in

Pati Masuk Program Kampung Perikanan Budi Daya Tingkat Nasional

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Safin), saat mengikuti secara virtual, pengarahan Menteri Kelautan dan Perikanan, dari Ruang Joyokusumo Kantor Setda Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu. (Foto : Patikab.go.id)

 

HALO PATI – Pati menjadi salah satu di antara 12 kabupaten dan kota se-Indonesia, yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk masuk dalan Program Pengembangan Kampung Perikanan Budidaya Tingkat Nasional.

Untuk Kabupaten Pati, yang diikutsertakan dalam program ini adalah Kampung Nila Salin di Kecamatan Tayu tepatnya di Desa Margomulyo, Jepat Kidul, Tunggulsari, Jepat Lor, Keboromo, Sambiroto, Dororejo, dan Kalikalong.

Selain itu, kampung Nila Salin ini juga punya kawasan pendukung yang berada di Kecamatan Margoyoso dan Dukuhseti.

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Safin), mengatakan kabar itu dia peroleh, saat mengikuti secara virtual, pengarahan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dari Ruang Joyokusumo Kantor Setda Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu.

Kabupaten dan Kota se-Indonesia, yang daerahnya masuk program pengembangan Kampung Perikanan Budidaya Tingkat Nasional ini, juga turut hadir secara virtual dalam kegiatan tersebut.

Menurut Safin, untuk bisa tembus di jajaran 12 kabupaten dan kota yang terpilih dalam program ini, Kabupaten Pati telah memenuhi sejumlah persyaratan teknis, di antaranya memiliki komoditas unggulan yang bernilai ekonomis tinggi, lokasi kampung strategis dilihat dari sistem transportasinya, akses bahan bakunya, serta pengolahan dan pemasarannya.

“Selain itu juga harus terdapat unit produksi, pengolahan, pemasaran dan jaringan usaha yang aktif berproduksi dan terkonsentrasi di suatu lokasi yang terintegrasi hulu hilir,” tambah Safin.

Syarat lainnya, imbuh Wabup, kampung perikanan tersebut harus dikelola oleh masyarakat atau badan usaha yang kompeten dan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan usaha Budidaya. Menurut Safin, potensi luasan lahan Kampung Nila Salin sebesar 1.187,17 hektare dengan luas eksisting 818 hektare.

Adapun nilai produksinya, lanjut Wabup, mencapai Rp 79.980.797.000, – dengan produksi benih mencapai 48.803.000,00. “Sedangkan luas areal perbenihannya mencapai 2,6 Ha deng jumlah pembudidaya sebanyak 11.586 orang,” jelasnya.

Meski di sana telah ada Forum Komunikasi pembudidaya nila salin “Mulyo”, rupanya Pemkab Pati tetap melakukan sejumlah pendampingan maupun intervensi. Intervensi tersebut diwujudkan dengan dikeluarkannya SK Bupati Tahun 2020 tentang Penetapan Kecamatan Tayu sebagai Kawasan Nila Salin.

“Bahkan kami juga sudah punya Masterplan Kawasan Nila Salin Tahun 2019 dan DED Kawasan Nila Salin Tahun 2020”, ungkap Wabup. Selain itu, lanjut Safin, Pemkab juga kerap menggelar pelatihan pembudidaya ikan, yang memberi pelatihan soal teknologi pembenihan dan pembesaran ikan. “Dan ada juga pembinaan kelembagaan kelompok pembudidaya ikan”, tambah Safin.

Saat ditanya kesiapan Pemkab Pati dalam menyukseskan program ini, Wabup mengatakan bahwa secara administratif dan teknis, Kabupaten Pati siap.

“Tambah percaya diri sebab kita juga telah  didukung dengan telah tersedianya masterplan, DED dan SK penetapan Bupati terkait kawasan Nila Salin berkelanjutan,” imbuhnya.

Namun diakui Safin, untuk mewujudkan kampung yang sesuai dengan harapan Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut, tentu diperlukan komitmen pula dari Direktorat Produksi dan Usaha, Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan, Direktorat Perbenihan, Direktorat Pakan dan Obat Ikan, Dinas KP Provinsi Jawa Tengah, dan BBPBAP Jepara, yang semuanya telah tergabung dalam kelompok kerja Kampung Perikanan Budidaya, bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. (HS-08)

Share This

Klaim Cocok Hadapi Blachowicz

Sosialisasi Bankeu Desa, Bupati Karanganyar Berharap Perputaran Ekonomi Makin Cepat