Pembenahan Pariwisata, Sandiaga Utamakan Kesehatan

 

HALO SEMARANG – Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, terutama di lima destinasi superprioritas, yakni Borobudur, Danau Toba, Likupang, Mandalika, dan Labuan Bajo, harus segera berbenah untuk mempercepat pemulihan. Namun demikian, pembenahan ini juga harus tetap mengutamakan faktor kesehatan dan keselamatan.

“Kita harus menyiapkan segala aspek untuk berbenah, tentunya yang harus kita dahulukan adalah aspek kesehatan. Berbenah harus disiapkan secara detail, mulai dari kuliner, fashion, kriya atau kerajinan tangan, tari-tarian, dan lainnya,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kepala Barekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, seperti dirilis Setkab.go.id.

Penjelasan tersebut, dia sampaikan dalam diskusi secara virtual, dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia.

Sandi mengatakan , Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan untuk memastikan aspek kesehatan dan keselamatan, dalam setiap destinasi pariwisata bisa diterapkan strategis.

Menurut Sandi, instruksi tersebut diwujudkan melalui penerapan CHSE atau K4, yakni Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment sustainability (Kelestarian Lingkungan).

Penerapan CHSE ini termasuk ke dalam strategi adaptasi. Selain adaptasi, strategi lainnya adalah inovasi dan kolaborasi.

“CHSE ini adalah sebuah vaksin daya tahan dan daya bangkit bagi pariwisata dan ekonomi kreatif. Jadi sebelum vaksin ada, kita punya vaksin pariwisata, untuk mendorong pelaku usaha. Jadi tugas kita untuk menyosialisasikan sertifikasi CHSE ke depannya,” ujarnya.

Dia menambahkan, target pada 2020 sebanyak 6.626 pelaku pariwisata tersertifikasi CHSE sudah tercapai. “Semoga di tahun depan terus bertambah,” tambahnya.

Dalam paparannya, Sandi juga mengingatkan kepada seluruh pemerintah daerah (pemda) untuk tidak hanya bergerak cepat, tetapi “tancap gas” untuk pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif jangka panjang.

Disampaikannya, pandemi telah memberikan dampak kepada para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kita mendata ada 30 juta pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terpuruk, mulai dari informal, hingga pelaku usaha mikro dan besar sangat terdampak dan harus segera dibantu,” jelas Sandi.

Untuk pemulihan jangka panjang tersebut, papar Sandi, dilakukan dengan menumbuhkan penyediaan atau suplai yang meliputi persiapan destinasi wisata, membangun infrastruktur, menciptakan dan membangun daya tarik, monitoring protokol CHSE di setiap destinasi wisata, peningkatan kualitas SDM, serta peningkatan kualitas dan kuantitas produk ekonomi kreatif.

Adapun pertumbuhan permintaan dapat dilakukan dengan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan, memperluas konektivitas wisatawan, pemberian insentif atau paket wisata, optimalisasi kegiatan MICE (meeting, incentive, conferencing, andexhibition) di destinasi wisata, pemberian intensif peningkatan daya beli produk lokal dan penciptaan lapangan kerja serta hibah pariwisata melalui transfer daerah untuk hotel, restoran, dan pemda.

Lewat seluruh langkah tersebut, Sandi mengaku optimistis dapat membangkitkan geliat pariwisata dan ekonomi kreatif nusantara.

Optimisme bertambah pada keyakinan akan dilibatkannya seluruh pihak, mulai dari pelaku usaha, media, komunitas, hingga semua unsur pemangku kepentingan.

“Urat pesimistis saya sudah putus, saya optimistis sekali dapat membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lewat kerja sama semua pihak,” kata dia. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.