Pembangunan Kanopi Beratap Kaca di Kota Lama Semarang Dinilai Mengurangi Nilai Pelestarian Cagar Budaya

Bangunan kanopi di Jalan Jalan Suari, Kota Lama Semarang yang dipersoalkan banyak warga.

 

HALO SEMARANG – Pembangunan kanopi kaca di Jalan Suari, Kota Lama, dianggap mengurangi kualitas nilai pelestarian cagar budaya. Banyak warga yang mempertanyakan terkait kajian pembangunan kanopi, yang membuat wajah Kota Lama Semarang menjadi rusak.

Beberapa warga bahkan menganggap pembangunan tersebut menghilangkan keaslian Kota Lama Semarang. Kanopi juga dianggap menutupi pemandangan bangunan tua khas Belanda itu.

“Akhir-akhir ini sedang dikerjakan proyek kanopi beratap kaca transparan di sebagian jalan di Kota Lama Semarang. Salah satunya penghubung antara Jl Kepodang dan Jl Letjen Soeprapto, tepatnya Jalan Suari. Akankah memperindah, menambah keindahan, memanjakan pejalan kaki, atau mengganggu esensi kawasan sejarah?” tulis ‎pegiat sejarah Kota Semarang, Johanes Christiono‎ melalui akun Facebooknya, baru-baru ini.

Pembangunan koridor kanopi di Jalan Suari, Kota Lama Semarang tersebut, juga dianggap menghalangi pemandangan beberapa bangunan yang ada di Kota Lama Semarang.

Ridho, salah satu pengunjung yang ditemui di Kota Lama, Sabtu (24/10/2020) mengatakan, pembangunan kanopi justru mengilangkan keaslian Kota Lama Semarang.

Dirinya juga mengaku heran dengan keputusan Pemkot Semarang membangun bangunan di tengah jalan, yang dia nilai akan menutupi wajah beberapa bangunan kuno di Kota Lama Semarang.

Kajian menurutnya sangat penting, karena bisa saja pembangunan tersebut melanggar aturan terkait pelestarian kawasan bersejarah.

“Menurut saya ini perlu dikaji ulang. Karena kesannya malah merusak keaslian kawasan Kota Lama Semarang. Dan sesuai aturan tentang cagar budaya, apakah ini juga melanggar? itu yang perlu dikaji,” jelasnya.

Menurutnya pemugaran bangunan yang sudah rusak, lebih penting dibanding membangun kanopi. Anggaran pembangunan koridor kanopi, apat damanfaatkan untuk peremajaan bangunan-bangunan bersajarah di sana.

“Tujuannya apa menjadi tidak jelas. Seakan Kota Lama Semarang makin dieksploitasi untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan ruh penataannya,” kata dia.

Menanggapi hal itu, pemerhati cagar budaya Kota Semarang, Kriswandhono mengatakan, jika Kota Lama sudah ditentukann sebagai cagar budaya, berati aturan-aturannya harus diikut.

“Kalau memang arahnya menuju cagar budaya, tingkat authenticity dan intregrity harus diperhatikan,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, Pemerintah Kota Semarang juga mengarahkan Kota Lama Semarang sebagai salah satu situs World Heritage City UNESCO.

“Syarat untuk menjadi situs World Heritage City UNESCO adalah authenticity dan intregrity. Itu adalah hal yang paling utama. Gimana satu sisi mau ke sana namun prilakunya tak mengarah ke sana,” tanya Kris.
Dia menambahkan, Kota Lama Semarang memang boleh dibangun, namun harus mematuhi peraturan yang telah ditentukan.

Sayangnya hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi resmi dari Pemkot Semarang maupun dari Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.