in

Pasar Peterongan dan Cerita Pohon Asam Tuanya

Pohon asam tua yang kini jadi tetenger Pasar Peterongan, Semarang.

SEBAGAI kota yang banyak dilewati peradaban, Kota Semarang memiliki beberapa peninggalan pada masa penjajahan maupun pada masa kerajaan yang sudah berusia ratusan tahun. Peninggalan tersebut tersebar di beberapa wilayah. Salah satunya ditemukan di Pasar Peterongan yang merupakan salah satu pasar tersohor di Kota Semarang.

Pasar yang terletak di Jalan MT Haryono, Kota Semarang ini, tidak hanya menjadi lokasi jual beli, namun juga memiliki nilai sejarah dan sarat akan cerita mistis.

Dulu pernah ditemukan sebuah punden di pasar ini dengan nama Punden Mbah Gosang. Punden merupakan sesuatu yang dianggap sakral bagi masyarakat setempat. Punden tersebut berbentuk sebuah bangunan permanen yang berdiri kokoh di tengah pasar.

Pumdeen pun hingga kini masih terawat dan kerap jadi lokasi ziarah para pencari berkah.

Selain ditemukan sebuah punden, di Pasar Peterongan juga tumbuh sebuah pohon asam yang memiliki nilai historis tinggi. Pohon itu tumbuh dengan sebuah keunikan, yakni buahnya tidak memiliki biji selayaknya pohon asam yang lain.

Bahkan banyak yang percaya, bahwa pohon asam ini sudah berumur ratusan tahun dan menjadi salah satu saksi hidup perkembangan Kota Semarang.

Banyak cerita yang beredar terkait mitos pohon ini, salah satunya tak ada yang berani menebang pohon tersebut karena takut terjadi apa-apa pada diri atau keluarganya.

Masyarakat pun meyakini bahwa pohon tersebut memiliki unsur keramat dan warga sekitar tidak ada yang berani mengusik dan selalu merawat pohon tersebut. Bahkan saat dilaksanakan revitalisasi pasar beberapa tahun lalu, pohon tersebut tetap dibiarkan tumbuh dan malah menjadi tetenger pasar.

“Banyak yang percaya, dulu lokasi ini merupakan tempat singgah Mbah Gosang, salah satu tokoh yang dihormati saat itu. Konon di tempat ini beliau pernah menyembuhkan banyak orang sakit. Tapi siapa beliau dan bagaimana kisah aslinya kami tidak tahu,” kata Widodo (55), salah satu pedagang yang ditemui di Pasar Peterongan.

Menurut Widodo, Punden Mbah Gosang selama ini menjadi lokasi ziarah masyarakat dan dipercaya sebagai tempat keramat. Warga percaya, jika berziarah di lokasi itu akan diberikan kelancaran usaha dan dikabulkan permintaannya.

Terlepas dari cerita mistisnya, bangunan Pasar Peterongan memang memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi perkembangan kota. Bahkan saat dilaksanakan revitalisasi bangunan pasar oleh Pemkot Semarang beberapa tahun lalu, bangunan pasar lama dibiarkan utuh sesuai desain awalnya. Pemkot pun tak berani mengubah desain bangunan karena Pasar Peterongan sudah masuk dalam salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang.

Sekretaris Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Yunantyo Adi S di Semarang, beberapa waktu lalu mengatakan, bangunan kuno Pasar Peterongan Semarang merupakan bangunan pasar asli yang dibangun pada 1916, dengan struktur beton dan hampir menyatu dengan Punden Mbah Gosang dan pohon asam berusia ratusan tahun.

Tahun 2015 lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah juga menyatakan Pasar Peterongan adalah salah satu bangunan cagar budaya.

Hal itu dipastikan setelah tim dari BPCB Jateng melakukan kajian terhadap bangunan itu beberapa bulan terakhir.

“Ada dua pertimbangan mempertahankan keberadaan pohon asem di lokasi tersebut saat dilaksanakan revitalisasi pasar, yakni sisi kecagarbudayaan dan lingkungan. Dari sisi lingkungan, dipertahankan sebagai penghijauan karena tak mengganggu bangunan pasar. Jadi bukan dipertahankan karena sering dibuat untuk ritual atau ziarah,” kata Yunantyo Adi.(HS)

Menjamu Barito, Rio Saputro dan Safrudin Tahar Diragukan Bisa Tampil

Ancaman Kelelahan Hantui Skuad PSIS