Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Patung Jenderal Ahmad Yani di Bandara Semarang, Bentuk Penghormatan Sebagai Pahlawan Nasional asal Jawa Tengah

Patung Jenderal Ahmad Yani terlihat berdiri gagah yang berada di pintu masuk pintu gerbang Bandara Ahmad Yani Semarang memiliki tinggi 12 meter dan terbuat dari perunggu.

 

 

PATUNG Jenderal Ahmad Yani yang baru diresmikan oleh Angkasa Pura I, terlihat gagah dan berkharisma berada tepat di pintu gerbang bandara Ahmad Yani Semarang. Patung salah satu Pahlawan Revolusi ini menjadi ikon baru di Kota Semarang. Bagaimana tidak, patung yang memiliki tinggi 12 meter tersebut, dibuat khusus dari perunggu. Pembangunan Patung Jenderal Ahmad Yani sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan yang berasal dari Purworejo, Jawa Tengah.

Jenderal Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo pada 19 Juni 1922. Dan meninggal pada usia 43 tahun di Jakarta pada 1 Oktober 1965. Ahmad Yani diangkat menjadi salah satu Pahlawan Nasional, dengan bergelar Anumerta dari sepuluh perwira yang gugur dalam peristiwa G 30 September.

Selain dijadikan nama sebuah Bandara di Semarang, nama Ahmad Yani juga banyak dipakai untuk nama jalan di beberapa kota besar di Indonesia.

Dalam karier kemiliteran, sosok Jenderal Ahmad Yani terbilang menonjol selama periode mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melakukan serangan gerilya pada awal 1949 di wilayah Magelang.

Serangan ini berguna untuk mengalihkan perhatian Belanda agar mereka lengah. Selagi mereka lengah, Letnan Kolonel Soeharto mempersiapkan pasukannya untuk Serangan Umum 1 Maret yang mengarah langsung ke Yogyakarta. Peperangan terus berlangsung hingga Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Setelah perang mempertahankan Indonesia selesai, Ahmad Yani pindah ke Tegal, Jawa Tengah. Dirinya beraksi lagi pada tahun 1952 ketika dia dipercaya untuk menghadapi Darul Islam. Darul Islam adalah pemberontak yang mencoba untuk mendirikan sistem pemerintahan teokrasi di Indonesia.

Yani membentuk satuan pasukan khusus yang bernama The Banteng Raiders. Banteng Raiders menghajar Darul Islam selama 3 tahun ke depan dan terus perang melawan Darul Islam selesai pada tahun 1955.

Setelah menyelesaikan kasus Darul Islam, Yani berangkat ke Amerika Serikat pada Desember 1955. Dia harus belajar ilmu Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenworth di Kansas. Yani baru kembali pada tahun 1956 dan dia dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta. Di Markas Besar ini, Yani menjadi anggota staf umum untuk Abdul Haris Nasution. Selain itu juga menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk urusan Organisasi dan Kepegawaian.

Yani sangat gigih mempertahankan keutuhan negara yang baru lahir ini. Mulai dari ancaman dari luar maupun dalam negeri. Pada Agustus tahun 1958, dia meluncurkan Operasi 17 Agustus untuk menyelesaikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang memberontak di Sumatra Barat. Pasukan Yani berhasil menguasai kembali Bukittinggi dan Padang. Setelah misi berhasil, jabatannya diangkat  pada tanggal 1 September 1962 dan dia diangkat menjadi wakil kepala Angkatan Darat ke-2. Baru pada tanggal 23 Juni 1962, Yani diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat menggantikan Jenderal Nasution. Saat dilantik, Ahmad Yani berada di puncak kariernya di usia 40 tahun.

Sayangnya kiprah Ahmad Yani di dunia militer akhirnya terhenti dengan adanya kasus G 30 September. Pahlawan yang namanya juga dipakai untuk nama salah satu kampus di Yogyakarta itu dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September saat mencoba untuk menculik dia dari rumahnya pada tahun 1965.

Untuk menghormati jasa Pahlawan Revolusi itu, Angkasa Pura I membangun patung yang menjulang tinggi di pintu masuk Bandara Ahmad Yani, Semarang.
Patung pahlawan asal Jawa Tengah itu diresmikan Senin (20/10/2019). Dalam peresmian tersebut dihadiri oleh Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, dan Direktur Pemasaran dan Pelayanan Angkasa Pura I,  Devy Suradji, serta Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin.

Pada kesempatan yang sama, diresmikan pula Grha Jenderal Bandara Ahmad Yani Semarang, yang meliputi Gedung Administrasi Kantor Cabang Angkasa Pura I Bandara Jenderal Ahmad Yani, Gedung Terpadu, dan Gedung Serba Guna untuk menunjang aktivitas operasional dan bisnis perusahaan.

“Grha Jenderal Ahmad Yani Semarang yang termasuk dalam Pekerjan Paket 4 Proyek Pembangunan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, diharapkan dapat menunjang operasional dan peningkatan pendapatan bisnis perusahaan di masa mendatang,” kata Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi, di sela-sela acara peresmian Grha dan Patung Jenderal Ahmad Yani.

Gedung Administrasi Perkantoran, lanjut dia, dibangun dengan luas 3.218 meter persegi, dua kali lipat besarnya dibandingkan dengan gedung perkantoran lama yang hanya seluas 1.500 meter persegi. Dengan desain bangunan yang modern dan didukung fasilitas yang nyaman, gedung ini memiliki area parkir yang dapat menampung hingga 136 kendaraan bermotor.

“Sedangkan Gedung Terpadu memiliki luas hampir 3 ribu meter persegi yang dapat digunakan oleh mitra kerja, mitra usaha, dan pengguna jasa Angkasa Pura I. Pembuatan pas bandara, ruang pelatihan, layanan poliklinik, ruang arsip, rapat besar, dan lainnya bisa dilakukan di gedung ini. Gedung ini dilengkapi dengan area parkir yang dapat menampung sekitar 176 kendaraan bermotor,” katanya.

Sementara Gedung Serba Guna berkapasitas hingga seribu orang dengan luas mencapai 2.368 meter persegi. Gedung ini dapat disewa oleh publik untuk keperluan pertemuan, perkawinan, dan lainnya. Area parkir gedung ini dapat menampung hampir 400 kendaraan roda dua dan roda empat.

“Kami berharap berbagai fasilitas yang kami hadirkan di sini dapat menambah nilai pelayanan bagi mitra kerja, mitra usaha, dan pengguna jasa Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang,” tambah Faik Fahmi.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang