in

Paska-Banjir di Semarang, Tiga Mobil Belum Bisa Dievakuasi dan Empat Rumah Warga Kondisinya Rusak Berat

Kondisi Banjir bandang yang melanda di Perumahan Wahyu Utomo, Kelurahan Tambakaji, menyebabkan enam mobil dan tiga sepeda motor milik warga terseret derasnya arus banjir, Minggu (6/11/2022).

HALO SEMARANG – Penanganan paska-banjir bandang yang melanda di wilayah Kecamatan Tugu dan Ngaliyan, Kota Semarang yang terjadi pada Minggu (6/11/2022) petang, terus dilakukan oleh Pemkot Semarang. Target sasaran ratusan personel gabungan baik dari jajaran TNI, Polri, dan Pemkot serta instansi terkait hingga saat ini masih terkonsentrasi untuk membantu pembersihan lumpur yang menutupi akses jalan permukiman dan rumah warga yang terdampak banjir.
Seperti yang dilakukan di salah satu titik lokasi banjir yakni di Perumahan Wahyu Utomo, Kelurahan Tambakaji. Hingga Rabu (9/11/2022) sore, nampak warga masih bergotong-royong bersama sukarelawan membersihkan sisa lumpur di dalam rumah dan jalan perumahan.

Camat Ngaliyan, Muljanto mengatakan, ada dua kelurahan di wilayah Ngaliyan yang dilanda banjir pada Minggu (6/11/2022) petang, yaitu Kelurahan Wonosari dan Kelurahan Tambakaji. Di Wonosari, lokasi banjir di RW 2 dan berlangsung selama satu setengah jam, kemudian air langsung surut. Warga kemudian melakukan kerjabakti pembersihan lumpur hingga Senin (7/11/2022). “Pembersihan lumpur dengan dibantu dari petugas pemadam kebakaran akibat dari luapan kali Plumbon,” terangnya, saat dihubungi Halosemarang.id, Rabu (9/11/2022).

Titik banjir juga terdapat di SD N 1 Wonosari, saat ini sudah surut dan juga sudah selesai dibersihkan dari lumpurnya. “Warga sekitar juga telah diberikan obat-obatan gratis dari pihak puskesmas yang membuka posko kesehatan di lokasi banjir,” imbuhnya.

Sedangkan khusus di Perumahan Wahyu Utomo, banjir melanda cukup parah. Sebab ada enam mobil dan tiga motor yang terseret ke sungai karena derasnya arus banjir.

“Kendaraan hanyut dan tersangkut di sungai, posisinya sekarang sudah dinaikkan, namun masih ada tiga mobil yang belum bisa dievakuasi karena harus masuk ke jalan tol. Kita koordinasikan dengan pihak Jasa Marga untuk lakukan evakuasi mobil yang ada di badan jalan, karena mobil derek untuk mengangkat mobil harus masuk dari jalan tol,”katanya.

Dari pendataan sementara dari pihak kecamatan, lanjut dia, selain kendaraan yang hanyut, ada 95 rumah warga terdampak banjir di Perumahan Wahyu Utomo. “Sebagian besar kemasukan air juga lumpur, sehingga membuat perabotan dan barang elektronik terendam air dan rumah rusak. Kondisinya 4 rumah rusak berat dan 3 rusak ringan imbas diterjang banjir,” paparnya.

Tim gabungan dan termasuk petugas DPU hingga hari ketiga Rabu (9/11/2022) melakukan pembersihan paskabanjir sudah 80 persen selesai. “Tinggal mengambil sampah yang masih tertinggal dari sisa banjir. Dan ditargetkan besok Kamis (10/11/2022) pembersihan lumpur rampung,” katanya.

Posko Kesehatan

Selanjutnya, di lokasi tersebut juga telah dibuka posko kesehatan warga, dari puskesmas Tambakaji dan Dinkes, untuk memberikan pengobatan, serta pemberian logistik makanan. “Untuk dapur umum telah berjalan sejak Minggu direncanakan dibuka sampai hari Kamis (11/11/2022),” terangnya.

Selain itu, pihaknya memberikan fasilitas jasa cuci gratis untuk warga yang terkena banjir. “Baju yang kotor terendam lumpur, akibat banjir. Kami berikan bantuan untuk laundry pakaian, sampai hari ini sudah terkumpul seberat 110 kilogram. Kami kumpulkan dari warga dan anggaran laundry nantinya dari Pemkot Semarang,” katanya.

Dikatakan dia, penyebab baniir di wilayahnya sementara ini karena curah hujan yang tinggi. Hal ini berdasarkan penjelasan dari BMKG bahwa jika saat banjir itu, kondisi hujan di Ngaliyan dan sekitarnya terpantau ekstrem.

“Sehingga durasi beberapa jam, air dari atas deras membawa sampah hingga menutup aliran anak sungai Beringin. Dan air melimpas masuk ke permukiman warga. Karena tidak kuat menahan debit air yang tinggi, sehingga menyebabkan tanggul pembatas rumah warga dan sungai roboh,” ungkapnya.

“Sedangkan untuk jumlah kerugian material warga terdampak banjir belum mendapatkan laporan yang lengkap dari BPBD. Namun sebagian besar barang elektronik warga dan rumah rusak,” ujarnya.

Harapan dari warga, katanya, segera mungkin tanggul yang menjadi pembatas permukiman dengan sungai dibangun kembali. “Warga minta tanggul di sini juga ditinggikan, serta pengerukan sedimentasi sungai yang mulai dangkal, agar kapasitas daya tampung sungai lebih besar saat hujan deras,” pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Wahyu “Liluk” Winarto juga mengimbau warga untuk selalu waspada saat musim hujan. “Saya kira dalam penanggulangan musim hujan kita punya pengalaman buruk terkena banjir besar. Sehingga perlu adanya kerja sama yang baik antara pemkot dan warga, guna menjaga kebersihan dan proyek pemerintah berupa normalisasi sungai, bendungan, dan kesiagaan pompa air,” kata Liluk, sapaan akrabnya.

Selain itu, Pemkot Semarang harus melihat bangunan yang menghalangi saluran atau drainase dan mengakibatkan penyumbatan. “Kalau ada penutupan saluran oleh bangunan, perlu dibongkar. Kan bangunan di saluran memang melanggar aturan jangan sampai masyarakat terkena imbasnya,” tegasnya.(HS)

Isu Resesi Global, Bupati Kendal: Ada Pandemi Saja Investasi Cenderung Meningkat

Talas Disulap Jadi Pengganti Tembakau dan Dieskpor ke Australia, Ganjar: Dari Desa Bisa Mendunia