Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Pedagang Eks-Jalan Barito di Relokasi MAJT Mengeluhkan Sepi Pembeli

Salah satu kios milik pedagang eks-Barito di kawasan Relokasi MAJT tampak sepi dan akhirnya ditutup.

HALO SEMARANG – Ratusan pedagang eks-Jalan Barito yang sejak dipindahkan di tempat relokasi kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) akibat terdampak pembangunan normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT), mengaku masih sepi pembeli. Perputaran ekonomi di tempat relokasi tersebut masih jauh dari sebutan stabil.

Ketua Paguyuban Pedagang Barito “Karya Mandiri” Blok A-H, Rohmad Yulianto mengatakan, hingga September 2019 ini kondisi pedagang di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) belum stabil. “Kalau dibandingkan dengan tempat lama, perbandingannya masih 40 persen. Pedagang sendiri masih kesulitan untuk memajukan usaha karena kondisinya masih sepi,” ujarnya Jumat (13/9/2019).

Dikatakan, bahkan banyak kios tidak ditempati pemiliknya. Dari jumlah total 455 kios, ada kurang lebih 50-60 kios yang tidak ditempati.

“Saya kurang tahu apakah mereka mencari tempat lain atau bagaimana. Ada kurang lebih 50-60 kios yang hingga sekarang belum ditempati. Kondisinya memang belum stabil,” imbuhnya.

Dia sendiri merasakan adanya penurunan omzet harian secara drastis dibanding di tempat lama. “Rata-rata menurun 60 persen. Misalnya di tempat lama rata-rata dalam sehari bisa masuk omzet Rp 1 juta, di sini hanya Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Bahkan kadang-kadang ‘blong’, tidak ada satupun pembeli. Saat sepi pembeli, bahkan tidak dapat uang. Ini menjadi masalah bagi kami,” katanya.

Dampaknya, lanjut dia, pedagang tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Apalagi saat pembangunan kios dilakukan menggunakan dana mandiri dengan difasilitasi koperasi. Nah, untuk membayar cicilan ini saja banyak pedagang yang keteteran, banyak yang terlambat bayar. Padahal cicilannya hanya Rp 366 ribu dalam kurun waktu dua tahun. Kebijakan-kebijakan paguyuban seperti iuran bulanan juga tidak bisa bayar, karena kondisinya memang sepi,” katanya.

Menurut dia, keberadaan relokasi pedagang Barito di kawasan MAJT ini belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Karena belum banyak masyarakat yang tahu, lanjut dia, tentu saja mempengaruhi jumlah pelanggan yang datang.

“Mengenai fasilitas jalan, drainase dan listrik memang telah dipenuhi oleh Pemkot Semarang. Namun untuk fasilitas umum seperti kebutuhan air dan penerangan jalan hingga sekarang belum masuk,” paparnya.

Selain permasalahan itu, belum lama ini pihaknya juga ditemui oleh perwakilan paguyuban pedagang Barito dari Rejosari dan Bugangan yang baru-baru ini dibongkar paksa oleh Satpol PP.

“Pedagang Rejosari dan Bugangan ingin bergabung dengan paguyuban pedagang Karya Mandiri. Saya menyatakan tidak ada masalah. Kalau mau gabung dipersilakan. Pelan-pelan kami coba untuk membicarakan kebijakan bersama,” katanya.

Dia juga meminta agar Pemkot Semarang segera memenuhi kelengkapan infrastruktur jalan, saluran, untuk tempat pedagang Rejosari dan Bugangan.

“Karena hingga sekarang sama sekali belum direalisasikan. Minggu depan, kami menargetkan sudah memiliki draf yang akan kami ajukan ke Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Disperkim agar beberapa fasilitas yang diperlukan bisa dipenuhi. Akses jalan itu kalau tidak dibenahi akan semakin membuat pedagang terpuruk,” katanya.

Mengenai ketersediaan jumlah kios, menurutnya tidak ada masalah. “Kami juga telah bersepakat dengan Dinas Perdagangan agar teman-teman dari Bugangan dan Rejosari ini diprioritaskan. Malah nanti ditempatkan di bagian depan. Kurang lebih ada 99 kios, sekarang sedang dibuat. Saya kira cukup. Kios ini dibuatkan oleh pemerintah,” ungkapnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang