in

Pedagang Minta Lapak di Pasar Johar Utara Diberikan Ke Pedagang Lama

Bangunan Pasar Johar Cagar Budaya pada September 2021 ini akan ditempati pedagang yang saat ini ada di relokasi Johar di Kawasan MAJT.

 

HALO SEMARANG – Paguyuban pedagang Johar Utara Bawah Dalam (JUBD) meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk mengembalikan pedagang lama menempati kawasan Johar Utara seperti sebelumnya. Permintaan dari pedagang ini disampaikan langsung ke Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Karena dari hasil pengundian yang dilakukan pada Jumat (24/9/2021) lalu, banyak pedagang dari luar Johar Utara justru mendapatkan lapak di bangunan Johar Cagar Budaya tersebut.

Ketua Paguyuban (JUBD), Moch Ngadi mengatakan, pihaknya telah melakukan audiensi dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi terkait harapan para pedagang Johar.

“Kami sudah mediasi dengan Pak Wali, usulannya pedagang di Johar Utara dulu bisa dikembalikan lagi, Alhamdulillah disetujui,” katanya, Minggu (3/10/2021).

Selain itu dalam pertemuan dengan Hendrar Prihadi, perwakilan pedagang juga meminta agar pedagang dari Yaik ataupun Kanjengan tidak menempati kawasan Johar Utara dan mengutamakan pedagang lama. Tidak dipungkiri, lanjut Ngadi,dalam undian secara online kemarin ada pedagang yang tadinya berjualan di Yaik dan Kanjengan menempati Johar Utara.

“Jelas kami tidak setuju, apalagi orangnya masih ada, tempatnya juga ada. Kami minta pedagang yang asli berjualan di Johar Utara bisa diutamakan,” harapnya.

Ngadi menekankan, pihaknya juga mendukung Peraturan Wali Kota (Perwal) yang mengharuskan satu pedagang mendapatkan satu lapak meskipun memiliki lebih dari dua lapak. Kios sisanya nanti kembali lagi setelah semua pedagang masuk.

“Tadi kita juga setuju kalau pedagang yang belum dapat tempat bisa berjualan di MAJT dulu, apalagi jumlah lapak di Johar Utara saat ini mengalami penurunan,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, Senin (4/10/2021), Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang mulai mendirikan posko pengaduan di Johar Tengah lantai 2. Tujuannya untuk mengakomodir keluhan pedagang. Selain itu pedagang yang dulunya memiliki kios namun dalam undian kemarin mendapatkan los namun tidak setuju, bisa melaporkan ke posko yang rencananya dibuka selama dua hari.

“Keluhannya dan tuntutannya hampir sama dengan PPJP Pasar Johar kemarin, bedanya kami lebih spesifik di Johar Utara. Nah kalau ada pedagang yang tidak terima dulunya kios namun dapat los, ya bisa mengadu di posko. Intinya ada komunikasi lebih lanjut,” paparnya.

Temuan di lapangan, kata Ngadi, ada pedagang dari luar Johar Utara yang masuk ke kawasan tersebut, selain itu ada pedagang dasaran terbuka (DT) yang malah mendapatkan los.

Adanya posko tersebut, menurutnya bisa sebagai cara klarifikasi pedagang. Menurutnya, pedagang DT yang mendapatkan los di Johar Utara ini memilih bungkam daripada melapor ke dinas ataupun pengurus.

“Nanti juga bisa dicek, misalnya kalau tidak mengembalikan ya langsung dicabut, dari pada nekat menempati nanti malah ada kesenjangan kan repot, intinya biar tetap akur dan damai. Tentu harapannya dikembalikan ke pedagang lama seperti sebelum kebakar dulu,” katanya.

Namun karena jumlah lapak di Johar Utara yang saat ini lebih sedikit efek aturan cagar budaya, ia pun meminta pedagang lama yang tidak mendapatkan lapak bisa legowo. Dari catatannya saat ini jumlah kios di Johar Utara hanya 51, sementara sebelum terbakar ada sekitar 298 kios.(HS)

Share This

Datang ke Merauke, Presiden Jokowi Resmikan Terminal Baru Bandara Mopah

Peternak Ayam Petelur di Jateng Meradang, Harga Pakan Melonjak Tajam