Pembangunan Rumah Deret Kampung Nelayan Tambakrejo Rampung, Januari 2021 Siap Ditempati

Proyek pembangunan Rumah Deret Kampung Nelayan RT 05/RW 16 Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara saat ini telah selesai dan akan mulai ditempati oleh warga pada Januari 2021.

 

HALO SEMARANG – Pembangunan proyek rumah deret kampung nelayan RT 05/ RW 16 Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara saat ini telah rampung.

Proyek pembangunan telah diserahterimakan dari pengembang kepada Pemkot Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim).

Dan proses penempatan diperkirakan berlangsung pada awal Januari 2021. Direncanakan, rumah deret tersebut diperuntukkan bagi tempat tinggal sementara 97 keluarga dari masyarakat terdampak penertiban proyek normalisasi Banjirkanal Timur beberapa waktu lalu.

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat bersama dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang untuk membahas sistem penempatan hunian tersebut.

Pasalnya, lahan ini merupakan tanah milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.

Adapun Pemkot Semarang melakukan sewa tanah dalam pembangunan rumah deret tersebut.

”Kami prioritaskan rumah deret hunian sementara itu untuk ditempati bagi 97 keluarga terdampak proyek normalisasi Banjirkanal Timur. Hanya saja, masih belum diputuskan apakah akan diberlakukan sistem sewa layaknya Rusunawa atau seperti apa nantinya. Sistem sewa tanah kepada BBWS diberlakukan selama 5 tahun untuk tahap pertama, dan diberikan kesempatan perpanjangan sekali,” papar dia, saat ditemui di kantornya, Selasa (29/12/2020).

Menurut Ali, sebenarnya yang tergusur dari proyek normalisasi di Kampung Tambakrejo ada 147 keluarga. Namun kemudian, hanya ada 50 keluarga yang bersedia direlokasi ke Rusunawa Kudu. Sisanya memilih tinggal dan menempati bedeng-bedeng yang berada di bawah jembatan layang di Kampung Tambakrejo.

”Dari jumlah awal 97 keluarga tersebut, ternyata sekarang hanya tersisa 57 keluarga yang masih tinggal di bedeng-bedeng itu. Sementara 40 keluarga lainnya telah pindah ke berbagai tempat dan tidak lagi berada di sana. Hanya saja, kami sudah memiliki data siapa saja yang termasuk dalam 97 keluarga tersebut,” ujar Ali.

Ali menambahkan, proyek pembangunan rumah hunian sementara kampung nelayan itu menghabiskan anggaran Rp 8,3 miliar dari APBD tahun 2020. Rumah deret tersebut bertipe 24 yang dilengkapi bioseptik pengelolaan air kotor, jaringan listrik dan PDAM. Selain itu, nantinya juga akan dilengkapi sejumlah fasilitas umum (Fasum) seperti taman dan tempat bermain anak-anak.

”Kami tetap berkeinginan agar nantinya warga menempati hunian sementara itu dengan rasa nyaman,” katanya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.