in

Pemberian Tali Asih Tertunda hingga September, Penutupan SK Diperkirakan Mundur

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi berbincang dengan warga binaan Resosialisasi Argorejo, Sunan Kuning, Rabu (7/8/2019).

HALO SEMARANG – Pencairan dana tali asih kepada warga penghuni Resosialisasi Argorejo atau dikenal komplek lokalisasi Sunan Kuning (SK) oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, bakal tertunda hingga awal September 2019 nanti. Meski begitu penutupan komplek lokalisasi SK tersebut tetap akan dilaksanakan pada 15 Agustus 2019. Sedangkan untuk besaran tali asih tersebut masih menyesuaikan dengan aturan di Kementrian Sosial (Kemensos).

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, terkait tali asih paling tidak pencairan baru bisa dilakukan awal September 2019. Karena masih menunggu anggaran perubahan APBD Pemkot Semarang.

“Iya, Rabu siang (7 Agustus 2018-red) anggaran perubahan baru dibahas di dewan, setelah itu selesai akan kami serahkan. Dan ada penyelesaian administrasi yang harus diselesaikan dan penyampaian ke gubernur. Sehingga awal Sepetember baru bisa dicairkan,” katanya, saat menghadiri acara Diskusi dan Bedah Buku “berjudul Ough! Sunan Kuning (1966-2019) di Aula Pertemuan Resos Argorejo, Rabu (7/8/2019).

Dikatakan Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, bahwa penutupan Resos Argorejo telah dijadwalkan pada 15 Agustus 2019. Namun setelah bertemu secara langsung dengan anak warga lokalisasi, memang belum siap untuk ditutup.

“Sebenarnya rencana penutupan lokalisasi ini sudah lama ada, kemudian sampai diambil keputusan resos ini ditutup pada Agustus 2019. Karena kebijakan ini dari pusat, bahwa pada 2019 Indonesia bersih dari prostitusi,” terangnya.

Sementara, Ketua Resos Argorejo, Suwandi saat ini masih belum sinkron, baik data warga penghuni resos maupun besaran jumlah tali asih yang akan diberikan. Suwandi menyebut data dari Dinsos, hanya berdasarkan data selama pelatihan dan pembekalan anak asuhnya saja. Padahal tidak semua WPS ikut pelatihan dari Dinsos karena kendala pribadi seperti pulang ke kampung halaman, tengah sakit, dan sebagainya.

Bukan hanya itu, jumlah atau kuota WPS yang mengikuti pelatihan Dinsos, menurut Wandi juga dibatasi dan ditentukan oleh Dinas Sosial. Misal pelatihan memasak, hanya sejumlah 50 WPS yang ikut, sedangkan lainnya tidak.

“Dari Dinsos mengatakan, jumlah yang didata 355 WPS, itu kan yang dilatih. Padahal jumlah WPS ada 476 orang. Ini harus sinkron dulu, artinya jumlahnya sama antara Dinsos dengan Argorejo. Kalau ini dipaksakan untuk menerima sejumlah 355, ya saya belum siap untuk mengatakan penutupan,” jelasnya.

Dia bersikukuh meminta Pemkot Semarang menyelesaikan permasalahan tali asih sebelum menutup lokalisasi. “Tali asih itu kan buat bekal mereka pulang ke kampung halaman, jadi sebelum ditutup ya diselesaikan dulu masalah taliasihnya,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Kaningsih, Pengelola Lokalisasi Gambilangu (GBL) berharap anak asuhnya bisa mendapatkan tali asih seluruhnya.

“Jumlah di sini (GBL) 193 WPS, tapi data di Dinsos 102 orang. Jadi yang 90 belum ada solusi, gak tahu nanti gimana akhirnya,” terang Kaningsih.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Muthohar menerangkan bahwa jumlah data dari Dinsos bersifat dinamis. Yang artinya, apabila dari lokalisasi Argorejo dan Gambilangu bisa membuktikan data yang diajukan.

“Data ini kan bersifat dinamis, asalkan pengelola bisa membuktikan data, ada orangnya, ada KTP-nya maka bisa ditambah sebagai penerima tali asih,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, untuk besaran tali asih dari hasil rapat koordinasi Pemkot Semarang dengan Kemensos di Balai Kota ditentukan sebesar Rp 6 juta/orang.(HS)

St Gabriel Children Choir SD Marsudirini Semarang Raih Gold Award di Singapura

Mengaku Banyak Tanggungan, Para Penghuni SK Masih Akan Jalani Pekerjaan Sebagai Pekerja Seks