Peduli Seni Tradional, Yekti Handayani Hadiri Peresmian Paguyuban Kuda Lumping di Desa Meteseh Boja

#Pilkada Kendal

Pembentukan Paguyuban Kesenian Kuda Lumping “Turonggo Sedyo Manunggal” di Desa Meteseh, Boja, Kendal, Sabtu (26/9/2020).

 

HALO KENDAL – Masyarakat Desa Meteseh, Kabupaten Boja, mermbentuk Paguyuban Kesenian Kuda Lumping “Turonggo Sedyo Manunggal”, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali aset budaya bangsa. Khusususnya di lingkungan masyarakat Boja dan sekitarnya.

Acara peresmian Paguyuban Kesenian Kuda Lumping tersebut dihadiri oleh Yekti Handayani, Cawabup Paslon Nurani yang hadir bersama Anggota DPRD Kabupaten Kendal, Hegar Saputra, Sabtu (26/9/2020) sore.

Ketua Paguyuban Turonggo Sedyo Manunggal, Suari mengatakan, pembentukan paguyuban ini dalam rangka menghidupkan kembali kesenian kuda lumping di Desa Meteseh dan Kecamatan Boja pada umumnya.

“Di Desa Meteseh ini dulu pernah ada, tapi sudah lama vakum dan sekarang kami hidupkan lagi. Kami berharap pemimpin Kendal nanti bisa memberikan perhatian serius terhadap keberadaan kesenian tradisional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut Suari mengucapkan terima kasih atas kehadirian Cawabup Yekti Handayani atau Ani, yang mau melihat langsung peresmian paguyuban Turonggo Sedyo Manunggal.

“Terima kasih kepada Bu Cawabup Ani yang berkenan hadir langsung di peresmian ini, semoga bisa terpilih. Kami titip pesan nantinya kesenian bisa disupport, biar generasi muda tidak terputus dengan tradisi dari para leluhur,” ungkap Suari.

Sementara Yekti Handayani mengaku sangat mengapresiasi acara ini, karena kesenian itu jatidiri bangsa yang memiliki nilai dan tradisi.

“Saya salut dengan masyarakat di sini masih ada yang mau nguri-nguri warisan budaya dari nenek moyang kita,” kata Yekti.

Dirinya juga mengaku datang ke acara ini berawal dari posting warganet di media sosial, yang isinya memberikan tantangan kepada para calon bupati dan wakil bupati, yang mau berikan perhatian terhadap kesenian.

“Saya langsung merespon dengan memberikan nomor telpon, dan Alhamdulillah saya sampai di sini sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, ini sebagai bentuk kepedulian kepada kesenian warisan nenek moyang yang harus dilestarikan.

Apalagi saat ini para pelaku seni juga terkena dampak dari pandemi Covid-19, otomatis tidak ada yang mengundang mereka untuk mengisi acara.

“Insya-Allah jika terpilih, saya dan Pak Cabup Ustad Ali akan memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kesenian, termasuk kuda lumping. Khususnya melalui kebijakan dari pemerintah daerah untuk menghidupkan komunitas-komunitas dan kegiatan kesenian yang ada di Kabupaten Kendal,” harapnya.

Sementara itu, Satrio, warga Meteseh yang mengunggah postingan di KKDP, mengaku bahwa postingannya karena melihat semangat warga di sini untuk menghidupkan lagi kesenian kuda lumping.

“Sebenarnya selain Bu Ani, ada dari calon lain yang menghubungi saya, dengan membalas komentar di posting yang saya unggah. Tapi saya lihat Bu Ani yang paling serius, beliau komen dengan akun sendiri, meninggalkan nomor telpon, dan setelah saya telpon ternyata beliau. Tidak banyak bicara, langsung menyanggupi siap datang ke acara warga di sini,” terangnya.

Satrio berharap, siapa pun nanti yang terpilih menjadi bupati, dapat memikirkan nasib para pelaku seni tradisonal, khususnya seni kuda lumping ini. Sehingga kesenian warisan nenek moyang tetap terjaga dan lestari.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.