua. Karena dibuat dengan bahan-bahan terbaik, harganya pun cukup mahal yaitu Rp 150 ribu. Biasanya dipesan pada momen-momen Lebaran untuk parsel, untuk oleh-oleh juga untuk acara lamaran.

Pegadaian memberikan manfaat yang besar bagi dirinya yang ingin tetap produktif di usia yang tak lagi muda. Terlebih Maya sempat sakit gula dan menjalani perawatan rumah sakit hingga tiga kali. Harapan Maya adalah dirinya dapat terus menyalurkan passionnya membuat kue sekaligus menghasilkan rupiah agar menjadi seseorang yang mandiri.

Pegadaian Amanah

Pembiayaan kendaraan bermotor merupakan salah satu produk Pegadaian berupa Pegadaian Amanah. Produk ini adalah pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor berprinsip syariah bagi karyawan suatu perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun swasta, juga pengusaha mikro.

Kepala Unit Bisnis Mikro Pegadaian Karang Turi, Kota Semarang, Noviyanto menyatakan produk ini boleh dimanfaatkan untuk pengajuan pembiayaan baik motor maupun mobil. Prinsipnya bersifat syariah sehingga tidak memberatkan.

“Pegadaian Amanah sangat cocok dimanfaatkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menunjang mobilisasi dan distribusi barang. Produk ini sesuai dengan semangat Pegadaian dalam mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam pengembangan sektor UMKM,”terangnya, baru-baru ini.

Di Kota Semarang terdapat sebanyak 3.178 pelaku usaha yang terdaftar di Dinas Perindustrian Kota Semarang. Jumlah tersebut meliputi 510 industri besar, 440 industri kelas menengah dan sisanya 2.228 industri kecil. Bidang industri tersebut meliputi makanan, minuman, fashion dan furniture.

Menurut Viyan, rata-rata setiap bulan pengajuan bantuan modal UMKM di tempatnya mencapai 30-50 pengusaha. Dikarenakan iklim ekonomi lesu imbas dari masa pandemi, jumlah pengajuan mengalami penurunan.

Pegadaian berprinsip memudahkan pengusaha UMKM agar mengembangkan usahanya. Yaitu dengan menyediakan produk-produk layanan dengan proses mudah, cepat dan bunga ringan.

Selain Pegadaian Amanah, lanjut Viyan, pengusaha UMKM juga bisa memanfaatkan Kreasi UMi, Kreasi Ultra Mikro. Yaitu sewa modal usaha maksimal Rp 10 juta dengan tenor satu sampai tiga tahun dan bunga flat hanya 1.25 persen per bulan.

“Selain memberikan kemudahan permodalan dan kepemilikan kendaraan bagi UMKM, Pegadaian juga melakukan pendampingan berupa pelatihan dan pendampingan. Apalagi di masa pandemi seperti ini, tujuannya agar pelaku usaha terutama pengusaha kecil tetap terbantu untuk melewati masa-masa sulit ini,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.