in

Paska Penutupan, Resos Argorejo Akan Dikembangkan jadi Kampung Tematik Wisata Religi

Petilasan Soen Ang Ing yang berada di dekat komplek Resos Argorejo Semarang akan dikembangkan jadi kampung tematik, khususnya wisata religi oleh Pemkot Semarang.

HALO SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang, berencana mengembangkan Resos Argorejo atau dikenal Lokalisasi Sunan Kuning (SK) sebagai lokasi kampung tematik, khususnya untuk wisata religi. Hal itu sebagai upaya menjaga roda ekonomi wilayah sekitar paska penutupan Resos Argorejo atau dikenal Lokalisasi Sunan Kuning (SK) pada 15 Agustus 2019 itu.

Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Semarang,  Hevearita Gunaryanti Rahayu, saat menghadiri rapat koordinasi Kementrian Sosial (Kemensos) kepada Tim Pelaksana Penataan Lokalisasi Argorejo dan Rowosari Atas (Gambilangu) di ruang loka krida lantai 8, Gedung Moch Ikhsan, Komplek Balai Kota, Semarang, Selasa (6/8/2019).

Mbak Ita sapaan akrab Wakil Wali Kota mengatakan, dipilihnya pengembangan wisata religi, karena di lokasi tersebut ada petilasan makam Soen Ang Ing. Sosok itu dipercaya merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah sekitar pada masa lampau. Dan saat ini oleh Pemkot Semarang sedang membuat master plan atau Design Engeenering Detail (DED) untuk pengembangan kampung tematik di wilayah tersebut.

“Apalagi banyak orang yang menginginkan di tempat itu dijadikan wisata religi, dan sampai sekarang masih banyak musafir yang berkunjung ke petilasan makam tokoh tersebut. Lokasinya memang tak jauh dari lokalisasi Sunan Kuning saat ini,” imbuhnya.

Sebelumnya, ada beberapa wacana untuk pengembangan kawasan setelah dilakukan penutupan lokalisasi Sunan Kuning. Di antaranya untuk sentra kuliner dan pusat hiburan karaoke. Namun akhirnya pemkot akan mengembangkan kawasan itu sebagai daerah wisata religi.

Sementara terkait tali asih para warga penghuni resos, pemkot sudah menghitung, tiap warga binaan akan memperoleh uang sebesar Rp 6 juta/orang. Dari data yang ada total 516 orang yang akan menerima dana tersebut. Tali asih berasal dari anggaran kementrian sosial dan dinas sosial pemkot.

“Pemkot menginginkan menata komplek itu agar lebih bagus dan menarik. Sehingga paska penutupan resos ini diharapkan bisa mengembangkan wilayah ini secara bersama-sama menjadi salah satu lokasi wisata religi,” terangnya.

Sementara, Kasubdit Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial (RSTS) dan ODHA Kemensos, Tri Sukreni mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan maraknya prostitusi, yaitu kemiskinan, kebodohan, dan moralitas keimanan.

Diterangkannya, selama tahun 2018 lalu, sudah ada 108 lokalisasi di beberapa daerah di Indonesia yang sudah ditutup oleh kementerian. Target berikutnya memang resosialisasi Argorejo dan Gambilangu di Semarang.(HS)

Mbah Maimoen di Mata Ganjar: Beliau Kiai Nasionalis yang Rendah Hati dan Penyayang

Grab Klaim Sumbang Rp 48,9 Triliun Bagi Perekonomian Negara