in

Pembelajaran Tatap Muka Di Jateng Dapat Digelar Dengan Protokol Kesehatan Ketat

Peserta didik SMP Negeri 5 Kota Semarang saat mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM).

 

HALO SEMARANG – Keputusan pembelajaran tatap muka (PTM) di Jawa Tengah masih menunggu kasus Covid-19 benar-benar stabil merupakan langkah yang sesuai.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Abdul Hamid. Menurutnya, acuan tersebut harus berdasarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlevel yang berakhir hari ini, Senin (23/8/2021).

“Keputusan pemerintah itu pas, karena memang acuan pertama itu PPKM secara nasional. Zona-zona level IV dan level III untuk mengkonsentrasikan mengurangi pergerakan, kerumunan, jarak dan lain sebagainya,” ungkap Hamid sapaan akrabnya kepada halosemarang.id, Senin (23/8/2021).

Ia menambahkan, atas dasar keadaan kasus di Jawa Tengah yang dinilai masih tinggi menjadikan kegiatan belajar mengajar dengan tatap muka belum untuk diselenggarakan.

“Ini masih dalam tahap sterilisasi dan pengurangan dari dampak. Di Jawa Tengah memang dinilai masih relatif tinggi sehingga di bidang pendidikan menyesuaikan arah dari kebijakan nasional,” imbuh Politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Namun, kata dia, meskipun PTM belum dilaksanakan, persiapannya harus betul-betul disiapkan dengan matang. Supaya ketika nanti tiba waktunya PTM digelar, pemerintah tidak terkesan gugup.

“Memang berbagai kemungkinan harus diantisipasi sampai kemungkinan terburuk sebelum PTM manajemen risikonya sudah dapat. Seperti soal protokol kesehatannya, jam pelajarannya, teknis pembelajaran kurikulum ini sudah dipersiapkan ketika ada kebijakan PTM dimulai,” ujar Ketua Komisi Bidang Pendidikan DPRD Jawa Tengah itu.

Hamid menyebut, dunia pendidikan merupakan satu di antara sektor esensial atau mendasar dan kritikal yang berarti paling penting. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat mengusulkan kepada pemerintah pusat terkait dunia pendidikan dapat berjalan seperti sektor lainnya.

“Skema itu harusnya sudah dipersiapkan dan kita menginduk dengan kebijakan pusat. Harapannya ada progres mewacanakan terlebih dahulu atau mengusulkan dari pemerintah provinsi kepada pemerintah pusat dalam skema pembelajaran tatap muka,” kata Hamid menegaskan.

Jika tidak segera dimasukkan ke dalam sektor esensial dan kritikal, sambungnya, kehilangan karakter atau lost character pada peserta didik akan benar-benar terjadi. Ia mengkhawatirkan peserta didik akan kehilangan pengalaman belajar atau lost learning dan disusul kehilangan karakter.

“Dalam satu sisi, saya juga mengkritik dari pemerintah, tentang posisi pendidikan yang sebagai lembaga kritikal esensial. Lost learning sudah terjadi di Indonesia, kalau konteksnya Jateng ini kekhawatiran saya juga sampai pada lost character,” papar tokoh muda NU Kabupaten Batang tersebut.

Sementara Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah mendorong, PTM di Jawa Tengah dapat dilaksanakan segera mungkin dengan protokol kesehatan ketat. Sebab, kondisi kasus Covid-19 sudah menunjukkan penurunan, meskipun masih terdapat daerah yang masuk ke dalam PPKM Level IV.

“PTM harus bertahap, mungkin bisa 25 persen dulu minggu depan atau bulan depannya bisa 50 persen, terus bulan depannya naik lagi hingga akhir semester bisa 100 persen,” ungkap Ketua Dewan Pendidikan Jawa Tengah, Prof Rustono.

Ia menyebut, Jawa Tengah sudah benar-benar sanggup dalam mempersiapkan PTM seperti sektor lain yang sudah diperbolehkan dibuka. Hal ini, kata dia, terbukti dengan uji coba PTM yang tidak ada kendala ketika diselenggarakan beberapa waktu lalu.

“Seperti mal dan tempat hiburan juga sudah dibuka walaupun dengan pembatasan. Ini memang (PTM) sudah dipersiapkan dengan matang dan kuat dari pemerintah provinsi di tingkat SMA, SMK sederajat, SLB dan pendidikan khusus. Uji coba sudah berjalan lancar, begitu izin sudah diterima, maka tatap muka akan segera digelar,” tutur pria kelahiran Brebes ini.

Dikatakannya, seiring berjalannya waktu, kondisi karakter peserta didik dan guru mengalami perubahan. Menurutnya, hal ini terjadi dikarenakan akibat sistem pembelajaran yang diterapkan saat ini yaitu PJJ.

“Karena pembelajaran yang efektif adalah tatap muka, bertemu antara peserta didik dan pendidik. Kalau lewat daring diduga tidak demikian baiknya,” papar Guru Besar Pragmatik Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.(HS)

Share This

Teror Pelaku Pelemparan Batu Diduga Berkaitan Dengan Premanisme Terorganisir

Rangkaian HUT ke-26, Marimas Beri Beasiswa kepada 163 Anak dan Bagi-Bagi 2.622 Paket Sembako