in

Pedagang Grosir Johar Akan Ditempatkan di Pasar Ikan Rejomulyo

Bangunan Pasar Johar Selatan masih dalam penyelesaian finishing untuk menampung pedagang dari relokasi MAJT pada September ini.

 

HALO SEMARANG – Pedagang besar atau grosir yang dulu berjualan di Pasar Johar, bakal dibuatkan pasar induk sendiri. Plh Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang, Mujoko Raharjo menerangkan, pemindahan pedagang pada tahap pertama akan dilakukan pada 23 September mendatang dengan jumlah pedagang sekitar 2.600 pedagang yang sudah ditetapkan.

“Pemindahan untuk kawasan Johar Tengah, Utara, Kanjengan, Selatan, Alun-alun Johar dan Shopping Center Johar (SEJ). Enam blok ini kapasitasnya sekitar 6 ribu pedagang,” katanya, Kamis (9/9/2021).

Dari enam blok ini, kata Mujoko khusus ditempati pedagang retail atau eceran. Menurut dia melihat kondisi yang ada di lapangan tidak memungkinkan untuk bongkar muat kendaraan besar. Klasifikasi pedagang, kata dia, sudah dilakukan ketika pedagang melakukan input data di aplikasi Pandawa.

“Dalam input kemarin sebenarnya sudah terlihat mana yang grosir dan mana yang retail, nah ini akan kami pisahkan. Makanya kami minta pedagang untuk jujur,” jelasnya.

Ia mencontohkan, pedagang berskala besar, ini biasanya memiliki lebih dari dua lapak, dan masuk dalam kategori grosir. Rencananya akan dibuatkan pasar induk sendiri untuk pedagang kategori besar. Sehingga dalam penataan serta penempatan pedagang di Kawasan Johar Baru, Disdag memberikan kebijakan satu pedagang satu lapak saja.

“Sesuai Perwal kan hanya untuk eceran, sedangkan grosir nanti akan ditempatkan di pasar induk. Nah pilihannya mau turun ke retail atau eceran atau tetap grosir. Kalau memaksa di Johar tidak bisa, tidak memungkinkan tempatnya,” ungkapnya.

Pemindahan pedagang grosir nantinya akan ditempatkan di Pasar Rejomulyo. Saat ini Disdag sudah mengajukan proposal bantuan untuk revitalisasi dan pembangunan pasar ke Pemerintah Pusat.

“Proposal kami sudah diproses, di sana juga ada sudah ada kajian untuk masuk ke Kementrian Perdagangan, Menteri Perkonomian dan PUPR,” jelasnya.

Total anggaran yang diajukan, kata dia, sekitar Rp 100 miliar untuk revitalisasi dan pembangunan fisik di Pasar Rejomulyo yang akan dijadikan pasar induk atau grosir untuk pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Johar.

Di sisi lain, adanya rencana Pemkot Semarang melalui Dinas Pergadangan yang mau menempatkan pedagang rosir di Pasar Rejomulyo atau yang lebih dikenal dengan pasar Ikan Basah dan Gereh Kobong, harus dipertimbangkan secara matang.

Zainal Petir selaku ketua advokasi dan hukum Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang menegaskan, Pemkot Semarang tidak boleh terburu-buru untuk membangun pasar grosir, yang merupakan bagian dari pasar tradisional atau pasar rakyat.

“Kalau mau bangun pasar atau revitalisasi pasar rakyat harus melibatkan dan mendengar aspirasi pedagang. Banyak Pemda membangun atau revitalisasi pasar tradisional akhirnya mangkrak, dagangan tidak laku, karena tak berkomunikasi dengan pedagang. Hal ini malah lebih sengsarakan pedagang karena tidak laku dagangannya,” kata Zainal Petir.(HS)

Share This

Ikuti Upacara Virtual Haornas Ke-38, Ini Pesan Wabup Kendal

Haornas 2021, Jateng Fokuskan Prestasi dan Kesejahteraan Atlet