Patung Pahlawan Piere Tendean Dibangun di Taman Kota Semarang

Monumen patung pahlawan Piere Tendean berdiri megah di Taman Piere Tendean didepan Mal Paragon Semarang.

 

HALO SEMARANG – Selain monumen patung Proklamator Ir Soekarno bersama Mohammad Hatta dan Patung Jenderal Ahmad Yani yang dibangun di taman Kalibanteng, di Kota Semarang juga diabadikan sebuah patung pahlawan revolusi Indonesia, yakni Kapten Piere Tendean.

Monumen patung pahlawan ini berada di taman Piere Tendean, di persimpangan Jalan Piere Tendean dan Jalan Pemuda Semarang, yang diresmikan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Sabtu (10/4/2021) malam.

Pemilihan monumen Piere Tendean, selain simbol atau penanda taman yang berada di Jalan Piere Tendean, sosok ini juga memiliki sejarah di Kota Semarang.

“Ada sejarahnya pahlawan Piere Tendean di Kota Semarang. Yaitu saat Piere Tendean melanjutkan SMP dan SMA di Kota Semarang, mengikuti ayahnya yang bertugas di Kota Semarang,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, usai meresmikan taman Piere Tendean.

Diharapkan, dengan adanya monumen patung Piere Tendean di taman ini, menambah icon baru di Kota Semarang.

Patung setinggi sekitar 8 meter tersebut akan menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang.

Selain itu, pengunjung pun bisa menikmati fasilitas yang disediakan di taman ini, seperti parkir sepeda, tempat duduk dilengkapi dengan charger station, toilet umum, dan fasilitas pendukung lainnya.

Dari catatan sejarah, Piere Tendean terlahir dari pasangan dokter AL Tendean berdarah Minahasa, dan Maria Elizabeth Cornet, seorang wanita Belanda yang berdarah Prancis.

Piere Tendean, lahir pada 21 Februari 1939 di Batavia (kini Jakarta), Hindia Belanda.

Sedangkan, karier Tendean, sebagai Prajurit TNI, merupakan Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution. Sebelumnya, setelah lulus dari Akademi Militer pada tahun 1961 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan.

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan gerakan 30 September (G30S) mendatangi rumah dinas Jenderal Nasution dengan tujuan untuk menculiknya.

Piere Tendean saat itu berada di samping rumah dinas Nasution, kemudian ditangkap dan dikira sebagai Nasution. Sedangkan Nasution berhasil melarikan diri dengan melompati pagar.

Tendean lalu dibunuh, dan jasadnya dibawa ke sebuah lubang buaya bersama enam jenderal yang diculik dalam upaya kudeta ini.

Setelah pemberontakan berhasil digagalkan, jasad Piere Tendean bersama keenam perwira lainnya kemudian diangkat kembali dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.