in

Pedagang Johar Keluhkan Kondisi Lapak yang Tidak Representatif

Pedagang Pasar Johar melakukan pendaftaran ulang setelah memperoleh notifikasi saat pengundian lapak secara online di Bangunan Pasar Johar Cagar Budaya.

 

HALO SEMARANG – Sejumlah pedagang Pasar Johar mengeluhkan kondisi lapak di Bangunan Pasar Johar Cagar Budaya yang dinilai tidak representatif. Hal ini diketahui pedagang setelah mendapatkan notifikasi hasil pengundian lapak pedagang yang dilaksanakan secara online pada Jumat (24/9/2021) lalu.

Setelah pengundian dan pedagang mendapatkan nomor lapak di Bangunan Pasar Johar Cagar Budaya, pedagang kemudian melakukan pendaftaran ulang sebelum menempati lapak masing-masing.

Agustin Handayani (45), salah seorang pedagang ikan asin saat ditemui di Pasar Johar Cagar Budaya mengaku, dirinya kurang puas setelah melihat kondisi lapak yang diterimanya. Sebab sebelum Pasar Johar terbakar, lapak ikan asin miliknya memiliki luasan hampir 6 meter persegi. Namun kini ia hanya menerima lapak ukuran 1 meter persegi.

“Dulu lapak saya sekitar 6 meter sekarang cuma jadi sekitar 1 meter ini. Sehingga kurang representatif dan ini juga letak lapak jualannya saling membelakangi sama pedagang lain jadi ribet, misalnya daging kan juga bawa alat pendingin freezer juga apa cukup ini,” keluhnya, Rabu (29/9/2021).

“Belum lagi kalau saya jualan ikan asin membawa karung sama dus jadi mungkin nanti numpuk sama pedagang lainnya. Bahkan terasa sesak, malah bisa senggol-senggolan,” sambung Agustin menambahkan.

Agustin yang mendapat lapak di lantai dua Pasar Johar Tengah, mengaku senang karena melihat kondisi Pasar Johar saat ini yang bagunannya bagus serta memadai, namun dirinya menyayangkan karena luasan lapak yang sangat sempit dibanding saat Pasar Johar sebelum kebakaran atau saat menempati di relokasi MAJT.

“Pasar sekarang yang memang bagus tapi harusnya kan dapatnya banyak, berapa meter gitu. Tapi sekarang kok lebih sempit. Dulu satu orang saja dapatnya bisa 8 lapak, tapi sekarang jadi kecil-kecil,” ungkapnya.

Terkait dengan akses masuk pasar, Agustin mengaku lebih mudah bagi pembeli dan pedagang ketika berjualan di relokasi MAJT dibandingkan dengan Pasar johar yang saat ini akan ditempati. Jika di relokasi MAJT pedagang dan pembeli bisa langsung turun dari kendaraan, namun di Pasar Johar harus naik ke lantai dua terlebih dahulu.

“Pengennya segera pindah yang lebih bagus di sini tapi kok di sini malah dipersempit para pedagang sebenarnya pada gak terima tapi mau gimana lagi bahkan pedagang besok hari Kamis (29/9/2021) pada mau gelar demo,” ujarnya.

Sementara itu, dari informasi petugas pasar, pedagang yang melakukan daftar ulang harus membawa KTP, FC KK, KK asli. Dan jika lapak tersebut dilimpahkan dari orang lain, maka harus ada surat pelimpahan serta harus ada surat keterangan pelepasan dari pemilik lama.

Selain itu pedagang juga harus menunjukkan Surat Izin Pemakaian Tempat Dasaran (SIPTD) asli, dan apabila lapak itu milik orang tua yang sudah meninggal dunia maka harus ada surat keterangan wasiat waris yang diketahui oleh saudara-saudaranya.

“Dan harus bawa surat pernyataan bermaterai sesuai dengan SIPTD-nya, selain itu berita acara serah terima los, kios dan kunci,” terangnya, yang tidak mau disebutkan namanya, saat ditemui di Pasar Johar Tengah.(HS)

Share This

Sukses Tangani Covid, LEMKAPI Beri Penghargaan Kepada Bupati, Kapolres dan Dandim Kendal

Kominfo Jateng Gelar Monev Kontributor Website Jatengprov