Pedagang Pasar Pagi Kaliwungu Keluhkan Tempat Jualan yang Terlalu Sempit

Informasi pembagian los dan kios Pasar Kaliwungu Baru yang tertempel di area pasar.

 

HALO KENDAL – Para pedagang pasar tradisional Kaliwungu atau yang biasa disebut Pasar Pagi Kaliwungu mulai terlihat beraktivitas berdagang di Pasar Kaliwungu Baru, Senin (28/12/2020).

Mereka yang selama ini menempati relokasi pasar sementara di Sekopek Kaliwungu pasca terjadinya kebakaran beberapa waktu lalu, kini sudah bisa menempati bangunan baru.

Namun beberapa pedagang mengeluhkan terkait luasan lapak yang menurut mereka tak ideal untuk berdagang.

Salah satu pedagang, Abdus Somad yang mengaku ukuran lapak di bangunan baru hanya memiliki lebar 1 meter panjang dua meter.

“Dulu kami dapat los lesehan ukuran 2 x 2 meter. Sekarang satu los hanya ukuran 1 x 2 meter, akhirnya saya harus ambil dua los agar ukurannya bisa ideal, dengan pembayaran Rp 3,4 juta,” ungkapnya.

Menangggapi hal tersebut, Kabid Pengelolaan Pasar pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kendal, Vivin Irawati yang berada di Pasar Kaliwungu menjelaskan, mekanisme pengaturan penempatan para pedagang dimulai Selasa (29/12/2020).

“Besok kami mendata penempatan kios untuk pedagang lama. Kemudian selanjutnya pengaturan untuk pedagang baru,” jelas Vivin, Senin (28/12/2020).

Dikatakan, pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan 700 los untuk pedagang dengan ukuran 2 x 2 meter. Namun dalam pendataan, ternyata jumlah pedagang mencapai 1.038. Akhirnya Pemkab Kendal memfasilitasi dengan penambahan bangunan los pasar, dengan konsekuensi ukuran menjadi 1,6 x 2 meter.

“Untuk menciptakan pasar hijau dan hiegienis, serta pasar yang sehat maka kami mengambil kebijakan, untuk mengurangi ukuran luas los agar semua pedagang bisa tertampung dan tidak berjualan di jalan. Sehingga nanti pasar bisa lebih bersih dan rapi,” terangnya.

Vivin menambahkan, di pasar pagi Kaliwungu, jumlah kios ada 146. Dan disisakan 38 untuk fasilitas umum seperti pos keamanan, pos kesehatan, ruang laktasi, musala, kamar mandi dan lain-lainnya.

“Untuk harga per los Rp 1,7 juta, sedangkan untuk kios harga Rp 45 juta sampai Rp 90 juta, tergantung ukuran dan lokasi. Harga tersebut bukan sewa, dan sistem pembayarannya pun melalui bank,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Kendal, Muhammad Tommy Fadlurahman yang berdomisili di Kaliwungu dan menerima aspirasi dari sebagian pedagang mengatakan, adanya keresahan dari pedagang hanya karena miskomunikasi saja.

“Ya ini hanya karena kurangnya komunikasi dan pemahaman yang benar kepada pedagang. Seharusnya pihak terkait dan paguyuban bisa mensosialisasikan kepada pedagang,” ujarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, sempat viral sebuah unggahan video di media sosial, tentang curhatan salah satu pedagang pasar pagi Kaliwungu yang ditujukan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bupati Kendal, Bupati terpilih dan Dinas terkait, dengan durasi 4 menit 39 detik. Pedagang tersebut mengeluhkan terkait luasan los pasar yang dinilai terlalu sempit untuk berdagang.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.